Pemukim Israel Kian Brutal di Tepi Barat, Desa Diserbu dan Rumah Dibakar Saat Ramadhan

Pasukan Israel menghentikan pengungsi Palestina yang berusaha kembali ke kamp pengungsi Nur Shams selama operasi militer Israel di dekat kota Tulkarem, Tepi Barat, 9 Februari 2026. (Foto: EPA)

J5NEWSROOM.COM, Aksi kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat dilaporkan semakin meningkat selama bulan Ramadhan. Di desa Susya, wilayah Masafar Yatta, selatan Hebron, sejumlah rumah dan kendaraan milik warga Palestina dibakar dalam serangan yang terjadi pada Selasa (24/2/2026).

Laporan media internasional menyebutkan serangan tersebut memicu korban jiwa serta menebar ketakutan di kalangan warga, terutama perempuan dan anak-anak. Organisasi hak asasi manusia Al-Bider menyatakan para pemukim merusak sedikitnya lima rumah dan sejumlah mobil, menyebabkan kerugian material yang signifikan.

Kantor berita Palestina, Wafa, bersama sejumlah sumber lokal, melaporkan para pemukim juga melemparkan bom gas air mata ke dalam rumah warga sehingga beberapa orang mengalami sesak napas. Rekaman kamera pengawas yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang bertopeng membakar rumah dan kendaraan warga di desa tersebut.

Mengancam Penggembala dan Menutup Jalan

Serangan tidak hanya terjadi di Susya. Di wilayah lain Provinsi Al-Khalil, pemukim dilaporkan mengejar penggembala domba dari keluarga Al-Na’amain di Khirbat Aqwa’is, Masafar Yatta. Mereka juga melepaskan ternak di sekitar permukiman warga serta melakukan penyerbuan ke sejumlah desa, termasuk Khirbat al-Halawa, Khirbat al-Markaz, dan al-Mashhad di Khirbat al-Taban.

Di Wadi Sa’ir, utara Hebron, kelompok pemukim bersenjata dilaporkan memblokir jalan di dekat permukiman “Asfar”, sehingga warga Palestina tidak dapat mengakses jalur utama.

Perlawanan di Nablus

Di bagian utara Tepi Barat, puluhan pemuda Palestina dilaporkan menghadang serangan pemukim di Gunung Bir Qouza, Beitah, selatan Nablus. Bentrokan terjadi ketika warga berupaya menghalau penyerbuan tersebut.

Data menunjukkan sepanjang Januari saja tercatat sekitar 468 serangan pemukim di Tepi Barat, mulai dari kekerasan fisik, pembakaran ladang, penebangan pohon, hingga pencegatan petani yang hendak mengakses lahan mereka. Diperkirakan sekitar 770 ribu pemukim Israel tinggal di berbagai permukiman di Tepi Barat, termasuk 250 ribu di Yerusalem Timur.

Sejak perang di Jalur Gaza pecah pada Oktober 2023, serangan di Tepi Barat dilaporkan semakin intensif. Data resmi Palestina mencatat lebih dari 1.100 warga Palestina tewas, sekitar 11.500 orang terluka, serta sekitar 22 ribu lainnya ditangkap dalam periode tersebut.

Kecaman Internasional

Sebanyak 20 negara dari kawasan Arab, Islam, dan Eropa menyatakan kecaman atas langkah pemerintah Israel yang dinilai memperluas kendali atas wilayah Tepi Barat. Dalam pernyataan bersama, negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Mesir, Yordania, Turki, Prancis, Spanyol, Swedia, Indonesia, hingga Irlandia menilai kebijakan tersebut melanggar hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pernyataan itu juga menuntut Israel menghentikan kekerasan pemukim, membatalkan perubahan status hukum wilayah yang diduduki, serta membebaskan pendapatan pajak Palestina yang ditahan sesuai Protokol Paris. Para menteri luar negeri yang menandatangani pernyataan tersebut menegaskan komitmen terhadap solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan di kawasan.

Editor: Agung