Jamin Kualitas Konsumsi Jemaah, Kemenhaj Lakukan Pengawasan Berlapis Katering di Madinah

Perwakilan tim pengawas, Nova MH saat menjelaskan mekanisme pengawasan makanan jemaah haji Indonesia selama di Madinah. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia, kualitas konsumsi menjadi perhatian utama pemerintah. Untuk memastikan asupan nutrisi tetap terjaga, pengawasan terhadap penyediaan makanan di Madinah dilakukan secara ketat dan berlapis.

Politeknik Pariwisata NHI Bandung yang ditunjuk oleh Kementerian Haji dan Umrah sebagai tim pengawas katering menjalankan pemantauan menyeluruh pada seluruh proses pengolahan makanan. Pengawasan mencakup tahap pra-produksi, produksi, hingga distribusi makanan ke hotel tempat jemaah menginap.

Perwakilan tim pengawas, Nova MH, mengatakan bahwa standar operasional prosedur (SOP) diterapkan secara disiplin tanpa pengecualian. Pemeriksaan rutin dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah.

“Pengawasan dilakukan sejak awal hingga makanan sampai ke jemaah,” ujar Nova.

Ia menjelaskan, tim pengawas mulai bekerja sejak dini hari. Untuk penyediaan makan pagi, misalnya, pengecekan dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 04.00 saat proses memasak berlangsung. Sementara itu, untuk makan siang, pengawasan telah dimulai sejak pagi hari.

Selain memantau proses memasak, tim juga melakukan pemeriksaan berkala terhadap penyimpanan bahan makanan, baik segar maupun kering, guna memastikan kualitas bahan tetap terjaga dan layak diolah.

Menurut Nova, kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas makanan. Oleh karena itu, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian penting. Makanan harus berada pada suhu 60–70 derajat Celsius ketika dikirim ke hotel agar tetap higienis dan tidak cepat basi.

Meski demikian, jemaah diimbau untuk segera mengonsumsi makanan yang telah diterima. Penundaan makan, misalnya karena beribadah di Masjid Nabawi, berpotensi menurunkan kualitas makanan meskipun masih dalam kondisi tertutup.

Selain aspek keamanan pangan, kandungan gizi juga menjadi fokus utama. Menu yang disajikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, dan serat jemaah. Sumber protein berasal dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe. Karbohidrat dipenuhi melalui nasi dengan porsi terukur, sementara vitamin dan serat diperoleh dari sayur serta buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.

Menu tambahan seperti puding juga disediakan, khususnya saat makan siang, untuk melengkapi asupan serat.

Keterbatasan sayuran hijau di Arab Saudi disiasati dengan penggunaan bahan alternatif seperti wortel dan kentang tanpa mengurangi nilai gizi. Bahkan, menu khas Indonesia seperti tempe tetap dihadirkan guna menjaga selera makan jemaah.

Dengan sistem pengawasan berlapis tersebut, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan kondisi fisik yang tetap prima, didukung oleh makanan yang sehat, bergizi, dan higienis.

Editor: Saibansah Dardani