
Oleh Dr Aqua Dwipayana
RABU, 18 Februari 2026, sejak pagi hingga malam, saya mendapat rezeki beruntun. Nilainya melebihi materi. Saya sangat mensyukuri semuanya. Wujud nyata TUHAN baik sekali kepada saya. Alhamdulillah…
Rezeki itu saya peroleh sehari sebelum memulai puasa Ramadhan. Hal itu menambah semangat saya untuk terus melakukan yang terbaik selama bulan suci Ramadhan dan sepanjang hayat saya.
Kemarin saya ketemu tiga jenderal hebat dan luar biasa. Mereka adalah sahabat akrab saya. Sukses meniti karier dan rumah tangga.
Mereka adalah Sekretaris Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) Komjen Pol Makhruzi Rahman, Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI) Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman.
Ketiga jenderal itu memiliki karakter yang mirip: jati dirinya kuat atau punya prinsip, rendah hati, selalu memenuhi komitmen, menghargai jajaran, respek kepada semua orang, dan senang menerima masukan.
Semua hal positif yang ada pada diri mereka membuatnya sukses meniti karier di institusi masing-masing. Mendapat dukungan penuh dari keluarga, jajaran, dan para mitra.
Saya sangat betah ngobrol berjam-jam dengan mereka. Sambil diskusi dan menyimak, saya banyak belajar dari semua yang mereka utarakan. Seluruhnya “daging” dan “gizi”.
Saya menikmati sekali membicarakan berbagai hal dengan mereka. Semuanya nyambung. Sangat menyenangkan dan mengesankan sekali.
Begitu asyiknya kami berdiskusi, tidak terasa durasinya berjam-jam. Waktu begitu cepat berlalu. Sementara masih banyak yang menarik untuk dibicarakan.
Pertemuan dengan mereka tidak hanya membahagiakan saya. Lebih dari itu saya memperoleh satu persatu rezeki yang sangat bermanfaat.
Saya sangat bersyukur karena tidak banyak orang seberuntung saya. Dalam sehari ketemu tiga jenderal hebat yang banyak memberi keteladanan. Mereka jadi role model kehidupan. MasyaALLAH…
Memberikan Apresiasi
Sekira pukul 07.00 saya sudah tiba di kantor Makhruzi Jl. Kebon Sirih No. 31A Jakarta Pusat. Bapak dua anak itu belum tiba. Lewat WhatsApp (WA) mempersilahkan saya langsung ke ruang kerjanya di lantai 2.
Saya cukup familiar dengan ruang kerja pria asal Kalimantan Barat itu. Telah berkali-kali ke sana untuk silaturahmi.
Sekira pukul 07.30 Makhruzi tiba. Dengan hangat dan akrab menyapa saya. Menawarkan minuman dan sarapan. Pilihan saya teh tawar hangat dan gado-gado.
Ia baru kembali dari Papua. Mendampingi anggota DPR RI yang berkunjung ke sana. Juga mengajak beberapa wartawan.
Makhruzi cerita pengabdian dan perjuangan jajarannya selama 24 jam menjaga perbatasan Indonesia dengan beberapa negara. Luar biasa.
“Cuma mereka tidak mendapat tunjangan. Padahal tugasnya di daerah 3T yaitu tertinggal, terdepan, dan terluar. Fasilitasnya minim sekali,” ujarnya.
Setiap mengunjungi mereka, Makhruzi selalu memberikan apresiasi. Menganggap mereka pahlawan yang posisinya secara fisik sebagai garda terdepan bangsa dan negara Indonesia.
Kami mendiskusikan banyak hal, termasuk rencana acara Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada pegawai BNPP. Jumlahnya sekira 500 orang. Mereka tersebar di berbagai provinsi yang berbatasan dengan negara tetangga.
Makhruzi memanggil Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Kepegawaian BNPP Dr Belly Isnaeni. Meminta pria asal Palembang, Sumatera Selatan itu untuk mempersiapkan acara dan melaksanakan kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi.
“Dr Aqua Dwipayana ini dosen saya di Seskoal dan Sesko TNI. Beliau Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional,” ujar Makhruzi memperkenalkan saya ke Dr Belly.
Saya pertama kali ketemu Makhruzi pada 2006 di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Cipulir, Jakarta. Waktu itu ia yang berpangkat AKBP sebagai siswa. Sedangkan saya dosen luar biasa pelajaran Komunikasi Sosial.
Sekira 10 tahun kemudian, pada 2016 kami jumpa kembali di kelas. Tempatnya di Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) Bandung. Posisinya tetap sama.
Di luar itu kami sering ketemu termasuk saat Makhruzi masih bertugas di Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kami jumpa tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di provinsi lain termasuk Gorontalo dan Sulawesi Utara.
Setelah ngobrol sekira 3 jam, saya pamit. Melanjutkan silaturahim ke tempat lain.

Efektif Pendekatan Pribadi
Siangnya di Aroem Resto & Cafe Jl. Abdul Muis No.14 Jakarta Pusat, saya ketemu Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI) Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah. Sejak 16 Desember 2016 ia mendapat amanah menjabat itu menggantikan Mayjen TNI Mar Freddy Ardianzah.
Aulia yang tiba dari Divisi Infanteri 1/Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat ditemani tiga jajarannya. Mereka adalah Letda Mar Suci Kurniawan, Serka Fany Eka Saputra, Ujang Mulyana. Kami duduk semeja.
Saya melihat langsung keakraban Aulia dengan jajarannya. Sama sekali tidak ada jarak. Ia mempersilahkan mereka memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing.
