
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menutup perjalanan panjang salah satu bankir sentral paling berpengalaman di Indonesia. Sebelum memimpin BI selama dua periode, Perry telah mengabdikan lebih dari 40 tahun kariernya di bank sentral, menapaki berbagai jenjang mulai dari peneliti ekonomi hingga menduduki posisi strategis di Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).
Lahir di Sukoharjo pada 1959, Perry menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada 1982. Ia kemudian melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat, dengan meraih gelar magister pada 1989 dan doktor pada 1991.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama lebih dari dua dekade, Perry mengemban beragam tanggung jawab di bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, hubungan internasional, transformasi organisasi, pendidikan kebanksentralan, hingga pengelolaan devisa dan utang luar negeri.
Pengalaman internasional diperolehnya saat ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif IMF pada periode 2007-2009. Dalam posisi tersebut, Perry mewakili 13 negara yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group. Penugasan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya sebelum kembali bertugas di Bank Indonesia.
Sekembalinya ke BI pada 2009, Perry dipercaya sebagai Asisten Gubernur yang membawahi kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional. Pada saat yang sama, ia juga menjabat Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter hingga 2013.
Karier Perry terus berlanjut ketika ia diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2013-2018. Pada 2018, ia dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan lima tahun dan kembali memperoleh kepercayaan memimpin bank sentral pada periode 2023-2028 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 38/P Tahun 2023.
Di bawah kepemimpinannya, Perry menerima sejumlah penghargaan bergengsi, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya Governor of the Year Asia Pacific dari Global Markets pada 2019, The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards (GIFA) pada 2018 dan 2022, serta The Best Macroeconomic Regulator in Asia Pacific dari The Asian Banker pada 2020.
Tidak hanya itu, Bank Indonesia juga membukukan berbagai penghargaan kelembagaan selama masa kepemimpinan Perry, antara lain Best Asset Owner in Southeast Asia, Contact Center World, dan The Best Systemic and Prudential Regulator in Asia Pacific.
Di luar tugasnya sebagai bankir sentral, Perry juga aktif di dunia akademik. Ia menulis sejumlah buku dan publikasi mengenai ekonomi serta kebijakan moneter, seperti Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), serta Kebijakan Moneter di Indonesia (2003).
Kini, perjalanan panjang Perry di Bank Indonesia memasuki babak baru setelah ia memutuskan mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI dengan alasan pribadi. Pemerintah telah menerima surat pengunduran diri tersebut. Sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, tugas dan kewenangan gubernur untuk sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti hingga proses penetapan pengganti dilakukan.
