Menjelang Lebaran, Tawa Agus si Mantan Kopassandha Menghangatkan Jalanan Kecil Pondok Pinang

Agus, pedagang asinan Bogor di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, melayani pembeli di tengah suasana menjelang Idulfitri, Jumat (20/3/2026). (Foto: Aldy/BTD)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Suasana menjelang Idulfitri selalu punya cara sendiri untuk menghidupkan sudut-sudut kota. Di jalan H. Minan, kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, hiruk pikuk kendaraan berpadu dengan aroma asinan segar yang menggoda.

Di tengah kesibukan warga yang ditemani dengan aroma masakan khas lebaran, seorang pria renta dengan senyum khas dan gigi yang tak lagi lengkap setia melayani pelanggan. Dialah Agus, pedagang asinan Bogor yang menyimpan kisah tak biasa.

Tak banyak yang menyangka, di balik gerobak sederhana itu, Agus pernah menjadi bagian dari Kopassandha, nama lama dari Kopassus, satuan elite TNI Angkatan Darat yang dikenal tangguh dan penuh disiplin.

Agus tak banyak bercerita soal masa lalunya. Ia memilih menutup rapat alasan mengapa dirinya keluar dari satuan yang pernah membesarkan nama Prabowo Subianto itu. Namun di antara canda pelanggan setia, kisah itu kerap mencair menjadi tawa.

“Agus keluar dari Kopassandha karena malas manggil senjata,” celetuk Sudayat, salah seorang pelanggan setia, dengan logat Betawi yang kental, Jumat (20/3/2026).

Seketika, tawa Agus pecah. Candaan itu seolah menjadi bagian dari keseharian yang menghangatkan hubungan antara pedagang dan pelanggan. Di mata Agus, mereka bukan sekadar pembeli. “Semua warga di Pondok Pinang ini sudah macam saudara,” ujarnya sambil tersenyum.

Sambil melayani pelanggan setianya, Agus bercerita dengan semangat, rampak tangannya yang tak lagi kekar, namun tetap lincah meracik asinan Bogor yang sudah terkenal itu. Agus lahir pada 1955 silam. Ia mengaku berdarah Sumedang, namun lahir di Bogor sebelum akhirnya merantau ke Jakarta sekitar tahun 1975. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari jalanan.

Pada era 1980-an, Agus mulai berdagang. Ia pernah menjajakan gorengan, berjalan kaki menyusuri kawasan Daan Mogot hingga Salemba. Panas, hujan, hingga kerasnya kehidupan ibu kota sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Namun roda hidup terus berputar. Sekitar 30 tahun terakhir, Agus menetap dengan satu dagangan yang kini melekat pada dirinya, yakni, asinan Bogor. Ia berkeliling di kawasan Pondok Pinang, Pondok Indah, hingga Bintaro. Dari satu kompleks ke kompleks lain, Agus bukan hanya menjual makanan, tetapi juga menjalin hubungan.

“Langganan saya banyak juga yang dari kalangan artis. Di Pondok Indah kan banyak rumah artis,” ujarnya.

Kini, dalam sehari, Agus bisa meraup penghasilan hingga Rp500 ribu. Dengan harga Rp15 ribu per porsi, dagangannya tetap diminati berbagai kalangan. Ia pun tak lupa mengenang masa lalu. “Dulu dapat Rp25 ribu saja sudah hebat. Waktu itu harga asinan masih Rp250 per porsi,” kenangnya.

Menjelang Lebaran, berkah terasa semakin nyata. Agus mengaku kerap mendapat rezeki lebih dari para pelanggan, terutama di kawasan Pondok Indah. “Besok sudah mau hari raya, saya banyak dapat hadiah dari pelanggan. Orang kaya di Pondok Indah banyak yang kasih uang. Alhamdulillah,” ucapnya penuh syukur.

Di tengah usia yang tak lagi muda, Agus tetap memilih berjualan. Baginya, berhenti bukan pilihan. “Saya kalau nggak jualan takut stroke,” katanya sambil tertawa lepas.

Tawa itu menyatu dengan suasana ujung Ramadan yang mulai beranjak menuju puncaknya. Di antara lalu lalang kendaraan dan kesibukan warga menyambut Lebaran, Agus tetap setia di jalannya, menjaga tradisi, menyambung silaturahmi, dan membuktikan bahwa hidup tak selalu tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana menjalaninya hari ini dengan penuh syukur. “Alhamdulillah, terimakasih banyak yaa, orang jauh dari Batam, nyicip lagi asinan saya,” ucapnya sambil mendorong gerobak tuanya.

Editor: Agung