
J5NEWSROOM.COM, Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai menjadi konsekuensi yang sulit dihindari di tengah gejolak geopolitik global, terutama akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dosen FISIP Universitas Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono, menyatakan bahwa sistem energi dunia yang saling terintegrasi membuat Indonesia tidak bisa sepenuhnya lepas dari dampak eksternal. “Kenaikan harga BBM nonsubsidi di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah merupakan konsekuensi yang sulit dihindari dalam sistem energi global yang saling terhubung,” ujarnya, Rabu, 1 April 2026.
Menurutnya, dalam perspektif kebijakan publik, penyesuaian harga BBM bukan semata keputusan internal pemerintah. Langkah tersebut merupakan respons terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan serta ketidakpastian global yang terus berkembang.
Kristian menekankan bahwa kebijakan kenaikan harga perlu dilihat secara menyeluruh, terutama dalam kaitannya dengan stabilitas energi nasional. Ia juga mengingatkan bahwa batas kenaikan harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat serta potensi dampaknya terhadap inflasi.
“Secara empiris, kenaikan dalam kisaran tertentu masih dapat dikelola tanpa menimbulkan gejolak besar,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat diminta tetap bersikap rasional dalam menghadapi situasi ini. Penghematan energi serta penyesuaian pola pengeluaran rumah tangga menjadi langkah penting untuk meredam dampak kenaikan harga.
Kristian juga berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang transparan dan bertahap, sekaligus memperkuat perlindungan sosial bagi kelompok rentan agar dampak ekonomi dapat diminimalkan.
Editor: Agung
