
J5NEWSROOM.COM, Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak lagi menampilkan data aliran modal asing secara mingguan melalui situs resminya sejak akhir pekan lalu. Informasi tersebut disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso yang menjelaskan bahwa bank sentral kini hanya akan melaporkan perkembangan kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sebelumnya, BI secara rutin merilis laporan mingguan yang berisi sejumlah indikator keuangan seperti pergerakan nilai tukar rupiah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury, hingga arus modal asing. Data tersebut juga mencakup aktivitas masuk dan keluar investor nonresiden di pasar saham, SBN, dan SRBI serta premi credit default swap (CDS).
Ramdan menegaskan kebijakan ini diambil untuk meningkatkan akuntabilitas serta reliabilitas data. Ia menyebutkan bahwa perkembangan aliran modal asing untuk saham dan SBN kini dapat diakses langsung melalui situs Bursa Efek Indonesia dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan.
Pada pekan terakhir Januari 2026, BI masih merilis laporan yang menunjukkan adanya capital outflow sebesar Rp12,55 triliun dari pasar keuangan domestik. Nonresiden tercatat melakukan jual neto Rp12,4 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar SBN, sementara beli neto Rp2,61 triliun terjadi pada SRBI. Secara kumulatif hingga 29 Januari 2026, investor asing mencatatkan beli neto Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp10 miliar di pasar SBN.
Sementara itu, premi CDS Indonesia tenor lima tahun pada 29 Januari 2026 berada di level 75,31 basis poin, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 73,05 basis poin. Kenaikan premi CDS tersebut mencerminkan persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang pemerintah.
Sumber: RMOL
Editor: Agung
