Cinta Nabi, Semangat Mewujudkan Perubahan Hakiki

L. Nur Salamah, S.Pd

Oleh L. Nur Salamah, S.Pd

GEGAP gempita peringatan Maulid Nabi menghiasi seantero negeri. Setiap 12 Rabiul Awal, tidak pernah absen, surau atau masjid, sekolah-sekolah senantiasa padat dengan berbagai agenda. Mulai dari lomba mewarnai, cerdas cermat, hadroh, presentasi Sirah Nabawiyah, dan lain sebagainya.

Konon, peringatan maulid ini adalah sebagai bentuk rasa syukur dan cinta terhadap sosok mulia, kekasih Allah, Sang Teladan kehidupan, Rasulullah Muhammad SAW. Namun sayangnya, jika kita melihat realitas yang ada, perayaan ini tidak lebih dari sebatas ritual tahunan, tidak tercermin dalam kehidupan dan tidak ada perubahan apapun dalam sikap dan perilaku masyarakat.

Bahkan, yang tampak adalah kerusakan demi kerusakan, himpitan hidup dan berbagai kezaliman, seakan menjadi suguhan yang dianggap lumrah dalam tatanan kehidupan ini.

Di samping itu, mengapa hanya Maulid yang senantiasa diperingati? Padahal jika kita mau jujur, ada beberapa peristiwa besar yang terjadi di Bulan Rabiul Awal.

Selain Maulid Nabi atau kelahiran Nabi Muhammad SAW peristiwa lain yang terjadi adalah hijrahnya Nabi dari Mekah ke Madinah dan wafatnya Nabi Muhammad SAW, kesemuanya terjadi di Bulan Rabiul Awal dan terdapat berbagai macam pelajaran (ibrah)  yang bisa kita ambil dan diterapkan dalam kehidupan.

Arti Mencintai

Hakikat cinta adalah pengorbanan. Seperti contoh, bentuk cinta suami kepada istrinya adalah perlindungan, pengayoman dan pemberian nafkah lahir maupun batin. Kesemuanya itu membutuhkan pengorbanan.

Sedangkan cinta istri kepada suaminya adalah ketaatan dan pengabdian yang pasti juga membutuhkan pengorbanan.

Demikian juga ketika mengaku cinta kepada Nabi Muhammad SAW sudah pasti tidak cukup dengan kata-kata saja. Melainkan harus dibuktikan dengan sikap dan perbuatan.

Mencintai Nabi adalah mengenalnya dengan sebaik-baik pengenalan dan meneladani atau mencontoh Nabi dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hal terkecil hingga yang terbesar. Mulai dari masuk kamar mandi sampai urusan politik bernegara seharusnya mengacu kepada Rasulullah SAW.

Bagaimana karakter kepemimpinan Rasulullah seharusnya menjadi contoh. Pemimpin dalam Islam sebagaiman yang telah dicontohkan oleh Rasulullah adalah sebagai pelayan umat (riayah syuunil ummah) atau mengatur urusan umatnya.

Sayangnya, yang terjadi ini hari sangatlah jauh api dari panggang. Kepemimpinan yang ada tidak untuk melayani rakyat, justru melayani para pengusaha dan oligarki. Rakyat justru menjadi tumbal keserakahan dan kerakusan. Sebagaimana yang terjadi di Rempang, sangat nyata penjajahan ekonomi dengan mengatasnamakan investasi. Pemerintah justru menjadi regulasi untuk memuluskan kepentingan para cukong yang sedikit banyak telah menyokongnya untuk naik dalam tampuk kekuasaan.

Seperti itulah jika pemerintah juga bermental pedagang. Standarnya adalah untung atau rugi. Tidak lagi peduli terhadap kepentingan rakyat sendiri. Bahkan jika rakyat menentang atau jadi penghalang tidak segan-segan untuk dihabisi.

Demikianlah berbagai macam fenomena yang terjadi di alam sekuler kapitalisme. Pemisahan agama dari aktifitas kehidupan, pemisahan agama dari kehidupan bernegara. Aturan yang diterapkan adalah aturan manusia yang sarat akan kepentingan dan hawa nafsu yang akan mengantarkan kepada kerusakan dan kehancuran.

Wujudkan Perubahan Hakiki

Apabila kita menghendaki kehidupan yang penuhi keberkahan, tidak ada cara lain kecuali dengan menerapkan Islam secara totalitas (Kaffah) dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al A’raf ayat 96 yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.

Oleh karena itu, momentum maulid ini, sebagai bukti cinta kepada nabi, saatnya untuk berjuang dan berdakwah menyadarkan umat bahwa hanya Islam lah satu-satunya agama sekaligus sistem yang  paripurna dari Zat yang maha sempurna akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan.

Wa Allahu a’lam Bisshowwab.*

Penulis adalah Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam