Banjir Bandang Di Purbalingga Disebabkan Kerusakan Kawasan Hulu

Banjir Bandang Di Purbalingga. (Foto: RMOL)

J5NEWSROOM.COM, Wilayah Kabupaten Purbalingga kembali dilanda banjir bandang setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan hulu sungai. Banjir ini terjadi akibat kerusakan lingkungan di daerah hulu, sehingga aliran air tidak tertahan dan bergerak deras ke pemukiman di hilir.

Kerusakan hutan dan area resapan air di bagian hulu sungai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya volume aliran air yang tiba-tiba. Kondisi ini diperparah oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan kurangnya vegetasi penahan air yang membuat tanah lebih mudah hanyut saat hujan deras.

Akibatnya, sejumlah rumah dan fasilitas umum di kawasan yang dilintasi sungai terendam banjir. Air yang datang secara tiba-tiba juga membawa material seperti lumpur dan batang kayu, sehingga menimbulkan kerusakan pada infrastruktur serta menghambat akses jalan di beberapa titik.

Warga yang terdampak banjir bandang melaporkan bahwa mereka terkejut dengan datangnya air yang begitu cepat. Banyak keluarga terpaksa mengungsi sementara karena rumah mereka tergenang hingga beberapa puluh sentimeter. Aktivitas sehari-hari seperti sekolah dan bekerja juga terganggu karena akses jalan yang tidak bisa dilalui.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait segera menurunkan tim untuk melakukan evakuasi, mengevakuasi warga yang terjebak di lokasi rawan, serta memberikan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya. Petugas juga melakukan pembersihan material banjir yang menutup akses jalan dan fasilitas publik.

Selain itu, upaya mitigasi juga mulai dilakukan di sepanjang kawasan terdampak untuk mencegah terjadinya banjir susulan. Pemerintah setempat mengimbau masyarakat agar waspada terhadap kemungkinan hujan deras di hari-hari berikutnya dan menghindari kawasan sungai yang berpotensi meluap.

Para ahli lingkungan menilai bahwa banjir bandang seperti ini adalah konsekuensi dari rusaknya kawasan hulu yang tidak lagi mampu menahan air secara alami. Mereka menyarankan adanya rehabilitasi hutan dan pengelolaan lahan yang lebih baik, termasuk penanaman kembali vegetasi untuk memperkuat fungsi resapan air.

Dengan langkah penanganan darurat dan perbaikan lingkungan yang gradual, diharapkan risiko banjir bandang dapat dikurangi di masa mendatang sekaligus memberi perlindungan yang lebih baik bagi warga yang tinggal di daerah aliran sungai.

Sumber: RMOL
Editor: Agung