Tajuk J5NEWSROOM.COM: Lobster Batam Tembus Singapura, Saatnya Anak-Anak Kepri Kuasai Pasar!

Wapres Gibran Rakabuming dan Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto menyaksikan panen perdana lobster bersama Menteri Sakti Wahyu Trenggono di BPBL Batam, Rabu 10 September 2025 lalu. (Foto: KKP.go.id)

J5NEWSROOM.COM – Ada kabar baik dari laut Batam. Sebanyak 339,5 kilogram lobster hasil Modeling Budi Daya Lobster Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), berhasil menembus pasar Singapura.

Bagi J5NEWSROOM.COM, angka 339,5 kilogram itu bukan sekadar angka ekspor. Ini adalah sebuah pesan. Bahwa lobster yang selama ini identik dengan hasil tangkapan alam, benih yang keluar negeri, atau komoditas yang rawan diselundupkan, mulai menemukan jalan baru, dibudidayakan di negeri sendiri, dibesarkan di perairan sendiri, dipanen di daerah sendiri, kemudian dijual ke pasar internasional. Dan Batam menjadi salah satu pintu penting dari perubahan itu.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu mengatakan, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Indonesia sudah mampu membudidayakan lobster mulai dari benih bening lobster (BBL) hingga ukuran konsumsi, bahkan hasilnya sudah dapat dijual dan diekspor.

Pasar Singapura pun memberikan respons positif. KKP menargetkan pengiriman berikutnya dilakukan pada November 2026. Bagi Batam, ini bukan sekadar kabar tentang komoditas perikanan. Ini adalah peluang ekonomi.

Singapura Bukan Sekadar Pasar Tetangga

Kedekatan geografis Batam dengan Singapura memberikan keuntungan yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia. Batam hanya dipisahkan oleh Selat Singapura. Jaraknya pun hanya sekitar 20 kilometer saja. Jalur logistiknya relatif pendek. Pasarnya dekat. Infrastruktur perdagangan tersedia. Pelabuhan dan jaringan ekspor telah terbentuk.

Karena itu, keberhasilan lobster budi daya Batam masuk Singapura seharusnya tidak berhenti pada satu pengiriman. Justru 339,5 kilogram pertama itu harus dipandang sebagai langkah pembuka untuk mencapai volume yang jauh lebih besar.

Data Pemerintah Kota Batam menunjukkan, sepanjang 2024, ekspor komoditas ikan Batam mencapai 5.414,46 ton dengan nilai Rp232,69 miliar. Seluruh komoditas perikanan tersebut tercatat diekspor ke Singapura.

Komoditasnya beragam, mulai dari kerapu, kakap, tenggiri, dingkis, udang vaname, sotong, kepiting hingga lobster. Artinya, Batam sesungguhnya sudah memiliki ekosistem perdagangan hasil laut dengan Singapura.

Dari 339,5 Kilogram Menuju Pasar yang Lebih Besar

KKP sendiri telah menyiapkan pengembangan modeling budi daya lobster di wilayah lain. Setelah Batam, pengembangan diarahkan ke Situbondo, sementara Lombok dan Nusa Tenggara Barat diproyeksikan mendukung kawasan timur Indonesia.

Batam diarahkan sebagai salah satu pusat pengembangan untuk wilayah barat Indonesia. Langkah ini patut diapresiasi. Tetapi J5NEWSROOM.COM berpandangan, Batam tidak boleh hanya menjadi tempat percontohan.

Batam harus naik kelas menjadi salah satu sentra produksi lobster nasional. Mengapa? Karena pasar sudah ada. Singapura sudah terbukti menerima. Eksportir juga melihat kualitas lobster budi daya Batam memiliki prospek.

Salah satunya, Sugianto, eksportir kepiting dan lobster ke Singapura dan Tiongkok, menyebut lobster hasil budi daya BPBL Batam tetap dalam kondisi prima hingga sampai ke tempat penampungan dan ketika diuji di pasar Singapura.

Ini penting. Sebab persoalan utama bisnis komoditas ekspor bukan hanya menghasilkan barang. Tetapi bagaimana memastikan kualitas, kontinuitas pasokan, ukuran, kesehatan, logistik, dan kepastian pasar. Budi daya memberikan peluang untuk menjawab persoalan tersebut karena pasokan dapat direncanakan dan tidak semata-mata bergantung pada hasil tangkapan alam.

Jangan Hanya Membesarkan Lobster, Besarkan Juga Peluang Anak Batam

Di sinilah J5NEWSROOM.COM melihat persoalan yang jauh lebih besar. Keberhasilan modeling lobster Batam jangan hanya menghasilkan lobster. Ia harus menghasilkan lapangan pekerjaan. Anak-anak Batam harus mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam rantai ekonomi tersebut.

Mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, penyediaan pakan, pengelolaan keramba, teknologi monitoring, cold chain, pengemasan, transportasi, sertifikasi, hingga ekspor. Bahkan kebutuhan pakan lobster dapat menjadi mata rantai ekonomi tersendiri.

KKP mencatat kebutuhan pakan lobster di Batam membuka peluang kolaborasi dengan masyarakat dan pembudidaya, khususnya penyedia kekerangan yang menjadi salah satu sumber pakan lobster. Dengan demikian, budi daya lobster dapat menciptakan rantai usaha yang saling terhubung.

Jangan sampai lobster dibudidayakan di Batam, tetapi sebagian besar nilai ekonominya justru dinikmati oleh pelaku usaha dari luar Batam. Anak Batam harus menjadi pelaku, bukan hanya penonton.

Dari Batam Menguasai Singapura, Kemudian Malaysia

J5NEWSROOM.COM memandang keberhasilan ekspor lobster budi daya Batam ke Singapura sebagai momentum untuk menyusun target yang lebih berani. Pertama, memperbesar produksi lobster budi daya Batam.

Kedua, memperluas jumlah pembudidaya lokal. Ketiga, membentuk ekosistem usaha lobster yang melibatkan mas00yarakat pesisir. Keempat, memperkuat teknologi dan pendampingan agar tingkat kelangsungan hidup lobster semakin tinggi.

Kelima, membangun kepastian pasar dan kontrak pembelian dengan eksportir. Dan keenam, menjadikan Singapura sebagai pasar utama sekaligus pintu masuk menuju pasar Malaysia dan pasar internasional lainnya.

Kedekatan Batam dengan Singapura dan Malaysia adalah keunggulan strategis yang tidak boleh disia-siakan. Jika Singapura membutuhkan lobster berkualitas, Batam seharusnya menjadi salah satu pemasok utamanya. Jika Malaysia membutuhkan lobster, Batam harus siap memasoknya.

Dengan demikian, posisi Batam bukan lagi sekadar daerah yang dekat dengan pasar. Tapi daerah yang menguasai rantai pasok pasar.

Suai?