Cuaca di Makkah-Madinah Panas, Ini Sarah Dokter Fathi Agar tak Dehidrasi

Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr M Fathi Banna Al Faruqi. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Kondisi cuaca di Arab Saudi selama musim haji 2026 diperkirakan tetap panas dengan tingkat kelembaban rendah, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi jemaah. 

Dalam pengamatannya, suhu siang hari di Makkah mencapai sekitar 39 derajat Celcius, sementara di Madinah berkisar 38 derajat Celsius.

Petugas kesehatan mengingatkan pentingnya kesiapan fisik dan kebiasaan sederhana untuk mencegah risiko tersebut.

Tenaga kesehatan dari Tim Kesehatan Penyelenggara Ibadah Haji (PKPPJH) Sektor 1 Daerah Kerja Bandara, dr M Fathi Banna Al Faruqi, menjelaskan, suhu di wilayah Makkah dan Madinah menjelang musim haji sudah berada pada kisaran tinggi. 

Meski belum mencapai puncak musim panas, kondisi tersebut dinilai tetap lebih ekstrim dibandingkan suhu di Indonesia. Selain panas, karakter udara yang kering menjadi faktor tambahan yang dapat mempercepat penguapan cairan tubuh.

“Perbedaan suhu dan kelembapan ini perlu diantisipasi, karena udara kering membuat cairan tubuh lebih cepat menguap dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dampak paling awal yang umum dialami jemaah adalah dehidrasi ringan. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena keringat langsung menguap tanpa terasa. 

Salah satu tanda awal yang kerap muncul adalah bibir kering dan pecah-pecah. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka terbuka yang berisiko terinfeksi. Selain itu, jemaah juga berpotensi mengalami sariawan yang dapat mengganggu asupan makanan.

“Ketika bibir pecah atau sariawan, jemaah menjadi tidak nyaman saat makan. Dampaknya, asupan energi berkurang dan kondisi dehidrasi bisa semakin parah,” jelasnya.

Gangguan sederhana tersebut, lanjutnya, dapat berdampak lebih luas terhadap kelancaran ibadah. 

Penurunan energi dan cairan tubuh berisiko mengganggu aktivitas fisik jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji yang padat.

Sebagai langkah pencegahan, dr Fathi menekankan pentingnya menjaga hidrasi tubuh dengan pola minum yang tepat. Ia menganjurkan jemaah untuk tidak menunggu rasa haus, melainkan minum secara berkala.

“Disarankan minum dua teguk setiap 10 menit. Cara ini menjaga cairan tubuh tetap stabil tanpa membuat jemaah terlalu sering ke kamar kecil,” katanya.

Menurutnya, pola tersebut lebih efektif dibandingkan minum dalam jumlah besar sekaligus, yang justru dapat memicu frekuensi buang air kecil berlebih dan berpotensi mengganggu ibadah.

Selain itu, jemaah juga diimbau untuk selalu membawa botol minum, baik berisi air putih maupun air zamzam, agar kebutuhan cairan dapat terpenuhi setiap saat.

Upaya lain yang perlu dilakukan adalah menjaga kelembaban bibir dengan menggunakan pelembap seperti lip balm atau produk berbasis petroleum jelly.

Kandungan tersebut dinilai efektif melindungi permukaan bibir dari kekeringan akibat paparan udara panas.

“Langkah-langkah sederhana ini penting agar jemaah tetap sehat dan bisa menjalankan ibadah dengan optimal,” ujarnya.

Dengan kondisi cuaca yang cenderung ekstrim, kesiapan individu menjadi kunci utama. 

Petugas kesehatan berharap jemaah dapat meningkatkan kesadaran terhadap pola hidup sehat selama berada di Tanah Suci, sehingga risiko gangguan kesehatan dapat diminimalkan.

Editor: Saibansah Dardani