Kelas Kehidupan 45 Menit Perjalanan: Cara Dr Aqua Dwipayana Membaca Peristiwa

Jurnalis dan Pendamping Desa Wisata, Erwan Widyarto. (Foto: Net)

Oleh Erwan Widyarto

TULISAN tentang pengalaman bersama sopir taksi online, Volt Athur Parhusip, sebenarnya bukan sekadar cerita perjalanan yang tersendat karena salah jalan. Ia adalah cermin bagaimana komunikasi bisa menjadi jembatan kemanusiaan—dan bagaimana seseorang seperti Dr Aqua Dwipayana selalu mampu mengemas kejadian sederhana menjadi pelajaran mendalam.

Sejak awal, gaya komunikasinya sangat terasa: lugas, tidak menghakimi, dan memusatkan perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan yang justru sering kita lewatkan. Alih-alih menyoroti kerugian pribadi akibat keterlambatan, ia memilih membedah hikmah di balik peristiwa itu.

Cara bertuturnya lembut tetapi tegas, penuh evaluasi tanpa menyalahkan, dan selalu membuka ruang bagi pembaca untuk ikut merenung.

Pertama, ia menyorot kejujuran Parhusip.

Dalam gaya khas Dr Aqua Dwipayana, momen ketika sang sopir langsung meminta maaf bukan hanya dicatat sebagai “kejadian”, tetapi diangkat menjadi pelajaran moral. Ia memberi ruang bagi pembaca untuk melihat sisi terbaik manusia—bahwa kesalahan tidak meniadakan integritas seseorang, justru memperlihatkan keberaniannya.

Narasi seperti ini menunjukkan empatinya yang kuat: ia menilai orang dari ketulusannya, bukan dari kekhilafannya.

Kedua, ia menekankan pentingnya penyesalan yang tulus. Dr Aqua Dwipayana tidak hanya menggambarkan ekspresi Parhusip, tetapi juga suasana batin sopir itu. Gaya komunikasinya memang selalu menghidupkan manusia sebagai manusia: lengkap dengan rasa panik, kecewa pada diri sendiri, dan ketakutan merugikan orang lain.

Ia mengajak pembaca melihat bahwa penyesalan pun adalah bentuk kedewasaan, bukan kelemahan.

Ketiga, ia mengangkat tanggung jawab sebagai nilai dasar seorang profesional.
Dalam banyak tulisannya, Dr Aqua Dwipayana konsisten mengajak siapa pun untuk fokus pada sikap, bukan semata hasil. Ketika Parhusip mengembalikan kartu e-money dan menanggung biaya tol, Dr Aqua Dwipayana tidak menuliskannya sebagai “kompensasi”, melainkan komitmen etis. Inilah gaya komunikasi yang membangun: menyoroti nilai, bukan drama.

Lalu, bagian paling kuat dari narasi ini justru ketika giliran Dr Aqua Dwipayana merespons. Di sinilah karakter komunikasinya paling tampak.

Ia memilih tenang.

Alih-alih menumpahkan kekecewaan, ia menata kata-kata untuk tidak memperkeruh suasana. Bagi AQUA, ketenangan adalah bentuk kontrol diri, dan kontrol diri adalah tanda kematangan. Ia tidak hanya bercerita, ia meneladankan.

Ia langsung memaafkan.

AQUA selalu mengajarkan pentingnya “merapikan hati” sebelum merapikan keadaan. Memaafkan baginya bukan sekadar tindakan interpersonal, melainkan disiplin mental untuk tidak membawa ‘sampah’ emosional ke mana-mana. Sisi ini sangat khas: ia selalu memasukkan aspek spiritual dan moral secara natural, tanpa menggurui.

Ia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.

Penutup perjalanannya sangat ala Dr Aqua Dwipayana: sederhana, empatik, dan penuh penghargaan terhadap orang kecil. Ia tidak menempatkan diri sebagai “penumpang yang dirugikan”, tetapi sebagai sesama manusia yang sedang mengambil jarak untuk belajar. Senyum dalam teks itu bukan simbol basa-basi, tetapi bagian dari nilai komunikasi positif yang ia sebarkan bertahun-tahun.

Pada akhirnya, perjalanan 45 menit itu berubah menjadi kelas kehidupan—sebuah ruang belajar yang mungkin tidak disengaja, tetapi diolah oleh Dr Aqua Dwipayana menjadi refleksi yang indah.

Di bawah pena orang lain, kejadian itu bisa saja menjadi keluhan atau kritik. Namun dalam gaya AQUA DWIPAYANA, peristiwa ini berubah menjadi inspirasi, bahkan apresiasi, bagi seseorang yang mungkin hanya berusaha sebaik yang ia bisa.

Inilah kekuatan komunikasi seorang Dr Aqua Dwipayana:

menemukan mutiara dalam lumpur kejadian, mengangkat manusia di balik kesalahan, dan menjadikan setiap momen sebagai ladang syukur.

Narasi seperti ini bukan hanya mengajarkan kita untuk menjadi lebih sabar, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap perjalanan—bahkan yang tersasar—selalu punya arah jika kita mau memaknainya.*

Penulis adalah jurnalis, Pendamping Desa Wisata.