Silaturahim sebagai Jalan Syukur dan Pelayanan

Jurnalis dan Pendamping Desa Wisata, Juragan Erwan. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Juragan Erwan

J5NEWSROOM.COM, Batam – Personal branding sebagai seorang Pakar Komunikasi yang melekat pada sosok AQUA DWIPAYANA bukan hanya karena ia lulusan S1, S2 dan S3 bidang Ilmu Komunikasi. Saya melihatnya lebih pada konsistensi yang ia tunjukkan. Dalam setiap tulisannya, AQUA DWIPAYANA tidak hanya menghadirkan kisah keseharian, tetapi juga memantulkan nilai komunikasi yang ia hidupi secara konsisten. Puluhan tahun.

Tulisan “Menyimak Curahan Hati, Meningkatkan Rasa Syukur” misalnya, kembali menegaskan karakter khas AQUA. Seorang motivator yang menjadikan silaturahim sebagai jalan pembelajaran, pelayanan, dan peningkatan rasa syukur. Bukan teori yang ia tonjolkan, melainkan praktik panjang puluhan tahun yang dilewati dengan kerendahan hati dan kesediaan menyimak manusia apa adanya.

Dari tulisan tersebut, terlihat sekali bagaimana AQUA memposisikan diri, dan memaknai keberadaan dirinya serta anugerah yang diterimanya dalam konteks manfaat bagi sesama. Dan kita pun bisa mengambil sejumlah hikmah.

Silaturahim sebagai arena belajar, bukan panggung berbicara

Salah satu nilai penting yang muncul dari tulisan ini adalah cara AQUA memosisikan silaturahim. Sebagai seorang pakar komunikasi, ia justru lebih banyak menyimak daripada berbicara. Ia menyebut setiap orang yang ditemuinya sebagai guru terbaik kehidupan. Sebuah framing yang sederhana tetapi sarat kebijaksanaan.

Di era ketika banyak orang ingin didengar, AQUA memilih menjadi penyimak yang baik. Ketika banyak motivator membangun panggung untuk berbicara, ia membangun ruang nyaman bagi orang lain untuk membuka diri.

Ini adalah pelajaran komunikasi yang sangat relevan: menyimak adalah bentuk penghormatan terdalam dalam interaksi manusia.

Stephen R. Covey dalam karyanya The 7 Habits of Highly Effective People (Kebiasaan 5: “Seek First to Understand, Then to Be Understood”) menekankan betapa pentingnya kemampuan mendengarkan dengan empati sebelum kita berharap dipahami. Katanya, “Kebanyakan orang mendengarkan dengan maksud untuk membalas, bukan untuk mengerti.”

Dengan demikian, komunikator sejati bukanlah yang paling fasih merangkai kalimat, tetapi yang terlebih dahulu berusaha memahami orang lain, menunjukkan empati — sebelum ia berusaha untuk “dimasukkan” atau “didengar.”

Seorang komunikator sejati bukanlah yang paling fasih, tetapi yang paling mampu hadir penuh untuk memahami.

Konsultasi yang mengalir alami

Dalam tulisannya, AQUA menggambarkan betapa banyak orang yang mencurahkan isi hati kepadanya. Ada urusan rumah tangga, relasi sosial, hingga bisnis yang guncang. Menariknya, AQUA tidak menyebut dirinya “tempat konsultasi”. Semuanya berlangsung organik, mengalir, dan yang lebih penting: ia menerimanya sebagai amanah.

Ia memberi komentar seperlunya, tidak memonopoli waktu berbicara lawan bicara. Ia menunggu hingga seseorang benar-benar selesai menumpahkan isi hati sebelum mengurai persoalan satu per satu.

Kita bisa melihat pola yang konsisten dalam gaya komunikasinya:

– Menyimak dengan empati
– Mengapresiasi ketangguhan lawan bicara
– Memberikan solusi secara proporsional
– Mengembalikan semuanya kepada nilai syukur dan keyakinan pada pertolongan Tuhan

Model komunikasi seperti ini mencerminkan seorang motivator yang tidak “menggurui”, tetapi mendampingi. Ia tidak mengambil alih cerita, tetapi justru menguatkan pemilik cerita.

Dalam konteks ini, AQUA bukan sekadar komunikator. Ia menjadi ruang aman berjalan bagi banyak orang yang ingin mencari kelegaan.

