
Oleh: Rosadi Jamani
Puasa Ramadan panen koruptor bagi KPK. “Spesialis Nangkap Bupati” julukan baru lembaga antirasuah itu.
Belum lama ini KPK mengandangi Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq. Tak lama berselang, Bupati dari Rejang Lebong, M Fikri Thobari ikut masuk jeruji. Orang mungkin mengira itu sudah cukup untuk menu berbuka. Ternyata belum. Seperti nelayan yang sekali menebar jaring ingin menarik ikan lebih banyak, KPK kembali menebar jaringnya. Kali ini yang diseret ke sel, pemimpin dari kota industri di pesisir selatan Jawa Tengah, Cilacap.
Nama yang muncul dari jaring itu bukan orang sembarangan. Ia bukan tukang parkir kantor bupati yang nyasar ke ruang rapat. Ia adalah sang pemimpin daerah itu sendiri, Syamsul Auliya Rachman.
Kalau CV manusia bisa bersuara, CV beliau mungkin sudah berdiri di podium sambil berkata, “Saya terlalu mulia untuk tersandung kasus.” Lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri, bergelar S.STP, melanjutkan magister administrasi publik di Universitas Jenderal Soedirman, lalu menutup semuanya dengan gelar doktor ilmu pemerintahan. Doktor! Gelar yang biasanya membuat orang langsung terlihat bijaksana bahkan saat hanya memegang mikrofon.
Riwayat hidupnya tampak seperti brosur motivasi anak bangsa. Lahir di Cilacap pada 30 November 1985 dari pasangan H. Imam Haryono dan Hj. Mumbasiroh. Sekolahnya rapi seperti barisan pasukan upacara: SD Negeri Tritih Wetan 01, SMP Negeri 5 Cilacap, lalu SMA Negeri 1 Cilacap. Jalur pendidikan yang kalau dijadikan jalan raya mungkin sudah diaspal halus tanpa satu lubang pun.
m
Kariernya juga naik seperti roket yang baru menyalakan mesin. Tahun 2011 menjadi Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum di Kecamatan Kedungreja. Naik menjadi Kepala Subbagian Otonomi Daerah dan Kerja Sama di Setda Cilacap. Pernah menjadi ajudan bupati. Dari ajudan naik menjadi Wakil Bupati Cilacap pada 2017. Lalu pada Pilkada 2024, bersama Ammy Amalia Fatma Surya, ia memenangkan pertarungan dengan 414.533 suara atau sekitar 43,81 persen suara sah.
Sah. Legal. Rakyat memberikan mandat.
Ia juga tokoh penting di Partai Kebangkitan Bangsa sebagai Ketua DPC Cilacap. Aktif di berbagai organisasi: HIPMI, ISNU, hingga memimpin PBSI Cilacap. Kehidupan keluarga juga tampak ideal bersama istrinya dr. Ira Tanti Sartika dan dua anak mereka.
Pendek kata, kalau seseorang diminta membuat patung “Pemimpin Muda Ideal Daerah”, kemungkinan wajahnya akan mirip Syamsul. Tinggal dipasang di alun-alun, diberi lampu sorot, dan dijadikan inspirasi.
Namun negeri ini punya bakat khusus dalam memproduksi plot twist.
Pada malam 13 Maret 2026, di bulan yang seharusnya penuh zikir dan takjil, KPK datang melakukan operasi tangkap tangan di Cilacap. Bukan operasi kecil. Sekitar 27 orang ikut diamankan, mulai dari pejabat, ASN, dan pihak swasta. Di antara mereka, duduklah sang bupati.
Jumlah uang yang ditemukan? Belum diumumkan resmi. KPK masih punya waktu 1×24 jam untuk mengumumkan detailnya. Tetapi sebenarnya publik sudah hafal alurnya. Uangnya mungkin ratusan juta, mungkin beberapa miliar. Namun nilai proyek di belakangnya sering kali seperti monster laut, puluhan hingga ratusan miliar.
Di sinilah tragedi komedi Indonesia selalu dimainkan dengan sempurna. Negara ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan doktor. Tidak kekurangan pejabat yang CV-nya lebih tebal dari skripsi mahasiswa. Yang sering kekurangan hanyalah satu hal kecil, malu.
Korupsi di negeri ini aneh. Ia tidak takut pada gelar doktor. Ia tidak gentar pada sumpah jabatan. Ia tidak peduli bulan Ramadan sedang berlangsung. Ia masuk saja, duduk di meja pejabat, lalu berbisik pelan, “Sedikit saja tidak apa-apa.”
Anehnya, bisikan itu sering lebih kuat daripada suara hati.
Sementara itu KPK berdiri seperti nelayan yang sudah sangat berpengalaman. Jaring dilempar, bupati masuk. Jaring dilempar lagi, bupati lain ikut masuk. Jika tren ini terus berlanjut, mungkin suatu hari nanti orang akan bercanda pahit: kalau ingin bertemu bupati Indonesia, tidak perlu ke kantor pemerintahan, cukup tunggu konferensi pers KPK.
Yang paling menyedihkan sebenarnya bukan OTT itu sendiri. Yang membuat muak adalah pola yang selalu sama. Seorang pemimpin dipuji setinggi langit, dielu-elukan sebagai harapan daerah, dipanggil “anak muda cerdas”, “pemimpin visioner”, “doktor kebanggaan daerah”.
Lalu suatu malam, semua pujian itu runtuh seperti panggung kardus yang kehujanan.
Rakyat kembali menyadari satu hal yang sangat menyakitkan, di negeri ini, kadang-kadang gelar doktor hanya menambah panjang nama di papan tahanan.
“Bupati lagi yang ditangkap. Menteri kek atau Gubernur, tontonan korupsi kan lebih seru, Bang.”
“Benar, wak. KPK masih bermain di level receh. Padahal, di pusat itulah kolam korupsi terbesar.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Ketua Satupena Kalbar
