Ketika Jiwa Guru Tidak Mengenal Batas Profesi

Pengamat sosial politik, alumni Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura, Maulana. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Maulana

J5NEWSROOM.COM – “Jadilah kalian politikus yang berjiwa guru, ekonom yang berjiwa guru, hatta tukang becak yang berjiwa guru’ —’ Lalu Beliau berujar: ‘tapi bos-nya tukang becak!’ (KH. Muhammad Idris Jauhari)

Ada satu kisah yang kerap diceritakan tentang Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki dihantam bom atom pada Agustus 1945. Negeri itu berada dalam kehancuran. Kota-kota luluh, kehidupan sosial porak-poranda, dan masa depan tampak gelap. Dalam kisah populer tersebut, muncul pertanyaan yang terasa ganjil di tengah kehancuran: “Berapa orang guru kita yang masih hidup?” Bukan berapa tentara yang tersisa. Bukan berapa senjata yang masih dapat digunakan, melainkan: Guru.

Kisah itu memang lebih tepat ditempatkan sebagai cerita populer, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi secara kuat. Namun pesan yang dikandungnya penting: ketika sebuah bangsa kehilangan banyak hal, pendidikan tetap menjadi jalan untuk membangun kembali manusia. Dari sini kita memahami satu hal: bangsa yang ingin bangkit membutuhkan manusia yang mampu membangun manusia lain.

Di Prenduan, Sumenep, Madura, KH. Muhammad Tidjani Jauhari, MA dan KH. Muhammad Idris Jauhari meneruskan dan memegang erat warisan Gontor Ponorogo; falsafah yang mewujudkan titik temu dengan pesan tersebut: Ruhul Mudarris , jiwa guru. Mereka membangun TMI Al-Amien Prenduan dengan visi pendidikan yang tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi membentuk manusia yang mampu mengabdikan ilmunya. Warisan terpentingnya bukan sekadar lembaga. Ia adalah cara pandang tentang manusia terdidik: seseorang tidak cukup menjadi pintar; ia harus memiliki jiwa yang membuat ilmunya berguna bagi orang lain.

Jiwa Guru, Bukan Sekadar Profesi

Pesan ini berakar dari doktrin yang selalu Beliau semai dan pupuk dengan teladan: at-thariqah ahammu minal maddah, wal mudarrisu ahammu minat thariqah, wa ruhul mudarrisi ahammu minal mudarrisi nafsih.

Materi penting. Metode penting. Guru penting. Tetapi ruh seorang guru lebih penting.

Sebab pendidikan tidak hanya berlangsung melalui apa yang dikatakan guru, tetapi juga melalui apa yang dilihat murid dari kehidupannya: cara berbicara, menghadapi kesulitan, memperlakukan orang lain, bekerja ketika tidak ada yang mengawasi, bahkan meminta maaf ketika bersalah. Semua itu adalah pelajaran.

Karena itu, seorang politikus dapat berjiwa guru. Seorang pengusaha dapat berjiwa guru. Seorang pejabat dapat berjiwa guru. Bahkan seorang tukang becak pun dapat berjiwa guru. Profesi boleh berbeda. Watak tidak boleh kehilangan arah. Seseorang boleh berhenti mengajar di ruang kelas, tetapi tidak berhenti menjadi guru apabila kehidupannya tetap menjadi teladan. Pendidikan akhirnya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan. Ia adalah proses membentuk manusia.

Ijazah Setelah Pengabdian

Di sinilah tradisi TMI Al-Amien menjadi relevan. TMI bukan sekadar tempat mempelajari berbagai mata pelajaran. Pendidikan di dalamnya juga diarahkan pada pembentukan pribadi, kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan, dan kesiapan mengabdi. Ada praktik mengajar. Ada pengalaman lapangan. Ada pengabdian wajib mengajar “kelas 7” (karena secara grade hanya sampai kelas 6) sebelum santri berhak menerima ijazahnya.

Dengan demikian, ijazah tidak semata-mata ditempatkan sebagai garis akhir. Sebelum memasuki kehidupan yang lebih luas, santri perlu mengalami proses yang menguji apakah ilmu yang dipelajarinya mampu menjadi manfaat. Ijazah adalah tanda seseorang telah menyelesaikan tahapan pendidikan. Pengabdian adalah ujian apakah pendidikan itu benar-benar hidup.