Silaturahim fisik dan digital: jejaring yang hidup 24 jam

AQUA hidup dalam ritme silaturahim yang intens. Pagi hingga larut malam, dari satu lokasi ke lokasi lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu provinsi ke provinsi lain, dari satu negara ke negara lain. Namun yang kerap tidak disorot orang adalah silaturahim digital yang ia jalani dengan cara yang sama tulusnya.

Lewat WhatsApp, pesan suara, atau unggahan-unggahan reflektif di media sosial, ia menjaga hubungan dengan ribuan sahabat yang tidak selalu bisa ditemui secara fisik. Banyak “konsultasi” terjadi justru melalui gawai, dan AQUA meresponsnya dengan kecepatan dan ketulusan yang sama seperti pertemuan tatap muka.

Digital baginya bukan pengganti hubungan, tetapi perpanjangan tangan dari kepedulian.

Sementara di era ini banyak orang mudah lelah dengan notifikasi, AQUA menerimanya sebagai bagian dari ibadah. Sebagian besar dari kita membatasi komunikasi agar tidak “terganggu”, tetapi AQUA membuka pintu selebar mungkin agar bisa melayani. Ia selalu merespons secepat kesempatan yang ia miliki. Saya sudah membuktikannya berulang kali.

Silaturahim digital inilah yang membuat jejaring AQUA tidak pernah padam. Ia menunjukkan bahwa kedekatan tidak dibatasi ruang, tapi oleh niat dan kepekaan.

Ikhlas sebagai energi batin komunikasi

Salah satu hal yang paling kuat dalam tulisan tersebut adalah pengakuannya bahwa ia semakin bersyukur karena menyadari dirinya diberi kepercayaan untuk menyimak masalah orang lain. Ini bukan kalimat biasa — ini menunjukkan fondasi moral dari seluruh aktivitas komunikasinya.

AQUA tidak memandang curahan hati orang lain sebagai beban atau tuntutan. Ia memandangnya sebagai amanah yang nilainya “sangat mahal”, karena hanya diberikan pada orang yang dipercaya.

Nilai ini penting, terutama dalam era komunikasi digital saat relasi cepat dangkal dan respons cepat tak selalu berarti kehadiran.

AQUA hadir dengan keikhlasan, bukan sekadar keterampilan.

Inilah yang membuat nasihatnya memiliki bobot emosional dan spiritual.

Mengubah pertemuan menjadi sumber syukur

Pada bagian akhir tulisannya, AQUA menyebut bahwa ia selalu mengevaluasi setiap percakapan dan justru menemukan lebih banyak alasan untuk bersyukur. Ia bersyukur karena:

– dirinya tidak harus menghadapi persoalan berat seperti yang diceritakan orang lain,
– ia diberikan kesempatan membantu,
– ia dapat mempraktikkan ilmu komunikasinya secara nyata,
– dan ia bisa memetik pelajaran dari setiap perjalanan silaturahim.

Pendekatan syukur ini menjadikan komunikasi bukan hanya alat, tetapi jalan spiritual. Inilah alasan mengapa energi AQUA tampak tidak pernah habis: ia menjadikan setiap interaksi sebagai penambah energi, bukan penguras tenaga. Jika melihat kecepatan perpindahan lokasi sharing komunikasi dan motivasinya, kita bisa membayangkan betapa besarnya energi yang ia miliki. Tapi, AQUA tak nampak kehabisan energi.

Secara ringkas, tulisan “Menyimak Curahan Hati, Meningkatkan Rasa Syukur” ini mencerminkan tiga hal yang membuat AQUA konsisten menjadi rujukan banyak orang:

1. Ia hadir untuk menyimak, bukan sekadar berbicara.
2. Ia menjadikan silaturahim — baik fisik maupun digital — sebagai misi hidup.
3. Ia menjalani semuanya dengan ikhlas dan mensyukurinya sebagai karunia.

Dari sini kita melihat bahwa kekuatan seorang motivator tidak terletak pada panggung atau sorotan, tetapi pada kesediaannya menjadi tempat berlabuh bagi hati orang lain. AQUA menunjukkan bahwa komunikasi terbaik adalah komunikasi yang merawat manusia.

Dan ketika silaturahim dilakukan dengan hati yang jernih, ia tidak hanya memperpanjang rezeki atau umur. Ia memperluas makna hidup itu sendiri.

Bagaimana menurut Anda?*

Penulis adalah jurnalis, Pendamping Desa Wisata.