Batam Menadah Getir yang Sama

Ketua PWI Kota Batam Muhammad Khavi membacakan puisi. (Foto: PWI Kepri)

Puisi Muhammad Kavi

angin pagi membawa kabar duka
tentang tanah yang retak, rumah yang runtuh.
dan hati yang bertahan tegak,
kendati dunia di sekitarnya retak seperti langit yang patah.

dari sini, kami tetap mendengar tangis itu,
sekali pun lautan membentang panjang di antara dua daratan
percayalah, setiap debur ombak yang tiba di Batam
menyiratkan duka dari tanahmu,
dan kami memeluknya dengan hati yang turut luka

kepada rekan peutua ku di negeri atjeh:
negeri yang tabah meski berkali-kali diuji,
kami mengirimkan pelukan dari kejauhan.
semoga setiap langkah kalian
dikuatkan oleh harapan yang tak pernah padam.

kepada kedan-kedan ku:
ketika hujan menggugurkan dinding dan kenangan,
ketahuilah, ada hati-hati di Batam
yang menengadah langit, memohon
agar beban kalian diringankan
dan air mata diganti menjadi ketegaran.

dan untukmu saudara minangku:
saat tanah mengerang dan bukit berguncang,
kami di Batam mengikat tangan dalam doa
semoga bumi kembali tenang,
dan kalian menemukan terang
di tengah gelap yang memeluk terlalu erat

wahai saudara kami di tanah rencong, di tanah batak, dan di ranah minang, dengarlah:

kalian tidak sendiri!

dari pulau kecil yang diterangi lampu-lampu pelabuhan ini,
kami mengirim cinta, doa, dan kepedulian

angin laut pulau penawar rindu melangitkam doa-doa kami  

dalam luka kalian, ada air mata kami
dalam perih kalian, ada hati kami
dan ketika kalian tegak nanti
bertepuk tangan kami
penuh syukur dan harapan

Belakang Padang, 3 Desember 2025