Serunya Menunggang Kuda Arab Sambil Menapak Jejak Rasulullah di Gurun Madinah

Menikmati matahari tenggelam di balik Gunung Uhud sambil menunggang kuda di kawasan Abu Dud, Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Madinah – Matahari mulai condong ke barat ketika derap kaki-kaki kuda memecah kesunyian gurun di kawasan Abu Dud, pinggiran Kota Madinah, Rabu 17 Juni 2026. Angin panas berembus perlahan, menerbangkan butiran pasir yang berkilau diterpa cahaya senja.

Di sinilah, para wisatawan dapat menikmati sensasi menunggang kuda Arab sambil menapak jejak perjuangan Rasulullah di Madinah. Bagaimana keseruannya? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani yang saat ini bertugas menjadi MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026 di Madinah.

Di atas punggung seekor kuda Arab berwarna putih, Ahmad Muhasim tampak tersenyum lebar. Sesekali ia menarik tali kekang, lalu membiarkan kudanya berlari pelan menyusuri hamparan pasir yang membentang sejauh mata memandang.

Bagi banyak orang, aktivitas ini mungkin sekadar wisata. Namun bagi Ahmad, menunggang kuda di gurun Madinah menghadirkan pengalaman yang lebih dalam: menapaktilasi jejak Rasulullah SAW dan para sahabat.

“Menunggang kuda merupakan salah satu kegemaran dan keahlian Rasulullah SAW. Karena itu, berada di atas punggung kuda di gurun Madinah memberikan perasaan yang berbeda, seolah mengingat kembali perjuangan beliau ketika memimpin umat dan menjalani berbagai peperangan,” ujarnya.

Lokasi wisata berkuda Madinah Horse yang berada di kawasan Abu Dud kini menjadi salah satu destinasi favorit jamaah umrah dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Nabi.

Di tempat ini, pengunjung dapat menunggang kuda Arab menyusuri bentang alam gurun yang masih alami. Bukit-bukit pasir dan pegunungan batu khas Hijaz menjadi latar yang menghadirkan suasana seolah membawa pengunjung kembali ke Madinah pada abad ketujuh.

Pengalaman itu terasa semakin kuat karena kuda yang digunakan merupakan kuda Arab, ras yang telah dikenal selama ribuan tahun karena ketangguhan, kecerdasan, dan daya tahannya menghadapi iklim gurun.

Sebelum memulai perjalanan, setiap peserta mendapat pengarahan dari instruktur profesional. Bahkan bagi pemula yang belum pernah berkuda, pendamping akan membantu hingga mereka merasa nyaman dan aman berada di atas pelana.

Untuk menambah kesan historis, pengelola juga menyediakan berbagai properti seperti pedang, busur, dan anak panah untuk dokumentasi foto maupun video.

“Banyak jamaah yang ingin merasakan sensasi seperti para penunggang kuda pada masa awal Islam. Karena itu, kami mencoba menghadirkan pengalaman yang aman sekaligus berkesan,” kata Fauzi Rifaldi, instruktur Madinah Horse.

Dalam sejarah Islam, kuda memiliki posisi yang sangat istimewa.

Di tengah kondisi geografis Jazirah Arab yang didominasi padang pasir, kuda bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari strategi pertahanan dan dakwah Islam.

Rasulullah SAW dikenal memiliki beberapa kuda kesayangan, di antaranya As-Sakb, Al-Murtajiz, dan Al-Luhaif. Beliau juga mendorong umat Islam untuk mempelajari keterampilan berkuda sebagai bagian dari persiapan fisik dan ketangkasan.

Bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah pernah mengadakan perlombaan kuda serta memberikan perhatian khusus terhadap pemeliharaan hewan tersebut.

Keahlian berkuda menjadi kemampuan yang hampir dimiliki seluruh sahabat utama. Nama-nama seperti Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Ali bin Abi Thalib, hingga Sa’ad bin Abi Waqqash dikenal sebagai penunggang kuda ulung yang memainkan peran penting dalam berbagai peristiwa sejarah Islam.

Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani menunggang kuda Arab di di kawasan Abu Dud, Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

Menunggang Kuda dalam Perang-Perang Rasulullah

Meski banyak peperangan pada masa Rasulullah berlangsung dengan jumlah pasukan yang terbatas, keberadaan pasukan berkuda sering menjadi faktor penentu.

Dalam Perang Badar pada tahun kedua Hijriah, misalnya, kaum Muslim hanya memiliki dua ekor kuda untuk sekitar 313 pasukan. Salah satunya ditunggangi oleh Zubair bin Awwam.

Setahun kemudian, pada Perang Uhud, jumlah pasukan berkuda mulai bertambah. Di medan berbatu dan berpasir sekitar Madinah itu, mobilitas kavaleri menjadi elemen penting dalam strategi perang.

Peran pasukan berkuda semakin menonjol dalam Perang Khandaq dan berbagai ekspedisi militer setelahnya. Para sahabat menempuh perjalanan panjang melintasi gurun dengan menunggang kuda untuk menjaga keamanan Madinah maupun menyebarkan dakwah Islam ke berbagai wilayah.

Bagi masyarakat Arab saat itu, kuda bukan sekadar hewan tunggangan. Kuda adalah sahabat perjalanan, rekan perjuangan, sekaligus simbol keberanian.

Tidak mengherankan jika hingga kini budaya berkuda tetap melekat kuat dalam tradisi masyarakat Arab Saudi.

Bukan Sekadar Wisata

Di Madinah Horse, pengalaman berkuda tidak hanya menawarkan petualangan dan keindahan alam.

Bagi sebagian jamaah, aktivitas tersebut menjadi ruang refleksi untuk membayangkan bagaimana Rasulullah dan para sahabat dahulu menempuh perjalanan dakwah di tengah kerasnya gurun Arabia.

Saat kuda berlari membelah pasir dan debu tipis berterbangan di belakangnya, pengunjung dapat merasakan secuil gambaran tentang beratnya perjuangan generasi awal Islam.

Karena itu, destinasi ini semakin diminati tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga jamaah umrah dari berbagai negara, kalangan artis, hingga pejabat yang berkunjung ke Madinah.

Dengan pilihan paket mulai dari 350 hingga lebih dari 1.300 riyal Arab Saudi, pengalaman yang ditawarkan jauh lebih dari sekadar rekreasi.

Di tengah gurun yang sunyi, di bawah langit Madinah yang luas, setiap derap kaki kuda seakan menjadi pengingat bahwa peradaban Islam pernah dibangun oleh manusia-manusia tangguh yang mengarungi padang pasir dengan keberanian, keimanan, dan keteguhan hati.

Dan bagi banyak pengunjung, itulah bagian paling berharga dari perjalanan ini: bukan hanya menunggang kuda, melainkan merasakan kedekatan emosional dengan sejarah yang pernah lahir dan tumbuh di Kota Nabi.

Berminat menunggang kuda arab di kota nabi, Madinah? Hubungi Fauzimadinah +62 812-1229-3718.

Editor: Agung