
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
Saat membaca surah Al-Isra’, ada satu ayat yang menurutku sangat mind blowing.
Yakni ayat ke 9 yang artinya, “Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.”
Saat membaca ayat ini, aku terdiam sejenak dan memahami bahwa ternyata untuk mendapatkan pahala yang hebat itu perjuangannya juga ga kalah berat ya.
Dan ternyata kabar gembira itu bukan hanya soal kesenangan di dunia, tapi tentang tempat yang udah Allah sediakan di surga.
Contoh realnya adalah dari orang-orang yang ada di Gz, mereka memiliki keteguhan, ketabahan, dan kesabaran yang jauh di atas rata-rata.
Dengan kondisi rumah yang sudah tak berbentuk, dengan kondisi kehilangan anggota keluarga, namun mereka tetap mengingat Allah Swt.
Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku untuk menghargai setiap waktu yang telah Allah berikan. Dahulu, bagiku belajar hanyalah suatu fase yang harus aku lewati tanpa memahami dengan benar esensi dibaliknya.
Bukannya aku tak tahu dunia sedang tak baik-baik saja. Namun, aku sesaat terdistrak oleh kehidupan pribadi yang begitu menguras tenaga. Hingga akhirnya aku kembali teringat pada peristiwa 07 Oktober 2023. Yap, benar sekali.
Peristiwa Thufaan Al Aqsha yang menjadi titik balikku untuk kembali memahami dengan benar apa yang harus dilakukan sebagai persiapan perjuangan pembebasan Baitul Maqdis.
Sebagai seseorang yang suka dengan aktivitas menulis, tentu ilmu yang ingin aku persiapkan adalah bagaimana sejarah Baitul Maqdis, kemudian peran generasi muda sebagai bentuk kontribusi terhadap perjuangan pembebasan Baitul Maqdis.
Dengan ilmu-ilmu yang telah dipelajari tersebut semoga Allah memberikan kemudahan untuk berbagi kepada teman-teman yang lainnya.
Karena ternyata aku baru menyadari satu hal jika kita belajar hanya untuk diri sendiri, maka sangat disayangkan sekali. Sebab pahala jariyah terlalu indah jika tidak kita pergunakan di jalan perjuangan ini.
Dari Baitul Maqdis aku belajar bahwa hidup bukan hanya soal kehidupan pribadi, tapi juga tentang memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki.
Wallahu a’lam bish showwab.
Penulis adalah siswi MAN 1 Kota Batam
