
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Kenaikan harga plastik di Indonesia terjadi akibat terganggunya pasokan global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memberi tekanan besar bagi industri dalam negeri hingga berdampak pada pelaku usaha kecil.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa lonjakan harga berkaitan erat dengan tersendatnya distribusi bahan baku utama plastik, yakni nafta yang merupakan turunan minyak bumi.
Menurutnya, konflik yang terjadi menyebabkan jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Padahal, sekitar 70 persen pasokan nafta berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga distribusi ke industri petrokimia ikut terhambat.
Ketergantungan terhadap wilayah tersebut membuat dampaknya langsung dirasakan secara global, termasuk di Indonesia. Selain hambatan distribusi, beberapa kilang minyak di kawasan Teluk juga terdampak serangan, sehingga memperburuk kondisi pasokan.
Meski konflik telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, dampak kenaikan harga baru terasa pada awal Maret. Hal ini dipicu oleh menipisnya stok bahan baku serta meningkatnya permintaan menjelang Lebaran.
Perubahan pola pasar mulai terlihat setelah periode libur panjang, di mana permintaan meningkat sementara pasokan bahan baku mengalami penyesuaian.
Di tengah situasi tersebut, industri plastik nasional kini berupaya bertahan dengan menekan produksi agar tetap efisien dan tidak mengalami kerugian. Kondisi ini disebut masih berada pada tahap “survival mode”, belum sampai pada penghentian operasional.
Dampak kenaikan harga juga merambat ke sektor hilir, termasuk pedagang kecil. Harga plastik kresek di pasaran ikut meningkat, sehingga menambah beban biaya operasional.
Karena plastik digunakan di berbagai sektor, mulai dari produksi hingga pengemasan, kenaikan harga ini turut mendorong naiknya harga berbagai produk. Akibatnya, daya beli pelaku usaha kecil pun semakin tertekan.
Editor: Agung
