Mendagri Mulai Pembangunan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat

Mendagri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wagub Nyanyang Haris Pratamura serta sejumlah untuk Forkopimda menekan sirine pada peletakan batu pertama Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kamis (24/6/2026). (Foto: Enji/Diskominfo Kepri)

J5NEWSROOM.COM, Tanjungpinang – Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), resmi dimulai. Peletakan batu pertama atau groundbreaking dilakukan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Kamis (24/9/2026).

Peresmian dimulainya pembangunan ditandai dengan penekanan sirene oleh Tito bersama Ansar dan sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kepri. Pemerintah Provinsi Kepri menempatkan pembangunan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat sejarah Melayu dalam perjalanan perkembangan bahasa Indonesia.

Tito mengatakan museum dan monumen tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai penanda sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang menarik bagi generasi muda. Penyajian sejarah, menurutnya, perlu disesuaikan dengan karakter generasi saat ini melalui pemanfaatan teknologi.

“Jadi nanti museum itu akan berisi tentang sejarah, ceritanya, dan lain-lain dengan gaya-gaya yang disukai oleh Gen Z sampai Gen Alpha,” kata Tito.

Tito menilai keberadaan museum dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah asal-usul bahasa Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ia juga berharap kawasan tersebut berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau.

Selain menjadi sarana edukasi, Tito berharap pembangunan tersebut dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah. Ia juga berharap program tersebut dapat diteruskan oleh pemerintahan berikutnya sehingga nilai sejarah Pulau Penyengat tetap terpelihara.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan, pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pulau Penyengat sebagai salah satu pusat perkembangan tradisi intelektual Melayu. “Pulau Penyengat ini pulau kecil, tapi pernah memainkan peran yang sangat penting di masa lalu,” ujar Ansar.

Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus berkembang sebagai salah satu pusat tradisi intelektual Melayu. Jejak tersebut antara lain tercermin melalui karya Raja Ali Haji, termasuk Gurindam Dua Belas, yang menjadi bagian penting dari khazanah bahasa dan sastra Melayu.

Tito juga menyoroti peran Raja Ali Haji dalam sejarah bahasa Melayu. Menurutnya, keberadaan karya Gurindam Dua Belas menjadi salah satu bukti penting yang menghubungkan Pulau Penyengat dengan perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi akar bahasa Indonesia.

Sebelum groundbreaking, Ansar juga telah menegaskan bahwa pembangunan museum dan monumen tersebut tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Konten sejarah dan budaya perlu terus dikembangkan agar dapat diterima generasi muda di tengah perkembangan teknologi.

Pemprov Kepri menargetkan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa tersebut rampung pada akhir 2027. Penyelesaian proyek itu diharapkan bertepatan dengan momentum 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028.

Editor: Alia Safira