Pemecatan Jenderal di Tengah Perang Iran Picu Guncangan di Militer AS

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. (Foto: Ist

J5NEWSROOM.COM, Kebijakan besar terjadi di tubuh militer Amerika Serikat setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth memecat Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, di tengah memanasnya konflik dengan Iran. Langkah ini dinilai sebagai salah satu perombakan militer terbesar saat masa perang dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut laporan pejabat Pentagon, Hegseth meminta Jenderal George untuk segera mundur dan pensiun meski masa jabatannya belum selesai. Di saat yang sama, Gedung Putih juga tengah mempertimbangkan nasib Dan Driscoll, yang disebut-sebut berpotensi segera meninggalkan jabatannya.

Situasi ini terjadi ketika Presiden Donald Trump tetap menyampaikan apresiasi terhadap kinerja militer dalam konflik melawan Iran. Namun di internal Pentagon, posisi George disebut sudah melemah sejak Hegseth mulai menjabat dan melakukan sejumlah perubahan besar, termasuk menyingkirkan pejabat yang dianggap tidak sejalan dengan arah kebijakan baru.

Ketegangan internal juga disebut melibatkan rivalitas antara Hegseth dan Driscoll, yang sama-sama berlatar belakang militer dan memiliki ambisi politik. Waktu pemecatan yang bertepatan dengan hari ke-33 operasi militer ke Iran dinilai berisiko memicu ketidakstabilan di tubuh angkatan bersenjata terbesar AS.

Di lapangan, situasi militer masih sangat intens. Sekitar 50.000 pasukan Amerika dikerahkan di kawasan Teluk, didukung kapal perang dan kapal selam. Pasukan darat, termasuk dari Divisi Lintas Udara ke-82, mulai diperkuat untuk mendukung operasi yang sebelumnya lebih berfokus pada serangan udara dan laut.

Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas. Selain itu, anggaran besar juga telah digelontorkan untuk sistem pertahanan menghadapi serangan drone dan rudal balistik Iran, sehingga pimpinan Angkatan Darat kini menghadapi tantangan besar dalam mengisi kembali persenjataan.

Langkah cepat Hegseth dalam merombak jajaran militer dinilai jauh lebih agresif dibandingkan era konflik sebelumnya seperti perang Irak dan Afghanistan. Sejumlah pejabat tinggi, termasuk pimpinan tertinggi militer dan perwira senior lainnya, telah dicopot dalam waktu singkat.

Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan rinci dari pihak Pentagon terkait alasan di balik pemecatan tersebut. Di tengah kondisi ini, para analis menilai arah strategi perang AS masih belum sepenuhnya jelas, terlebih dengan dampak ekonomi global yang muncul akibat gangguan pasokan energi, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Presiden Trump sendiri menyebut konflik kemungkinan akan berlangsung dua hingga tiga pekan ke depan. Namun banyak pihak menilai perkiraan tersebut terlalu optimistis, mengingat situasi di lapangan yang masih penuh ketidakpastian serta belum terlihatnya perubahan signifikan terhadap rezim di Iran.

Editor: Agung