
J5NEWSROOM.COM – Ada tempat yang indah karena alamnya. Ada pula tempat yang menjadi penting karena sejarah yang pernah berlangsung di dalamnya. Pulau Penyengat adalah keduanya.
Di pulau kecil itu, sejarah Melayu tidak hanya meninggalkan bangunan dan situs peninggalan, tetapi juga meninggalkan jejak intelektual yang jauh melampaui batas geografis Kepulauan Riau (Kepri).
Dari Penyengat lahir tradisi keilmuan, kesusastraan dan pemikiran Melayu yang jejaknya masih terasa hingga kini. Salah satu warisan terbesarnya adalah ‘Gurindam Dua Belas’ karya Raja Ali Haji, sebuah karya sastra yang menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual Melayu dan perkembangan bahasa di Nusantara.
Karena itu, ketika Gubernur Provinsi Kepri Ansar Ahmad bersilaturahmi dengan jajaran PWI Kepri di Graha PWI Kepri, Batam, Sabtu, 3 Oktober 2026, pembicaraan mengenai Pulau Penyengat, menjadi jauh lebih besar daripada sekadar membicarakan destinasi wisata.
Pertemuan tersebut membuka ruang untuk membicarakan bagaimana sejarah, kebudayaan, bahasa, sastra dan kehidupan masyarakat Penyengat dapat kembali ditulis, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada dunia.
J5NEWSROOM.COM menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan Gubernur Kepri Ansar Ahmad ke Graha PWI Kepri. Bagi J5NEWSROOM.COM, pertemuan tersebut menunjukkan pentingnya hubungan yang sehat dan strategis antara pemerintah dan pers.
Pemerintah membutuhkan pers sebagai mitra dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Sebaliknya, pers membutuhkan ruang komunikasi yang terbuka dengan pemerintah agar dapat menjalankan fungsi kontrol sosial, memberikan kritik, menyampaikan masukan, sekaligus mengabarkan berbagai program pembangunan secara proporsional kepada publik.
Kemitraan strategis pemerintah dan pers pada akhirnya bukan semata-mata kepentingan kedua institusi. Yang paling utama adalah kepentingan masyarakat.
Kepri membutuhkan iklim pemerintahan yang terbuka, komunikasi publik yang sehat, kepastian kebijakan, serta ruang dialog yang memungkinkan berbagai persoalan pembangunan dibicarakan secara jernih.
Dari iklim seperti itulah kepercayaan publik tumbuh. Dan dari kepercayaan publik itulah pembangunan, termasuk penciptaan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan, dapat memperoleh fondasi yang lebih kuat.
Dalam konteks itulah, J5NEWSROOM.COM memandang silaturahmi Gubernur Ansar dengan PWI Kepri sebagai momentum untuk memperkuat kembali komunikasi antara pemerintah daerah dan insan pers.
Ansar dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan permintaan maaf atas miskomunikasi yang sebelumnya terjadi antara Pemerintah Provinsi Kepri dan PWI Kepri.
Sikap membuka ruang komunikasi semacam itu penting dipelihara. Sebab, demokrasi lokal tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga komunikasi yang baik antara pemerintah, pers dan masyarakat.
Penyengat dan Warisan yang Tidak Boleh Hilang
J5NEWSROOM.COM juga memberikan perhatian khusus terhadap gagasan eksplorasi Pulau Penyengat yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Kami berpandangan, Penyengat tidak boleh diperlakukan hanya sebagai sebuah destinasi wisata. Penyengat adalah halaman penting perjalanan sejarah kebudayaan Melayu.
Penyengat adalah ruang tempat bahasa, sastra, agama, pemerintahan, intelektualitas dan kebudayaan pernah bertemu.
Dan karena itu, merawat Penyengat tidak cukup hanya dengan memperbaiki jalan, membangun fasilitas wisata atau mempercantik kawasan. Yang jauh lebih penting adalah merawat ingatan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya kehilangan masa depannya ketika pembangunan berhenti. Sebuah bangsa juga dapat kehilangan identitas ketika sejarahnya tidak lagi dikenal oleh generasi mudanya. Di sinilah J5NEWSROOM.COM mengapresiasi perhatian Pemerintah Kepri terhadap revitalisasi Pulau Penyengat.
Program revitalisasi tersebut dalam perkembangannya tidak hanya menyentuh infrastruktur. Pemerintah Provinsi Kepri menyebut seluruh ruas jalan utama di Pulau Penyengat telah selesai direvitalisasi, sementara jalan lingkar yang menghubungkan kawasan pulau dari sisi laut masih akan dilanjutkan. Fasilitas pendukung seperti halaman Balai Adat juga telah selesai.
