
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba (Siswi MAN 1 Kota Batam)
Sudah lebih dari sebulan sejak terjadinya banjir yang melanda saudara kita di wilayah Aceh dan juga Sumatera. Mungkin beritanya mulai hilang dari sosial media tapi faktanya masih banyak wilayah yang terisolir dan belum mendapatkan bantuan.
Mirisnya di tengah bencana yang melanda saudara kita di sana, ada oknum pejabat yang melakukan korupsi terhadap dana bantuan bencana yang seharusnya disalurkan kepada rakyat Aceh dan juga Sumatera.
Kok bisa kepikiran ya? Di tengah orang-orang yang sedang berduka dan bertahan hidup setelah ditimpa bencana, tanpa merasa bersalah ia melakukan korupsi. Belum lagi ada yang merasa tersaingi dengan bantuan yang dikumpulkan oleh rakyatnya.
Entah apa yang ada dipikirannya. Padahal kita ini bukan sedang berkompetisi, melainkan sedang bersama-sama membantu saudara kita yang terkena bencana. Tapi bukannya menyelesaikan sesuai substansi masalahnya, ini malah mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak diperlukan.
Tanpa mengurasi rasa hormat, kita sebagai masyarakat juga melihat kok posko-posko yang didirikan oleh negara dan juga bantuan yang diberikan, tapi catat ya, itu bukan sumbangan melainkan kewajiban.
Nah, kalau itu kewajiban kenapa harus iri kepada rakyatnya sendiri? Dan yang lebih lucunya adalah bencana di Aceh dan Sumatera belum pulih total, pembukaan lahan untuk ditanami sawit sudah jalan lagi.
Ternyata memang benar ya sistem kapitalisme hari ini bisa menghilangkan rasa empati dalam diri seseorang. Padahal empati itu adalah bare minimum kita sebagai seorang manusia.
Namun karena standar hidup yang berasal dari sistem kapitalisme yang pasti berasaskan pada materi, maka segala hal akan disandarkan pada seberapa banyak harta yang dimiliki tanpa peduli apakah itu akan merugikan rakyatnya atau tidak.
Sebab yang paling penting baginya adalah keuntungan yang bisa ia dapatkan dari bisnisnya tersebut. Bahkan jika itu harus menimbulkan kerugian yang sangat besar untuk rakyatnya.
Padahal, jika kita menilik para pemimpin di zaman keemasan Islam maka akan kita dapati bahwasanya mereka tidak akan pernah tidur nyenyak sebelum memastikan semua rakyatnya dalam keadaan aman. Mereka juga tidak akan makan dengan enak sebelum memastikan bahwa rakyatnya bisa makan dengan nyaman.
Contohnya adalah ketika terjadi bencana kelaparan di masa Kholifah Umar bin Khathab. Beliau tidak makan apapun kecuali remahan roti dan minyak yang menyebabkan kulit wajah beliau menghitam.
Beliau juga tidak gengsi untuk meminta bantuan kepada gubernurnya yakni Amr bin Ash yang tidak terkena bencana kelaparan agar mengirimkan bahan makanan kepada rakyatnya yang sedang mengalami bencana kelaparan.
Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh penguasa ketika terjadi bencana. Hadir membersamai dalam proses penyembuhan pasca bencana, bukan malah abai terhadap kondisi rakyatnya.
Sebab setiap pemimpin adalah pelindung dan juga diibaratkan seperti penggembala. Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyat yang menjadi amanahnya untuk dijaga dan dipastikan kesejahteraannya.
Wallahu a’lam bish showwab.
