NU Tidak Pernah Sepi Konflik, Tapi Selalu Penuh Jamaah

Rosadi Jamani

Dari Desember 2025 sampai hari ini, negeri ini diwarnai prahara di tubuh PBNU. Ya, macam sinetron yang hampir mengalahkan drama Ijazah Palsu. Untungnya, semua berakhir happy ending. Kali ini saya mau menuliskan sejarah singkat NU, kebetulan esok akan berusia satu abad. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Satu abad Nahdlatul Ulama itu bukan angka. Itu luka, doa, intrik, air mata, tawa, dan stamina kiai-kiai yang entah minum jamu apa sehingga sanggup bertahan dari zaman kolonial sampai era digital. NU lahir 31 Januari 1926 di Surabaya. Beridiri saat negeri bernama Indonesia masih wacana di kepala para pergerakan. Negara ini baru berdiri 1945, sementara NU sudah lebih dulu berdiri sambil menggendong tradisi, kitab kuning, dan keyakinan bahwa Islam tidak boleh tercerabut dari bumi tempat ia tumbuh. Umurnya sekarang 100 tahun lebih, tapi nyalinya seperti santri baru pulang dari latihan Pagar Nusa, penuh semangat dan susah disuruh tumbang.

Pendirinya, KH Muhammad Hasyim Asy’ari, bukan sedang iseng mendirikan organisasi. NU lahir dari kegelisahan yang serius. Saat itu, arus modernisasi Islam dan pengaruh Salafi dari Al-Irsyad datang dengan membawa semangat pemurnian yang kerap memandang tradisi lokal sebagai bid’ah kelas berat. Tradisi Jawa yang berlapis Hindu-Buddha dianggap pengganggu kesucian. NU datang sebagai penyeimbang. Mazhab Syafi’i dipertahankan, teologi Asy’ariyah dijaga, tasawuf ala Al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi dirawat. Islam boleh murni, tapi tidak harus kering. Dari embrio Tashwirul Afkar 1914, Nahdlatul Wathon 1916, hingga Nahdlatut Tujjar 1918 yang digagas KH Wahab Chasbullah, NU lahir bukan dari ruang rapat mewah, tapi dari kegigihan kaum sarungan yang menolak tercerabut dari akarnya.

Zaman penjajahan Belanda, NU tidak memproklamasikan diri sebagai pahlawan, tapi bekerja sunyi. Fokus dakwah dan pendidikan, memperkuat basis pesantren di Jawa Timur dan sekitarnya. Tahun 1928, NU membolehkan khotbah Jumat dalam bahasa Jawa. Hari ini itu terdengar biasa, tapi waktu itu sebuah revolusi sunyi. Agama harus dipahami, bukan sekadar dilantunkan. Tahun 1937, NU bergabung dalam MIAI bersama organisasi Islam lain. Hubungan dengan Muhammadiyah kerap tegang, seperti saudara yang beda selera musik tapi tetap satu rumah. Ketika Jepang datang 1942, MIAI diganti Masyumi. KH Hasyim Asy’ari menjadi ketua nasional, sementara KH Wahid Hasyim memimpin secara praktis. Jepang memanfaatkan organisasi Islam, NU memanfaatkannya kembali untuk bertahan dan menyusun perlawanan.

Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945, NU tidak berhenti di tepuk tangan. Oktober 1945, resolusi jihad dikumandangkan, melawan Belanda hukumnya wajib. Ini bukan kalimat metaforis. Hizbullah dan Sabilillah turun ke medan tempur. Santri yang kemarin mengaji, hari ini memanggul senjata. NU ikut memastikan republik ini tidak lahir prematur lalu mati muda. Di saat yang sama, KH Wahid Hasyim ikut merajut fondasi negara, berkontribusi dalam perdebatan Piagam Jakarta dan Pancasila. NU ribut, beda pendapat, tapi arah besarnya satu: Indonesia harus berdiri.

Tahun 1952, NU terjun ke politik praktis dengan memisahkan diri dari Masyumi. Pada Pemilu 1955, NU meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante dengan 18,41 persen suara nasional. Itu bukan angka kecil, itu bukti NU bukan sekadar organisasi pengajian. Di era Demokrasi Terpimpin, NU ikut dalam skema NASAKOM Soekarno. Lalu Orde Baru datang dengan tekanan politik yang lebih rapi tapi menusuk. Tahun 1973, NU dipaksa bergabung ke PPP. Konflik internal merebak, antara yang ingin terus berpolitik dan yang ingin kembali ke akar. Sampai akhirnya pada Muktamar Situbondo 1984, NU mengambil keputusan bersejarah, kembali ke Khittah 1926. Politik ditinggalkan sebagai kendaraan utama, dakwah dan sosial kembali jadi napas. Dari fase ini, muncul sosok Gus Dur, kritis, nyeleneh, dan sering bikin penguasa sakit kepala.

Reformasi 1998 membuka bab baru. NU tidak berpolitik sebagai organisasi, tapi melahirkan PKB. Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke-4 pada 1999. Sejarah mencatat, santri pernah memimpin republik. Setelah itu, NU terus berjalan dengan kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, KH Ma’ruf Amin hingga Gus Yahya Cholil Staquf. Konflik internal tidak pernah absen, dari perdebatan Islam Nusantara hingga drama Syuriyah dan Tanfidziyah sepanjang 2025. Saling pecat, surat-menyurat, adu tafsir AD/ART, sampai akhirnya islah menjelang akhir 2025. NU ribut, tapi selalu punya rem darurat bernama kiai sepuh.

Hingga 2026, NU diperkirakan memiliki sekitar 159 juta pengikut, menjadikannya organisasi Islam terbesar di dunia. Strukturnya raksasa. PBNU, wilayah, cabang, badan otonom dari Ansor sampai Muslimat, dari IPNU hingga PMII. Di bidang pendidikan, NU mengelola 183 perguruan tinggi resmi di bawah LPTNU, terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi. Ini belum termasuk ribuan pesantren, madrasah, dan sekolah yang hidup dari gotong royong. Survei LSI Denny JA 2023 mencatat 56,9 persen umat Islam Indonesia mengidentifikasi diri sebagai NU, melonjak dari 27,5 persen pada 2005. Angka itu menunjukkan NU bukan sekadar bertahan, tapi tumbuh, membesar, dan mengakar.

Besok, 31 Januari 2026, NU genap berusia satu abad Masehi dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Istora Senayan akan dipenuhi istighosah, doa, dan ingatan kolektif tentang perjalanan panjang ini. NU bukan organisasi suci tanpa cacat. Ia penuh konflik, drama, dan perdebatan keras. Tapi justru di situlah keperkasaannya. NU hidup karena ia manusiawi. Di usia seabad ini, NU berdiri sebagai bukti, tradisi bisa modern, agama bisa ramah, dan organisasi berbasis pesantren bisa menjadi jangkar moral bangsa. Membaca kisah NU, orang tak hanya paham sejarah, tapi juga belajar satu hal penting, bertahan seratus tahun bukan soal bebas konflik, melainkan soal selalu pulang ke niat awal. NU, sejauh ini, selalu berhasil pulang.

Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar