Kemenag Siapkan Rumah Ibadah sebagai Ruang Darurat Pendidikan dan Pemulihan Sosial Penyintas Bencana

Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Foto: Kemenag)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Kementerian Agama mengoptimalkan pemanfaatan rumah ibadah sebagai ruang sementara pendidikan sekaligus pemulihan sosial bagi warga terdampak bencana di Sumatra. Langkah ini ditempuh agar kegiatan belajar anak-anak tetap berlangsung meski fasilitas pendidikan terdampak.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, kebijakan tersebut dapat dijalankan karena struktur Kementerian Agama bersifat vertikal hingga tingkat kecamatan. Kemenag juga telah melakukan pendataan menyeluruh terhadap sarana dan prasarana pendidikan yang terdampak bencana, termasuk mitigasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang direncanakan mulai 5 Januari 2026. Pendataan mencakup madrasah hingga rumah ibadah.

Menurut Nasaruddin, keseragaman data relatif mudah dicapai karena jaringan organisasi Kemenag tersebar dari pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan. Dengan struktur tersebut, data di daerah dan pusat dapat terintegrasi dengan baik sehingga mempercepat pengambilan langkah penanganan.

Ia menjelaskan, Kemenag mendata jumlah madrasah dan rumah ibadah yang terdampak, sekaligus memetakan fasilitas yang sudah dapat digunakan kembali dan yang masih memerlukan perbaikan. Untuk sarana yang belum layak pakai, Kemenag menyiapkan solusi alternatif. Data yang dimiliki juga disesuaikan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Selanjutnya, masjid dan rumah ibadah dimanfaatkan sebagai lokasi darurat penyelenggaraan pendidikan. Menurut Nasaruddin, langkah ini penting untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh hak belajar di tengah situasi darurat. Pemerintah, termasuk Presiden, memberi perhatian besar agar dampak bencana terhadap dunia pendidikan tidak berlarut.

Dalam upaya pemulihan, Kementerian Agama bekerja secara intensif selama 24 jam bersama aparat dan masyarakat setempat. Ia menyebutkan, pembangunan infrastruktur yang semula diperkirakan selesai dalam satu semester, dalam beberapa kasus dapat dirampungkan hanya dalam hitungan pekan berkat kerja sama lintas pihak, termasuk TNI dan Polri.

Selain mengandalkan anggaran negara, Kemenag juga menggandeng berbagai lembaga filantropi dan organisasi masyarakat, seperti BAZNAS, lembaga amil zakat, Badan Wakaf Indonesia, serta ormas keagamaan. Rumah ibadah lintas agama, mulai dari masjid, gereja, hingga pura, diupayakan segera dapat difungsikan kembali. Di Sumatra Barat, kata Nasaruddin, hanya tersisa sedikit rumah ibadah yang belum bisa digunakan.

Di sisi lain, bantuan logistik keagamaan terus disalurkan, terutama mushaf Al-Qur’an dan buku-buku keagamaan. Nasaruddin menyebut, kebutuhan mushaf Al-Qur’an di masyarakat sangat tinggi karena banyak yang rusak atau hilang akibat bencana. Kemenag telah mencetak dan menyalurkan ribuan mushaf, meski jumlah tersebut masih terus ditambah. Buku keagamaan untuk anak-anak juga menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan.

Editor: Agung