Challenge Hafalan Al-Qur’an Demi Miras adalah Pelecehan

Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Kota Batam,  L. Nur Salamah, S.Pd. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd.

J5NEWSROOM.COM – Geger. Media sosial dihebohkan dengan kasus challenge menghafal Al-Qur’an yang berhadiah miras.

Sungguh. Sangat menyakitkan. Lelucon macam apa ini? Tidak tahukah bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, mu’jizat terbesar Nabi Muhammad Saw. yang keberadaannya semestinya dimuliakan dan diagungkan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah al-Hajj ayat 32 yang artinya: “Demikianlah. Barangsiapa mengagungkan syair-syair Allah, sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”.

Betapa kurang ajarnya, ketika ayat-ayat Allah yang di  dalamnya terdapat pedoman hidup yang mengantarkan manusia kepada ketaatan justru dipertautkan dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Meskipun, dalam perkembangan berita terakhir yang penulis dapatkan. Pihak The Sound Project menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukanlah arahan maupun persetujuan dari panitia.

Newport juga menyatakan bahwa challenge tersebut tidak dirancang oleh manajemen dan muncul secara spontan ketika seorang pengunjung mengambil mikrofon, sekaligus mengakui adanya kelemahan dalam melakukan pengawasan.

Bukan sekadar berbicara mengenai pelaku. Ada hal menggelitik yang mesti diuraikan.

Kasus pelecahan terhadap agama dan simbol-simbol keagamaan semacam ini bukan kali pertamanya terjadi. Namun berulang kali terjadi. Seolah tak mengenal kata usai.

Sebagai umat Islam. Akankah kita diam? Tidak! Kita boleh dan bahkan harus marah. Akan tetapi kemarahan kita bukan karena ego semata. Namun marah yang disandarkan dan dikendalikan oleh rambu-rambu syari’at.

Jangan sampai kita menyalah artikan toleransi dengan membiarkan agama dan simbol-simbol keislaman kita dilecehkan dan dipermainkan.

Sebagai hamba Allah dan demi kemuliaan Islam, jelas tidak rela dan sangat mengecam tindakan pelecehan tersebut. Namun tetap tenang jangan sampai tersulut emosi hingga berbuat anarkis.

Adapun hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menyadarkan umat bahwa pembelaan terhadap Al-Qur’an tidak hanya membela saat Al-Qur’an dihina atau dilecehkan.

Namun, seyogyanya memperjuangkan agar Al-Qur’an kembali menjadi petunjuk/ pedoman dalam seluruh aspek kehidupan yang diterapkan oleh sebuah institusi pemerintahan Islam.

Jangan sampai kita hanya marah saat Al-Qur’an dijadikan challenge untuk sebotol miras. Di lain sisi kita membiarkan aturan-aturan Al-Qur’an terkait kehidupan yang kian seperti moral, pergaulan, ekonomi, politik dalam masyarakat terus disisihkan, bahkan dicampakkan.

Namun, Al-Qur’an harus dita’zimkan, diagungkan, ditinggikan dan dimuliakan bukan hanya sebatas bacaan, tetapi petunjuk dan hukum-hukumnya.

Wallahu a’lam.

Penulis adalah Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Kota Batam