Tim Hotman Paris 911 Ungkap Kronologi Penyiksaan Calon LC Dwi Putri Hingga Tewas

Tim kuasa hukum keluarga dari Hotman Paris 911, Putri Maya Rumanti, memaparkan ulang kronologi penyiksaan korban Dwi Putri yang berlangsung berhari-hari, usai menyaksikan langsung rekaman CCTV, Sabtu (6/12/2025) siang. (Foto: Aldy/BATAMTODAY)

J5NEWSROOM.COM, Batam – Rekaman CCTV yang diperiksa penyidik Polsek Batu Ampar menjadi kunci untuk mengurai rangkaian penyiksaan yang menimpa Dwi Putri Aprilian Dini (25), hingga tewas di mess MK Manajemen, kawasan Jodoh Permai.

Tim kuasa hukum keluarga dari Hotman Paris 911, lewat Putri Maya Rumanti, menyaksikan langsung rekaman tersebut pada Sabtu (6/12/2025) siang, dan memaparkan ulang kronologi kekerasan yang berlangsung berhari-hari.

Putri Maya mengatakan rekaman itu menegaskan keterangan saksi yang sebelumnya hanya berupa cerita. “Saya ingin melihat sendiri bentuk penganiayaannya. Dan benar, kekerasan sudah terjadi sejak Senin,” ujarnya.

Dwi Putri disebut berada di lokasi sejak awal pekan. Dari rekaman, terlihat penyiksaan berlanjut dari Senin, Selasa, hingga Rabu, sebelum memuncak pada Kamis. Cuplikan pertama menunjukkan korban berkali-kali dipukul dengan ujung sapu lidi, ditendang, dan dipaksa masuk ke kamar.

“Tampak ia dijambak, tangan diikat, mulut ditutup. Wajah dan matanya sudah bengkak,” kata Putri Maya.

CCTV juga memperlihatkan bentuk kekerasan lain: pukulan dengan selang, semprotan air ke wajah dan tubuh, hingga pemaksaan korban duduk di depan mesin cuci dalam kondisi makin lemah.

“Dia sudah sangat lemas, tapi tetap dibangunkan, didudukkan, lalu dipukul lagi,” ucap Putri Maya.

Adegan paling brutal terekam pada Kamis (27/11/2025). “Puncaknya di hari itu. Dia ditendang, ditunjang. Ada saksi perempuan dan ART yang melihat,” tuturnya.

Dalam rekaman, korban tampak hampir tanpa busana. Tangan diborgol ke belakang, mulut dan payudara dilakban, kaki diikat, bahkan dipakaikan popok sebelum kembali dianiaya. Selang kembali digunakan untuk memukul, menyeret, hingga menyiram korban yang berada dalam posisi duduk maupun terbaring.

Rangkaian penyiksaan itu berlangsung sekitar dua jam. Tanda waktu pada rekaman menunjukkan kejadian terjadi mulai pukul 13.55 WIB, Kamis (27/11/2025).

Temuan ini menjadi bukti penting bagi polisi untuk menjerat para pelaku kekerasan yang berujung pada kematian Dwi Putri. “Di akhir rekaman, ia sudah benar-benar lemas. Borgol dan lakban dilepas, lalu tubuhnya dipindahkan ke kamar,” kata Putri Maya.

Tim Hukum Hotman Paris 911 Desak Ungkap Tuntas

Tim Hotman Paris 911 menilai kasus kematian Dwi Putri sarat kejanggalan dan tidak berdiri sendiri. Mereka mendesak penyidik mengungkap sosok yang diduga berada di balik tersangka Wilson, yang dianggap memiliki peran penting dalam mengarahkan korban ke lingkaran perdagangan orang (TPPO) yang lebih luas.

Putri Maya Rumanti, menyatakan bahwa berbagai kejanggalan terus bermunculan, mulai dari percakapan ponsel korban yang terhapus, dugaan ritual sebelum kekerasan terjadi, hingga kemungkinan adanya korban lain yang belum teridentifikasi.

“Kami masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Banyak hal masih menjadi misteri, termasuk alasan almarhum mau bekerja sebagai LC atau apakah ia sebenarnya tidak mengetahui bahwa pekerjaan itu adalah untuk LC,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).

Hasil pemeriksaan ponsel korban justru menimbulkan pertanyaan baru. Hampir semua percakapan terhapus, kecuali chat dengan pacarnya. Namun Putri Maya menduga ada balasan pesan yang bukan ditulis oleh Dwi Putri.

“Salah satu percakapan ketika pacarnya bertanya, ‘Ini siapa pacarnya Putri?’ seperti ada unsur rebutan. Pacarnya sekarang juga sedang diperiksa. Kami minta pemeriksaan itu diperdalam agar gambaran utuhnya jelas,” tegasnya.

Tim hukum juga meragukan motif kekerasan brutal yang dialami korban. Mereka mempertanyakan apakah wajar seseorang disiksa sedemikian rupa hanya karena menolak menjadi LC atau menolak dipaksa mengonsumsi obat-obatan dan minuman keras.

“Apa sebenarnya yang merugikan pelaku? Ini masih tanda tanya,” kata Putri Maya.

Fakta lain yang menambah misteri adalah pengakuan tersangka Malika mengenai ritual sebelum kejadian. Ia mengaku membakar dupa dan mengarahkannya ke kaki korban untuk menguji apakah korban “kesurupan”.

“Ini penting. Apakah ritual itu dilakukan kepada semua calon LC atau hanya orang tertentu? Belum ada kejelasannya,” tambahnya.

Tim Hotman Paris 911 menyoroti peran tersangka Wilson, yang diduga menjadi orang yang mengarahkan korban ke dalam lingkaran pekerjaan tersebut. “Siapa di balik Wilson? Ini harus dibongkar. Wilson sudah masuk kategori TPPO. Tetapi apakah ia hanya menawarkan pekerjaan atau ada motif lain? Ini yang kami perdalam,” ungkapnya.

Pertanyaan lebih besar juga muncul terkait kemungkinan adanya pihak yang membacking para pelaku hingga berani bertindak brutal. “Apakah kekerasan itu dilakukan kepada semua calon LC atau ada unsur lain seperti penumbalan? Kemungkinan itu terbuka dan wajib diselidiki,” ujarnya.

Tim hukum menilai kronologi yang terungkap sejauh ini masih banyak yang tidak saling berkaitan. Salah satu saksi disebut berada dalam kondisi tidak sadar sejak hari kejadian. Saksi itu mengaku sempat dipanggil interview dan melihat korban tak bernyawa, namun tidak diperbolehkan pulang.

Di lokasi kejadian, menurut tim, terdapat empat hingga lima orang, tiga di antaranya diduga terlibat aktif, termasuk Malika. “Saya tadi bertemu para pelaku. Ada satu pelaku yang terlihat sangat santai, tapi pelaku Malika sudah terlihat meminta maaf,” ungkap Putri Maya.

Selain itu, tim hukum kini menelusuri dugaan adanya sindikat pemasok perempuan berskala lokal yang beroperasi di Batam. “Informasi investigatif yang kami terima menyebut pelaku utama adalah salah satu pemasok perempuan terbesar ke sejumlah karaoke besar di Batam. Jaringannya belum sepenuhnya terpetakan,” jelasnya.

Putri Maya menegaskan pihaknya tidak hanya mencari keadilan bagi Dwi Putri, tetapi juga mengungkap kemungkinan adanya korban lain. “Kami ingin memastikan kekerasan ini bukan hanya dialami almarhum. Jika jaringan ini bisa terungkap, itu akan menjadi capaian besar,” pungkasnya.

Editor: Agung