
J5NEWSROOM.COM, Natuna – Tujuh doktor yang merupakan putra asli Natuna membentuk lembaga kajian bernama Archipelago Natuna Research Center (ANRC). Lembaga riset ini diarahkan untuk memperkuat pembangunan Natuna melalui penelitian, kajian kebijakan, dan rekomendasi berbasis data.
ANRC kini hadir sebagai lembaga yang secara hukum telah mengantongi Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0000211.AH.01.07.Tahun 2026.
Para pendiri ANRC adalah:
- Dr. H. Umar Natuna, M.Pd.I.
- Dr. H. Amirudin, MPA
- Dr. H. Syahidun, MM
- Dr. H. Tirtayasa, MA
- Dr. Asmara Juana, M.Si.
- Dr. H. Kamaruddin, MM
- Dr. Syahidin, MA
Salah seorang pendiri ANRC, Dr. H. Amirudin, mengatakan lembaga ini tidak sekadar didirikan sebagai lembaga kajian, melainkan lahir dari kesadaran bahwa berbagai persoalan Natuna membutuhkan penelitian yang serius, berbasis data, dan dilihat dari berbagai disiplin ilmu.
“ANRC ini didirikan bukan sekadar sebagai lembaga kajian, melainkan lahir dari kesadaran bahwa berbagai persoalan Natuna membutuhkan penelitian yang serius, berbasis data, dan dilihat dari berbagai disiplin ilmu,” kata Amirudin di tempat kerjanya, Minggu (27/9/2026), melalui sambungan telepon.
Sebagai daerah kepulauan dan perbatasan dengan posisi strategis, Natuna menghadapi persoalan yang saling berkaitan, mulai dari pembangunan ekonomi, pendidikan, kemaritiman, kesejahteraan masyarakat, tata kelola pemerintahan, lingkungan, sumber daya alam, sosial-kebudayaan, hingga hubungan pusat dan daerah. Karena itu, ANRC memosisikan diri sebagai knowledge partner yang mempertemukan ilmu pengetahuan, data empiris, dan kebutuhan pembangunan.
Hasil kajian ANRC nantinya dapat dikembangkan dalam bentuk research report, policy paper, policy brief, rekomendasi kebijakan, kajian akademik, serta forum ilmiah dan diskusi publik.
Migas Hanya Salah Satu Bidang Kajian
ANRC menegaskan tidak didirikan khusus untuk menangani persoalan minyak dan gas (migas). Migas memang menjadi salah satu isu strategis Natuna yang dapat menjadi objek penelitian, namun bidang kajian ANRC jauh lebih luas, meliputi pembangunan perbatasan, kebijakan publik, pendidikan, ekonomi, kemaritiman dan ekonomi biru, sosial-kebudayaan, Islam dan Tamaddun Melayu, geopolitik, lingkungan, sumber daya alam, desentralisasi fiskal, hubungan pusat-daerah, serta berbagai persoalan strategis lainnya. Dengan demikian, migas hanya salah satu tema penelitian ANRC, bukan identitas maupun satu-satunya agenda lembaga.
Independen dan Terbuka
ANRC berkomitmen menjaga independensi akademik dalam menentukan agenda penelitian, mengolah data, melakukan analisis, dan menyampaikan hasil kajian. Pada saat yang sama, lembaga ini terbuka membangun kolaborasi dengan pemerintah, DPRD, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
ANRC juga membuka ruang bagi akademisi, peneliti, profesional, praktisi, generasi muda, serta putra-putri Natuna di berbagai daerah dan negara untuk berkontribusi sesuai kompetensi masing-masing.
Membangun Ekosistem Pengetahuan Natuna
ANRC menyatakan kehadirannya bukan untuk mengambil ruang siapa pun, melainkan untuk menambah ruang bagi penelitian, pengetahuan, dialog, dan gagasan mengenai masa depan Natuna.
Bagi ANRC, pembangunan daerah membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya dan anggaran, tetapi juga data yang kuat, penelitian yang independen, analisis yang mendalam, dan kebijakan yang berbasis bukti. Dari Natuna, ANRC ingin ikut membangun tradisi tersebut, dari Natuna untuk Natuna, melalui ilmu pengetahuan, integritas riset, dan kerja bersama.
Editor: Agung