Ada filosofi yang kuat di baliknya: berkembang untuk berjasa, dan berjasa untuk terus berkembang. Seseorang berkembang bukan hanya agar dirinya menjadi lebih baik, tetapi agar semakin banyak yang dapat diperbuat untuk orang lain. Ketika mengabdi, ia justru memperoleh pengalaman yang membuat dirinya kembali bertumbuh. Pendidikan dan pengabdian menjadi lingkaran yang tidak terputus.

Anak Al-Amien yang Membawa Pulang Pesantren

Gagasan itu tidak berhenti ketika alumni meninggalkan Prenduan. Salah satu buktinya terlihat pada pesantren yang dibangun atau dibina alumni Al-Amien. Untuk sekadar menyebut contoh: di Bogor ada Fath Darut Tafsir dan Tadabbur Al-Qur’an; di Cirebon ada Mambaul ‘Ulum; di Banten ada Al Qudwah; di Sumatera Selatan ada Aulia Cendekia Palembang; serta lembaga-lembaga lain yang tumbuh dari jaringan alumni Al-Amien.

Namun, berbicara tentang alumni Al-Amien tidak cukup hanya dengan melihat siapa yang mendirikan pesantren. Mereka berkarier di hampir semua lini kehidupan: pendidikan, birokrasi, pemerintahan, dunia usaha, dakwah, profesi, hingga berbagai bidang pengabdian sosial.

Justru di situlah gagasan Ruhul Mudarris menemukan pembuktiannya: jiwa guru tidak mengharuskan seseorang menjadi guru secara formal. Yang penting bukan profesinya, melainkan nilai yang dibawanya ke dalam profesi itu.

Seorang santri datang ke Prenduan untuk belajar. Ia ditempa menjadi manusia yang memiliki jiwa guru. Kemudian ia pergi ke tempat lain dan mendirikan lembaga pendidikan, bekerja dalam profesi tertentu, atau mengabdi melalui bidang yang dipilihnya. Di tempat baru itu, nilai yang diperolehnya bertemu dengan kehidupan dan memberi pengaruh kepada orang lain.

Begitulah nilai bergerak dari satu generasi ke generasi lain. Prenduan tidak harus hadir secara fisik di setiap daerah. Ia dapat hadir melalui manusia yang pernah ditempa di sana.

Inilah makna “anak Al-Amien” yang lebih substantif: bukan sekadar identitas alumni, melainkan manusia yang membawa nilai pendidikan dan menghidupkannya di tempat lain. Pesantren menjadi benih. Ditanam di Prenduan, dibawa alumni, lalu tumbuh di Jawa, Sumatera, dan tempat-tempat lain. Pengabdian akhirnya tidak berhenti pada satu orang. Ia melahirkan pengabdian berikutnya.

Dari Prenduan ke Pelosok Indonesia

Pada titik ini, gagasan Al-Amien menarik dipertemukan dengan Indonesia Mengajar.

Indonesia Mengajar mengembangkan program Pengajar Muda yang mulai mengirim anak-anak muda fresh graduate pilihan untuk mengajar di berbagai daerah Indonesia pada 2010. Mereka bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga belajar memahami masyarakat tempat mereka mengabdi.Ya, mengabdi. Sebab satu-dua tahun di daerah bukan semata-mata tentang pekerjaan dan gaji, melainkan tentang pengalaman hidup, keterlibatan, dan keberanian keluar dari kenyamanan. Mereka digerakkan oleh sebuah narasi ajakan “Apakah Anda ingin punya pengalaman yang seumur hidup tak terlupakan? Apakah Anda ingin punya rumah kedua dan keluarga kedua?”. Pendekatan ini berhasil menarik ribuan pendaftar—padahal angkatan pertama hanya menerima sekitar 50 orang.

Di sini terdapat titik temu dengan Ruhul Mudarris. Guru tidak seharusnya datang sebagai manusia paling tahu. Ia datang untuk belajar sekaligus mengajar. Ia perlu mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menyimpulkan, dan menjadi bagian dari masyarakat sebelum mencoba mengubahnya.