Saya mengucapkan selamat atas promosinya Aulia sebagai Kapuspen TNI. Jabatan strategis yang sangat bergengsi.
Aulia yang pernah jadi jenderal termuda —dilantik jadi Brigjen TNI pada usia 46 tahun di awal 2024— cerita pengalamannya selama 2 bulan 2 hari jadi Kapuspen TNI. Seru dan sangat menarik.
Saya menyimak semua ceritanya termasuk saat ia pertama kali dapat amanah sebagai Kapuspen TNI. Berniat, bertekad, dan optimis sukses melaksanakan kepercayaan tersebut.
Sebagai mantan wartawan (selama 6 tahun) di banyak media besar termasuk di harian Jawa Pos dan Bisnis Indonesia serta sekira 10 tahun sebagai Humas Semen Cibinong, saya menyampaikan banyak masukan ke Aulia. Intinya agar intens berkomunikasi dengan media dan menghargai keberadaan mereka.
Saya cerita pengalaman saat menjadi humas dalam kondisi krisis (1995 – 2005). Setiap hari berkomunikasi dengan teman-teman yang bekerja di banyak media arus utama (mainstream).
Menghargai semua pekerjaan mereka dan hasilnya. Sama sekali tidak pernah mengintervensi berita yang akan mereka muat.
“Pengalaman saya selama jadi humas, paling efektif pendekatannya secara informal dan pribadi. Aktif berkomunikasi meski tidak ada berita,” jelas saya.
Kami sepakat untuk melaksanakan acara Sharing Komunikasi dan Motivasi dengan jajaran Aulia yang jumlah 90 orang. Kegiatannya Senin pagi (2/3/2026) di kantornya Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.
Setelah ngobrol sekira 1,5 jam, kami berpisah. Aulia harus mendampingi Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.

Apresiasi kepada Ipunk dan Tulang Siregar
Sorenya sebelum pukul 17.00, saya tiba di rumah Marciano di Jakarta Pusat. Lebih cepat beberapa menit dari yang dijadwalkan.
Seperti biasa Marciano dengan hangat dan akrab menyambut saya. Menanyakan kabar dan aktivitas terakhir yang saya lakukan.
Lewat tulisan yang rutin saya kirimkan, Marciano memonitor kegiatan saya. Ternyata Sabtu (14/2/2026) saat saya sedang di Yogyakarta, Marciano dan istrinya Watty Marciano sedang di kota yang sama.
“Saya dan ibu hanya semalam di sana. Kami menghadiri undangan teman. Menginap di Hotel Royal Ambarrukmo,” ujar mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden itu.
Sambil mendiskusikan berbagai hal aktual termasuk olahraga, kami menikmati bakso yang yummy. Itu makanan favorit Marciano.
Sebagai Stat Ahli Ketua Umum KONI Pusat, saya melaporkan hasil pertemuan dengan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) provinsi Sumatera Utara (Sumut) M. Mahfullah Pratama Daulay, Ketua Umum KONI Sumut Kolonel TNI Purn Hatunggal Siregar, kunjungan ke banyak venue olahraga di Medan yang sangat terawat karena dikelola dengan baik oleh Dispora Sumut.
Juga saya menginfokan rencana acara Sharing Komunikasi dan Motivasi di Dispora Sumut dan KONI Sumut termasuk di 33 KONI tingkat II se-Sumut, kepada pengurus cabang olahraga, para pelatih, dan atlet.
Saya menyampaikan bahwa Ipunk panggilan akrab M. Mahfullah Pratama Daulay dan Tulang Siregar, sebutan saya ke Hatunggal Siregar, yang akan mengkoordinir semua kegiatan itu. Aktivitas itu dilakukan untuk memajukan olahraga di Sumut.
Marciano menyambut gembira dan sangat mendukung semua rencana itu. Sesuai keinginannya sejak lama agar saya aktif memotivasi para insan olahraga di Tanah Air.
Melalui saya, Marciano menyampaikan apresiasi kepada Ipunk dan Tulang Siregar. Yakin duet mereka dapat memajukan olahraga di Sumut.
Kagumi Lukisan Watty
Saat kami sedang ngobrol, Watty datang dan nimbrung. Diskusinya makin seru. Diselingi dengan tertawa karena banyak hal-hal lucu yang kami bicarakan.
Sebelum pamit, saya diajak melihat puluhan lukisan karya Watty. Saya kagum dengan semua termasuk lukisan penari Bali yang dilukis bersama pelukis terkenal almarhum I Nyoman Gunarda. Lukisan itu ditempel di ruang tamu Marciano.
Watty yang melukis sejak 1996 telah melakukan pameran di banyak tempat termasuk di Amerika. Banyak kolektor yang mengoleksi lukisannya.
Di sela-sela jadwalnya yang padat, baik mengurus keluarga maupun olahraga berkuda, Watty aktif melukis. Melakukan di ruang belakang di rumahnya.
“Salah satu hiburan ibu adalah melukis. Melakukannya kapan saja. Saya sejak dulu sangat mendukung kegiatan positif tersebut,” ungkap Marciano.
Setelah ketemu hampir 4 jam, saya pamit. Kembali ke Bogor dengan membawa banyak rezeki.
Alhamdulillah.
Dari Bogor seusai buka puasa, saya ucapkan selamat berusaha untuk rutin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari banyak orang. Salam hormat buat keluarga.
18.30 19022026
Penulis adalah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