Pada Juni 2026, program revitalisasi Pulau Penyengat juga memperoleh Anugerah Daerah Terbaik dalam Pengembangan Ekonomi Berbasis Warisan Budaya pada Cita Loka Fest 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas upaya pengembangan Penyengat sebagai kawasan warisan budaya Melayu yang sekaligus memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.
Bagi J5NEWSROOM.COM, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir. Justru sebaliknya, penghargaan harus menjadi pengingat bahwa pekerjaan merawat Penyengat masih panjang. Revitalisasi fisik harus berjalan beriringan dengan revitalisasi pengetahuan.
Jalan yang bagus harus bertemu dengan cerita yang bagus. Situs sejarah harus bertemu dengan dokumentasi yang kuat.
Wisatawan harus pulang bukan hanya membawa foto, tetapi juga membawa pengetahuan tentang apa yang pernah terjadi di pulau itu. Dan masyarakat Penyengat harus menjadi bagian penting dari seluruh proses tersebut.
Tugu Bahasa dan Rumah Besar Bahasa Indonesia
Dalam konteks tersebut, pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional atau Tugu Bahasa di Pulau Penyengat memiliki arti strategis.
Pada 24 September 2026, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan jajaran Forkopimda melakukan peletakan batu pertama pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kepri menyebut proyek pembangunan museum dan monumen tersebut memiliki nilai sekitar Rp101 miliar dan menggunakan skema tahun jamak.
J5NEWSROOM.COM memandang pembangunan tersebut sebagai momentum untuk membawa sejarah bahasa Melayu dan perjalanan bahasa Indonesia keluar dari ruang-ruang diskusi terbatas menuju pengetahuan publik yang lebih luas.
Tugu Bahasa tidak boleh berhenti sebagai bangunan monumental. Ia harus menjadi rumah pengetahuan. Ia harus mampu menjelaskan kepada generasi muda bahwa bahasa Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan bahasa Melayu, termasuk tradisi intelektual yang tumbuh di Kepulauan Riau.
Dengan demikian, Tugu Bahasa tidak hanya menjadi ikon arsitektur Pulau Penyengat, tetapi juga ikon pengetahuan tentang perjalanan bahasa dan kebudayaan Indonesia.
Program Ekspedisi PWI Kepri 2026
Dari sinilah gagasan ‘Ekspedisi Eksplorasi Penyengat PWI Kepri 2026’ menemukan relevansinya. J5NEWSROOM.COM mendukung gagasan PWI Provinsi Kepri untuk membawa para wartawan mengeksplorasi Penyengat bukan sekadar sebagai wisatawan, tetapi sebagai jurnalis.
Para wartawan datang untuk bertanya. Menggali. Mendengar. Mencatat. Memotret. Kemudian menulis kisah sejarah perjalanan bangsa dan budaya Melayu, hingga mewariskan bahasa yang kini menjadi bahasa persatuan Indonesia.
Yang dicari bukan hanya apa yang terlihat oleh mata, tetapi apa yang tersembunyi di balik sebuah situs, sebuah makam, sebuah manuskrip, sebuah nama tempat, sebuah tradisi, sebuah cerita masyarakat, bahkan sebuah kata dalam bahasa Melayu.
Dari sana lahirlah feature. Dan dari kumpulan feature tersebut lahirlah buku. “Mahkota seorang jurnalis adalah buku.” Pernyataan Ketua PWI Kepri Saibansah Dardani tersebut bukan sekadar kalimat indah. Bagi J5NEWSROOM.COM, kalimat itu mengandung pesan penting tentang tanggung jawab profesi.
Namun, sebuah buku dapat ditemukan kembali oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika buku itu ditulis. Karena itu, buku hasil Ekspedisi Eksplorasi Penyengat PWI Kepri 2026 nantinya tidak boleh dipandang hanya sebagai dokumentasi kegiatan wartawan.
Buku itu harus menjadi dokumen zaman. Ia harus merekam Penyengat hari ini. Merekam bagaimana masyarakatnya hidup. Bagaimana situs-situs sejarahnya dirawat. Bagaimana pariwisatanya berkembang. Bagaimana pemerintah membangun. Bagaimana masyarakat menjaga warisan leluhur. Dan bagaimana Pulau Penyengat menghadapi masa depan.
Suai?
