Peran Ibu Menghadapi Tantangan Digital

Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam,  L. Nur Salamah, S.Pd. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh L. Nur Salamah, S.Pd.

J5NEWSROOM.COM – “Mengapa aku harus belajar? Untuk apa aku disuruh mengaji, baca Al-Qur’an? Harus menutup aurat dan segala macamnya”.

Sebagai seorang ibu, terkadang kita bingung dalam menjawab berbagai pertanyaan dari anak-anak kita. Tak jarang karena kesal akhirnya amarahlah yang menjawab.

Yang jelas sebagai orang tua khususnya ibu pasti menginginkan dan mengharapkan yang terbaik untuk putra-putrinya.

Siapa sih yang tidak ingin anak-anaknya sukses, di sekolah berprestasi, taat dan berbakti serta memiliki masa depan yang cerah.

Namun, pernahkah kita berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya anak yang seperti apa yang sedang kita persiapkan.

Apakah sekadar sukses duniawi, juara kelas, lulus Perguruan Tinggi dengan IPK qumlaud, mendapatkan pekerjaan yang mapan dan pasangan yang kaya dan baik hati. Atau kita sedang mempersiapkan anak-anak kita mengenal Allah SWT. sebaik-baiknya, memahami hakikat dan tujuan hidup serta mampu menjalaninya sebagaimana tuntunan syariat?

Karena sebagai ibu, kita tidak sebatas bisa hamil dan melahirkan saja. Akan tetapi jauh lebih dari pada itu. Kita sedang sedang mempersiapkan sebuah generasi unggulan di masa mendatang.

Tantangan Digital

Adapun persoalan yang harus dihadapi seorang ibu hari ini bahwa dunia telah berubah. Pengaruh anak tidak hanya datang dari keluarga, teman, lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar saja. Akan tetapi pengaruh yang dampaknya begitu dahsyat yaitu dalam genggaman.

Dunia digital, ruang mereka berselancar menyuguhkan berbagai gaya hidup, tren, standar kecantikan, popularitas dan berbagai perilaku yang terkadang tidak sesuai dengan nilai Islam. Secara tidak langsung anak akan terbawa oleh suasana tersebut.

Di sinilah tantangan kita sebagai seorang ibu. Kita menanamkan tentang arti dan cara bersyukur, namun di sisi yang lain, apa yang mereka lihat adalah nuansa hidup hedonis, standar kehidupan orang lain yang terlihat begitu sempurna di layar.

Menjadi Sahabat Anak

Berbagai realitas kehidupan yang anak-anak hadapi hari ini, Ibu harus hadir. Artinya ibu harus bisa menjadi tempat kembali, tempat anak untuk bersandar dan membangun kedekatan dengan baik.

Terkadang kita sebagai ibu tidak menyadari, terlalu sibuk menjadi polisi bagi anak-anak. Mengawasi dan menunjukkan kesalahan yang mereka lakukan. Lupa bahwa anak juga butuh sosok ibu yang mau duduk dan mendengarkan keluh kesah anak.

Coba sejenak dengarkan cerita mereka, apa yang mampu membuatnya bahagia, apa yang mereka khawatirkan, siapakah yang mereka kagumi dan apa yang mungkin sedang mereka pikirkan.

Ketika hubungan sudah dekat, maka nasihat dan petuah akan lebih mudah.

Ada hal yang sering kali diabaikan oleh kita para ibu. Bahwasanya anak tidak hanya mendengarkan petuah-petuah, akan tetapi mereka juga memperhatikan apa yang ibunya lakukan.

Ketika kita mengharapkan anak kita salat tepat waktu, tilawah Al-Qur’an, berjuang dan berdakwah. Sudahkah kita sang ibu melakukan hal itu?

Kita ingin anak-anak bersabar. Namun, sudahkah mereka melihat kita bersabar ketika menghadapi persoalan-persoalan.

Karena yang dikatakan ibu hebat adalah bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan-kesalahan. Namun ketika ia bersalah segera meminta maaf. Ketika merasa kurang ilmu mau dan bersegera untuk belajar. Ketika dirinya merasa lemah tak berdaya, kepada Allah SWT. ia memohon pertolongan dan kekuatan.

Islam Mengajarkan Cara Berpikir dan Bersikap

Islam tidak hanya mengajarkan mana yang boleh mana yang tidak. Akan tetapi lebih dari itu Islam membentuk cara berpikir dan cara bersikap. Anak harus paham bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah.

Mungkin suatu saat nanti anak-anak yang sekarang kita bangunkan dengan berusaha payah untuk salat subuh, suatu saat nanti ia akan mengajak orang lain dalam kebaikan.

Siapa tahu anak-anak yang saat ini kita ajarkan membaca Al-Qur’an kelak akan menjadi guru Al-Qur’an bagi orang banyak. Investasi bukan?

Kita tidak pernah tahu sejauh dan seberpengaruh apa pendidikan yang kita tanamkan hari ini.

Jangan Insecure Jadi Ibu

Oleh karena hal itu jangan pernah meremehkan pekerjaan seorang ibu. Jangan pernah merasa rendah diri (insecure). Karena di balik aktivitas yang tampak remeh itu ada sebuah mega proyek yakni membangun peradaban manusia.

Oleh karena itu, sekali lagi bahwa generasi yang hebat harus dibentuk sejak dini di rumah yang menanamkan akidah dan keimanan. Ibu yang senantiasa terus belajar. Ayah yang senantiasa menjadi teladan dan keluarga yang menjadikan Islam sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Terakhir adalah masyarakat dan negara yang menjalankan kehidupan dengan menerapkan aturan Islam secara keseluruhan (kaffah). Wallahu a’lam.

Penulis adalah Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam