Kombes Pol Eddwi Kurniyanto: Secangkir Kopi, Paket Sembako dan Rasa Kehilangan Warga Kampung Tua Batam

Kombes Pol Eddwi Kurniyanto bersama seorang warga Batam. (Foto: Dok J5NEWSROOM.COM)

Oleh Alia Safira

J5NEWSROOM.COM, Batam – Ada banyak cara seorang polisi membangun kedekatan dengan masyarakat. Ada yang hadir ketika warga membutuhkan pelayanan. Ada yang datang ketika terjadi persoalan keamanan.

Namun, Kombes Pol Eddwi Kurniyanto memilih cara yang lebih sederhana, datang, duduk, minum kopi, lalu mendengarkan keluh kesah mereka.

Cara sederhana itu belakangan dikenal masyarakat Batam melalui program Ngos-Ngosan, singkatan dari ‘Ngopi Santai dan Ngobrol Santai’.

Dalam pertemuan Ngos-Ngosan itu, jauh dari formalitas seperti rapat di kantor. Eddwi duduk bersama warga dan membuka ruang percakapan mengenai berbagai persoalan, termasuk keluhan masyarakat terhadap perilaku anggota kepolisian di lapangan. Program tersebut itu juga telah dilakukan di tengah masyarakat Kampung Tua Batam.

Kini, ketika kabar mutasi Eddwi beredar, percakapan itu pula yang membuat sebagian warga merasa kehilangan. Kedekatan emosional yang telah terbangun antara arek Malang ini dengan warga Kota Batam  membuat rasa kehilangan itu membuncah.

Rasanya, Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1878/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026, yang menugaskan Eddwi sebagai Penyelidik Pengamanan Internal Madya Tingkat III Divpropam Polri itu terlalu cepat turunnya.

Mereka kini merasakan kehilangan suasana ngopi santai dengan perwira melati tiga itu. Entah kapan lagi mereka bisa ngopi dengan perwira polisi tanpa terkekang suasana formal, apalagi bisa berbagi saling informasi.

Meskipun bagi Polri, mutasi merupakan bagian dari dinamika biasa dan pembinaan karier. Namun bagi sebagian warga yang pernah bersentuhan langsung dengannya, perpindahan itu meninggalkan kisah yang berbeda.

Datang Bukan Hanya Saat Bertugas

Eddwi dikenal sebagai perwira yang tidak hanya menemui masyarakat ketika mengenakan seragam dan menjalankan agenda kedinasan. Ia beberapa kali menyambangi warga yang membutuhkan bantuan. Berbagi paket sembako dan uang tunai kepada pedagang kecil dan pengamen di sejumlah kawasan di Batam.

Di Kampung Tua, pendekatan serupa dilakukan dengan cara yang lebih personal. Eddwi pernah membagikan sembako sekaligus bendera kepada warga. Ia kemudian menggelar turnamen bola voli untuk masyarakat Kampung Tua. Hadiah pertandingan disiapkan olehnya sebagai bentuk kepedulian terhadap warga.

Kegiatan semacam itu membuat sosok perwira polisi tersebut lebih mudah diterima masyarakat. Bukan karena jabatan yang disandangnya, tetapi karena ia hadir dalam ruang kehidupan warga.

M Noor, salah seorang tokoh yang dituakan di Kampung Tua Kampung Tengah Nongsa Batam, termasuk warga yang merasa kehilangan setelah mengetahui Eddwi akan pindah tugas.

Ia mengaku baru beberapa hari sebelumnya berinteraksi langsung dengan Eddwi dalam kegiatan bersama masyarakat dan pembagian hadiah turnamen bola voli.

“Pak Kabid Propam sosok penolong dan dekat dengan masyarakat. Selain ada kesedihan, saya juga mendoakan untuk kesuksesan Pak Eddwi ke depannya,” kata M Noor, Senin, 31 Agustus 2026 lalu.

Kombes Pol Eddwi Kurniyanto bersama anak-anak Batam yang senang menerima pembagian paket sembako. (Foto: Dok J5NEWSROOM.COM)

Ada satu hal yang menarik dari pendekatan Eddwi. Sebagai pejabat yang membidangi profesi dan pengamanan anggota Polri, ia justru membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan mengenai anggota kepolisian. Ruang itu dibuat sesederhana mungkin melalui secangkir kopi.

Dalam konsep Ngos-Ngosan, masyarakat tidak harus datang ke kantor polisi untuk menyampaikan keluhan. Mereka dapat duduk bersama dan berbicara secara langsung.

Pendekatan semacam itu penting karena jarak psikologis antara masyarakat dan aparat sering kali menjadi persoalan tersendiri. Seorang warga mungkin mengetahui adanya perilaku anggota yang dianggap tidak tepat, tetapi enggan melaporkannya karena merasa sungkan atau takut.

Kehadiran pimpinan Propam di tengah masyarakat membuka kemungkinan berbeda. Masyarakat diberi kesempatan untuk berbicara. Dan seorang pejabat Propam mendapatkan informasi langsung dari sumber pertama. Di situlah pendekatan humanis tidak berhenti sebagai slogan.

Kepedulian Eddwi ternyata tidak hanya di dengan eksternal. Di internal Bidpropam Polda Kepri, ia juga dikenal dekat dengan anggotanya. Ia menyempatkan diri mengunjungi rumah anggota yang sedang sakit. Ketika ada istri anggota yang melahirkan, ia juga datang untuk berbagi kebahagiaan dengan anak buahnya.

Bagi seorang pimpinan, perhatian semacam itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi anggota, kunjungan seorang atasan ke rumah ketika sedang menghadapi persoalan keluarga dapat meninggalkan kesan yang panjang.

Hubungan pimpinan dan bawahan akhirnya tidak hanya dibangun melalui apel, perintah dan evaluasi pekerjaan. Ada ruang kemanusiaan di dalamnya.

Perjalanan Panjang dari Pasuruan

Eddwi Kurniyanto lahir di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 28 Juli 1977. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000. Kariernya di kepolisian dilalui melalui sejumlah jabatan strategis.

Ia pernah bertugas sebagai Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Jawa Timur, kemudian menjadi Kabag Ops Polrestabes Surabaya. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kapolres Probolinggo dan Kapolres Madiun.

Saat memimpin Polres Madiun, Eddwi antara lain memperkenalkan inovasi pelayanan berbasis digital. Salah satunya aplikasi “MasMas” yang digunakan untuk memantau perkembangan Covid-19 sekaligus mendukung pemantauan kegiatan Bhabinkamtibmas.

Ia kemudian menjabat sebagai Wadirlantas Polda Aceh dan pada Desember 2022 dipercaya menjadi Kabid Propam Polda Aceh.

Pada 2024, Eddwi mendapat penghargaan ‘Inspiring Professional and Leadership Award 2024’. Penghargaan itu diberikan atas inovasi dan kepemimpinan yang dijalankannya. Jejak tersebut kemudian membawanya ke Kepulauan Riau.

Di Polda Kepri, ia mendapat amanah sebagai Kabid Propam. Dan di tempat baru itulah pendekatan yang pernah ia bangun di berbagai daerah kembali muncul dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat.

Eddwi boleh meninggalkan jabatan Kabid Propam Polda Kepri. Namun, bagi sebagian warga Kampung Tua, mungkin yang lebih sulit ditinggalkan adalah kebiasaan melihat seorang polisi datang bukan untuk memberi perintah, melainkan untuk duduk bersama dan mendengarkan.

Sebab pada akhirnya, kedekatan antara polisi dan masyarakat tidak selalu dimulai dari perkara besar. Kadang-kadang, ia cukup dimulai dari sebuah kursi, secangkir kopi, dan kesediaan untuk mendengar keluh kesah warga.

Selamat bertugas di Mabes Polri, sam Eddwi.

Semoga segera kembali bertugas ke Batam dengan bintang di pundak.

Editor: Saibansah Dardani