Anak-anak di daerah yang akses pendidikannya terbatas bukanlah anak-anak yang lebih rendah. Mereka hanya tidak selalu memperoleh kesempatan yang sama. Karena itu, pengabdian pendidikan bukan tindakan belas kasihan. Ia adalah tanggung jawab sosial dan salah satu cara melunasi janji kemerdekaan Indonesia.

Indonesia Mengajar menunjukkan bahwa ilmu dapat dibawa keluar dari ruang kelas dan diterjemahkan menjadi tindakan. Para Pengajar Muda mengajar sekaligus mengalami kehidupan masyarakat yang mereka dampingi. Guru pun menjadi lebih luas maknanya: orang yang bersedia hadir, mendengar, memberi contoh, dan membantu orang lain bertumbuh.

Dua Jalan, Satu Jiwa

Al-Amien dan Indonesia Mengajar lahir dari konteks berbeda. Yang satu, meski modern, tumbuh dari tradisi pesantren; yang lain berkembang sebagai gerakan sosial pendidikan lintas disiplin. Namun keduanya bertemu pada satu gagasan: orang terdidik tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Al-Amien membentuk jiwa guru. Alumni membawa jiwa itu ke pesantren-pesantren baru dan berbagai profesi. Indonesia Mengajar memperlihatkan bentuk lain dari pengabdian: anak-anak muda terdidik hadir di berbagai daerah untuk mengajar dan belajar bersama masyarakat. Jalur masuknya mungkin berbeda, tetapi irisan ruhnya kuat.

Pendidikan tidak selesai ketika seseorang menjadi terdidik. Pendidikan menemukan makna ketika orang yang terdidik membuat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih baik.

Seorang dokter berjiwa guru tidak hanya mengobati, tetapi mendidik pasien. Pengusaha berjiwa guru tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi membuka kesempatan. Pejabat berjiwa guru tidak hanya menjalankan kewenangan, tetapi memberi teladan. Orang tua berjiwa guru memahami bahwa anak belajar terutama dari kehidupan yang dilihatnya. Jiwa guru tidak mengenal batas profesi.

Ijazah Boleh Selesai, Pengabdian Tidak

Pada akhirnya, “Ijazah Setelah Pengabdian” bukan berarti setiap orang harus menjadi guru dalam pengertian profesi. Maknanya lebih luas.

Ijazah adalah pengakuan bahwa seseorang telah menempuh proses pendidikan. Tetapi nilai pendidikan baru terlihat ketika pengetahuan yang diperoleh memasuki kehidupan. Alumni Al-Amien yang membawa semangat pendidikan ke Cirebon, Palembang, dan berbagai daerah lain menunjukkan bagaimana pengabdian dapat melahirkan pengabdian berikutnya. Indonesia Mengajar memperlihatkan bentuk lain: anak-anak muda terdidik hadir di wilayah yang membutuhkan tenaga pendidikan dan menjadikan pengalaman itu bagian dari perjalanan hidup.

Keduanya mengingatkan bahwa pendidikan yang hidup selalu bergerak: Dari guru kepada murid. Dari murid kepada masyarakat. Dari masyarakat kepada generasi berikutnya. Begitulah sebuah gagasan dapat bertahan lebih lama daripada pendirinya.

KH. Muhammad Idris Jauhari mungkin telah lama meninggalkan ruang-ruang pendidikan yang dahulu dibangunnya. Tetapi gagasan tentang jiwa guru dapat terus hidup selama orang-orang yang pernah menerima pendidikan itu memilih mengabdikan ilmunya.

Sebab guru sejati tidak selalu meninggalkan buku.Kadang ia meninggalkan murid. Kadang pesantren. Kadang keberanian kepada seseorang untuk mengabdi di tempat yang jauh. Dan kadang ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar: cara hidup.
Ijazah boleh menandai berakhirnya masa pendidikan. Tetapi pengabdian justru baru dimulai.

Berkembang untuk berjasa.Berjasa untuk terus berkembang dan mandiri.

Di situlah pendidikan menemukan maknanya: bukan ketika seseorang berdiri lebih tinggi daripada orang lain, tetapi ketika ia menggunakan ketinggian ilmunya untuk membantu orang lain bertumbuh.

Palembang, 27 September 2026

Penulis adalah pengamat sosial politik, alumni Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura