Catatan Ketua PWI Batam: Belajar dari Blackout, Jangan Biarkan Kebenaran Ikut Padam

Ketua PWI Batam, Khafi Anshary. (Foto: PWI Batam)

Oleh Khafi Anshary

J5NEWSROOM.COM – Gangguan listrik akibat satwa liar bukanlah sesuatu yang mustahil. Sejumlah negara pernah menghadapi persoalan serupa. Di Kenya dan Sri Lanka, gangguan pada fasilitas kelistrikan dikaitkan dengan monyet. Di Sarawak, Malaysia, gangguan yang melibatkan monyet dan ular juga pernah dilaporkan menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa satwa liar dapat menjadi salah satu pemicu gangguan pada sistem tenaga listrik. Namun, pengalaman di negara lain tidak serta-merta menjadi bukti bahwa penyebab blackout Batam adalah hal yang sama. Setiap peristiwa memiliki karakteristik, kronologi, dan kondisi teknis yang berbeda. Karena itu, penyelidikan harus bertumpu pada bukti, bukan sekadar kemiripan cerita.

Dalam sistem kelistrikan, menemukan pemicu awal belum tentu menjelaskan seluruh rangkaian gangguan. Ada penyebab awal, mekanisme gangguan, respons sistem proteksi, hingga dampak yang meluas menjadi pemadaman. Seluruh mata rantai itu perlu diperiksa agar kesimpulan tidak berhenti pada gejala, tetapi menjangkau akar persoalan.

Monyet boleh jadi pemicu, tetapi kesimpulan harus lahir dari bukti, bukan dugaan.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, PWI Batam mendengarkan penjelasan Yoga Perdana Sulastama, Manager Komunikasi dan Humas PLN Batam, mengenai dugaan monyet sebagai pemicu blackout. Menurut penjelasan Yoga, dugaan tersebut masih diuji melalui investigasi Bareskrim Polri. Rekaman CCTV yang memperlihatkan segerombolan monyet memasuki lingkungan transformator serta bangkai monyet yang diduga tersengat listrik telah dibawa penyidik untuk kepentingan pemeriksaan.

PWI Batam menghormati proses investigasi tersebut dan memandang perlu memberikan ruang kepada penyelidik untuk bekerja secara profesional. Kita berharap hasil pemeriksaan dapat menjelaskan penyebab awal gangguan sekaligus mengungkap bagaimana gangguan itu berkembang hingga berdampak luas. Rekaman CCTV dan temuan bangkai satwa merupakan bagian dari informasi yang perlu diuji bersama bukti teknis lainnya, bukan alasan untuk mendahului kesimpulan.

Dalam perkara yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, kecepatan memberikan jawaban memang penting, tetapi ketepatan jauh lebih mendasar. Memberi waktu kepada penyelidik bukan berarti mengurangi hak publik untuk mengetahui. Justru, kesimpulan yang didasarkan pada pemeriksaan menyeluruh akan memberikan kepastian yang lebih kuat dan mencegah berkembangnya spekulasi.

Di sisi lain, PWI Batam menyampaikan apresiasi kepada PLN Batam beserta seluruh petugas yang bekerja memulihkan pasokan dan menormalisasi sistem kelistrikan setelah blackout. Pemulihan jaringan bukan pekerjaan sederhana. Ada aspek teknis, koordinasi, keselamatan, dan kestabilan sistem yang harus diperhitungkan agar pasokan listrik dapat kembali melayani masyarakat.

Kerja keras tersebut patut dihargai. Di balik lampu yang kembali menyala, ada petugas yang bekerja memastikan sistem kembali beroperasi. Apresiasi ini tidak menafikan pentingnya evaluasi, sebagaimana sikap kritis juga tidak seharusnya meniadakan pengabdian para petugas di lapangan. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam semangat memperkuat pelayanan publik.

Dalam penjelasannya, Yoga juga mengakui bahwa pagar pembatas dan sistem listrik kejut untuk menghalau satwa liar belum cukup tinggi. PLN Batam berencana menambah ketinggian pagar dan memperkuat sistem penghalau tersebut. Langkah ini patut menjadi bagian dari evaluasi pencegahan, sementara penilaian menyeluruh terhadap sistem pengamanan dan proteksi tetap perlu menunggu pemeriksaan teknis yang berwenang.

Bagi PWI Batam, pertanyaan mengenai keandalan infrastruktur merupakan bagian wajar dari kepentingan publik. Namun, pertanyaan tidak boleh berubah menjadi vonis sebelum bukti tersedia. Kita perlu memberi ruang kepada PLN Batam untuk menyelesaikan tahapan evaluasi dan normalisasi, sembari berharap hasil investigasi menjadi pijakan bagi perbaikan yang konkret dan terukur.

Persoalan blackout juga menghadirkan tantangan lain: beredarnya informasi yang belum terverifikasi. Kabar pemadaman bergilir yang mengatasnamakan PLN Batam hingga spekulasi mengenai pusat data (data center) ikut meramaikan ruang informasi. Ketika masyarakat mencari kepastian, kabar yang belum jelas sumbernya dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.

Di sinilah tanggung jawab pers diuji. Wartawan bukan sekadar penerus kabar yang sedang ramai, melainkan penyaring, penguji, dan penjernih informasi. Setiap berita harus ditelusuri sumbernya, dikonfirmasi kepada pihak terkait, serta disajikan secara proporsional. Kecepatan tanpa verifikasi hanya akan memperpanjang gangguan, kali ini bukan pada jaringan listrik, melainkan pada kejernihan pikiran masyarakat.

Kritik bukan tuduhan. Pertanyaan bukan permusuhan. Meminta transparansi bukan berarti menafikan kerja keras PLN Batam. Sebaliknya, menghargai upaya pemulihan juga tidak berarti pers harus berhenti menjalankan fungsi kontrolnya. Yang diperlukan adalah sikap profesional: memberi apresiasi secara proporsional, menguji informasi secara kritis, dan memberi ruang bagi proses investigasi sampai fakta memperoleh kejelasan.

Ada satu hal menarik dalam pertemuan PWI Batam dengan jajaran Humas PLN Batam hari itu. Di tengah pembicaraan serius tentang blackout, saya justru merasakan satu hal lain yang ikut padam selama ini: rindu kepada seorang sahabat wartawan, Fathur Rohman, yang kini berada di barisan Humas PLN Batam.

Rupanya, blackout bukan hanya membuat kita mencari penyebab padamnya listrik, tetapi juga menemukan alasan untuk menyalakan kembali silaturahmi. Kalau listrik padam membuat Batam gelap, absennya sahabat lama ternyata bisa membuat suasana pertemuan terasa kurang terang. Bedanya, gangguan listrik perlu investigasi teknis, sedangkan gangguan rindu mungkin cukup diselesaikan dengan secangkir kopi dan obrolan panjang. Untungnya, untuk yang satu ini, kita tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan Bareskrim.

Pada akhirnya, PWI Batam memandang blackout harus menjadi momentum untuk memperkuat keandalan kelistrikan, keterbukaan informasi, dan kepercayaan masyarakat. Kita tidak sedang berlomba mencari pihak yang paling mudah disalahkan. Kita ingin mengetahui apa yang benar-benar terjadi, menghargai kerja keras mereka yang memulihkan keadaan, serta memastikan setiap temuan menjadi dasar untuk mencegah kejadian serupa.

PWI Batam menegaskan komitmen kelembagaan untuk tetap kritis tanpa menghakimi, mengapresiasi tanpa kehilangan daya kontrol, serta memberi ruang bagi investigasi tanpa mengabaikan hak publik atas informasi. Kami menghormati proses penyelidikan, mengapresiasi kerja keras PLN Batam dalam normalisasi pasokan listrik, dan mendorong agar hasil investigasi serta langkah perbaikan disampaikan secara transparan setelah terverifikasi. Kami juga mengingatkan insan pers agar tidak menjadikan dugaan sebagai fakta dan tidak ikut menyebarkan informasi yang memperkeruh keadaan.

Sebab, tugas kita bukan sekadar menyalakan kembali arus listrik, melainkan menjaga agar arus informasi tetap jernih dan arus kepercayaan tidak terputus. Listrik boleh padam, tetapi akal sehat jangan ikut gelap. Investigasi harus diberi ruang, kerja keras patut dihargai, dan kebenaran tetap harus menjadi penerang bagi kepentingan masyarakat.*

Penulis adalah Ketua PWI Batam