
J5NEWSROOM.COM, Kepedulian terhadap lingkungan didorong menjadi bagian dari pembelajaran di pesantren melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Gagasan tersebut dibahas dalam Seminar dan Lokakarya Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang melibatkan peserta dari unsur Pramuka Santri itu secara khusus membahas penguatan nilai cinta alam melalui pembelajaran kitab kuning. Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal, Mahrus, mengatakan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi perlu diterapkan secara berkelanjutan, bukan hanya menjadi materi dalam seminar.
Menurut Mahrus, pesantren telah memiliki sumber pembelajaran yang dapat digunakan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai tersebut, kata dia, terdapat dalam kitab-kitab yang dipelajari santri dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pondok.
Guru Besar UIN Malang sekaligus narasumber kegiatan, M. Faisol Fatawi, menjelaskan Kurikulum Cinta dibangun atas lima nilai atau Panca Cinta. Nilai tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta tanah air.
Dalam konteks lingkungan, Faisol mengaitkan kepedulian terhadap alam dengan konsep hifzh al-bi’ah atau menjaga lingkungan. Ia mencontohkan pembelajaran fikih dasar, seperti bab thaharah dalam kitab Fathul Qarib, yang dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan kebiasaan menjaga lingkungan, termasuk menghindari penggunaan air secara berlebihan.
Nilai tersebut kemudian dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana di pesantren, seperti menjaga kebersihan, menghemat air, dan menjalankan piket lingkungan. Faisol juga mendorong adanya refleksi setelah kajian kitab agar santri tidak hanya memahami materi, tetapi mampu menghubungkannya dengan tindakan nyata.
Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Agama berharap Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan pesantren. Pembelajaran kitab kuning diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk kepedulian santri terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Editor: Agung
