
Oleh Juragan Erwan
MENDAPAT kiriman tulisan berjudul “Sangat Bersyukur Saat Sakit” dari Mas AQUA DWIPAYANA, saya seperti ditampar. Beberapa waktu lalu, tepatnya 23 Desember 2025, saya menghubungi beliau. Untuk apa?
Saya menanyakan dokter gigi di Bogor. Karena ada rasa sakit tak terperi di gigi sebelah kiri. Saya ingin segera periksa ke dokter gigi dan tak tersiksa dengan sakit ini. Sakit yang ‘mengganggu’ silaturahim saya dengan cucu di Bogor.
Sayangnya waktu itu Mas AQUA sedang di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Dan ia menjawab tak memiliki referensi dokter gigi di Bogor. Ya sudah, tanggal 25 Desember 2025 saya pun pulang ke Jogja. Dan, alhamdulillah bisa periksa di Klinik Gigi terdekat.
Di saat masa penyembuhan sakit gigi ini, tulisan Mas AQUA pun saya terima. Tulisan tentang pengalamannya sakit di Salatiga.
Ini sejatinya bukan sekadar catatan personal. Tulisan ini adalah potret cara pandang hidup yang langka di tengah budaya serba cepat, serba produktif, dan sering kali abai pada batas tubuh.
Di saat kebanyakan orang memaknai sakit sebagai gangguan –seperti yang saya alami– AQUA justru menafsirnya sebagai “bahasa cinta Tuhan” yang memintanya berhenti sejenak.
Dalam perspektif komunikasi dan spiritualitas, inilah yang patut kita pelajari: kemampuan mengubah peristiwa yang secara umum dianggap negatif menjadi ruang refleksi, bahkan sumber energi baru.
AQUA menyebut sakitnya sebagai cara Tuhan “memaksa” untuk istirahat, ibarat mesin yang perlu pendinginan. Ungkapan ini sangat kuat. Ia tidak sedang menolak realitas, tetapi menafsirnya.
Di sinilah bedanya antara menerima dengan pasrah tanpa makna, dan menerima dengan penuh kesadaran.
Dalam Islam, konsep ini sangat dekat dengan firman Allah: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan hanya menenangkan, tetapi mengajarkan lensa baru dalam membaca musibah. Sakit, bagi AQUA, bukan musuh yang harus dilawan dengan keluh kesah, tetapi pesan yang harus didengar.
AQUA berkali-kali menegaskan bahwa semua aktivitasnya—silaturahim, sharing komunikasi dan motivasi—ia jalani dengan ikhlas. Ikhlas membuatnya berenergi, bukan terkuras. Namun justru di titik ini, sakit menjadi alarm yang lembut: bahkan keikhlasan pun tetap butuh jeda.
Di sinilah kebijaksanaan sikap AQUA terlihat. Ia tidak memaksa diri tetap produktif demi citra atau tuntutan publik. Ia mengurangi komunikasi, membaca seperlunya, lalu tidur berjam-jam saat mengantuk. Tidak ada heroisme palsu. Yang ada hanyalah ketaatan pada tubuh.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)
AQUA mempraktikkan hadis ini tanpa mengutipnya. Ia memberi hak pada tubuhnya untuk berhenti.
Menarik bahwa AQUA tidak sekadar bersyukur ketika sembuh, tetapi saat sakit. Ini bukan spontanitas emosional, melainkan keterampilan batin yang dilatih lama.
Syukur, dalam tulisannya, bukan respons setelah semuanya baik-baik saja, tetapi sikap dasar menghadapi realitas.
Dalam Al-Qur’an Allah berjanji: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
AQUA menafsir janji ini secara konkret: dengan bersyukur saat sakit, ia justru merasakan energi bertambah, kejernihan pikiran meningkat, dan relasi dengan Tuhan kian intim.
Ikhlas yang Menular
Bagian paling kuat dari tulisan AQUA adalah pengakuannya bahwa sikap ikhlas mempengaruhi lingkungan. Ini penting.
Di tengah masyarakat yang gemar mengeluh, mudah panik, dan cepat menyalahkan keadaan, kehadiran seseorang yang tenang saat diuji adalah bentuk dakwah kultural.
Ikhlas tidak diajarkan lewat ceramah, tetapi lewat contoh. Orang-orang yang curhat kepadanya merasa “plong” bukan semata karena solusi, tetapi merekaa bertemu pribadi yang hadir utuh—tanpa beban, tanpa keluhan, tanpa kepentingan diri.
Tulisan AQUA akhirnya mengajak kita becermin: seberapa sering kita memaknai sakit sebagai karunia? Atau seberapa jarang kita memberi waktu jeda pada diri sendiri sebelum tubuh “berteriak”?
Belajar dari AQUA, sakit bukan tanda kita gagal mengelola hidup, tetapi tanda bahwa hidup sedang mengajak kita mengelola ulang makna. Bahwa produktivitas bukan segalanya. Bahwa ikhlas dan syukur bukan slogan, melainkan kerja sunyi yang dilatih setiap hari—termasuk di ranjang sakit.
Maka, mungkin benar kata AQUA: saat kita mampu bersyukur atas apa pun yang datang, di situlah kita tidak hanya menjadi lebih sehat secara fisik, tetapi juga lebih utuh sebagai manusia.
Bagaimana menurut Anda?*
Penulis adalah jurnalis, Pendamping Desa Wisata.
