
J5NEWSROOM.COM, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa inflasi Indonesia pada bulan Desember 2025 mencapai 2,92 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan kenaikan harga secara umum yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, meskipun masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali.
Salah satu faktor utama yang mendorong inflasi adalah naiknya harga beberapa komoditas pangan pokok. Kenaikan harga bahan makanan seperti cabai, daging, serta beberapa jenis sayuran memberi andil cukup besar terhadap laju inflasi. Permintaan terhadap komoditas tersebut meningkat menjelang akhir tahun, sementara pasokan belum sepenuhnya stabil sehingga harga menjadi lebih tinggi.
Selain itu, inflasi inti juga turut memberi tekanan meskipun relatif moderat. Inflasi inti mencerminkan tren kenaikan harga yang tidak dipengaruhi oleh barang-barang volatile seperti pangan dan energi. Kenaikan ini dipengaruhi oleh permintaan domestik yang tetap kuat serta biaya produksi yang sedikit meningkat.
Faktor lain yang berkontribusi adalah harga sejumlah barang dan jasa di sektor transportasi dan perumahan yang menunjukkan tren meningkat. Peningkatan biaya logistik akibat mobilitas masyarakat pada masa liburan akhir tahun turut memberikan efek pada harga barang tertentu.
Bank Indonesia dan pemerintah menyatakan telah memantau kondisi ini dengan seksama. Otoritas moneter menilai bahwa tingkat inflasi tersebut masih dalam batas aman sesuai target jangka menengah, namun tetap membutuhkan pengendalian agar tidak berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.
Untuk meredam tekanan inflasi, langkah-langkah kebijakan seperti penataan pasokan barang pokok, pengawasan harga di pasar, serta koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha akan terus dijalankan. Tujuannya adalah memastikan bahwa kenaikan harga tidak melampaui kemampuan daya beli masyarakat, terutama golongan berpendapatan rendah.
Para ekonom menilai bahwa inflasi di bawah tiga persen pada akhir tahun menunjukkan bahwa upaya stabilisasi harga cukup berhasil, meskipun masih terdapat tantangan di sisi pasokan dan permintaan. Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter akan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga.
Editor: Agung
