PM Wong Ungkap Tekanan Ekonomi Berpotensi Picu Perpecahan Rasial di Singapura

PM Singapura Lawrence Wong. (Foto: AFP/KAZUHIRO NOGI)

J5NEWSROOM.COM, Singapura – Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa tantangan ekonomi dapat memperdalam perpecahan sosial dan rasial di tengah masyarakat.

Seperti dikutip dari ChannelNewsAsia pada hari Sabtu (12/9/2026), Wong mengatakan Singapura tidak kebal terhadap tekanan tersebut. Ia menyoroti munculnya komentar bernada rasis di dunia maya baru-baru ini ketika pembahasan mengenai investasi di India mencuat.

Pernyataan tersebut disampaikan Wong dalam acara makan malam peringatan ulang tahun ke-85 Singapore Kadayanallur Muslim League (SKML), Sabtu (12/9).

Pernyataan itu juga muncul sekitar sepekan setelah Menteri Dalam Negeri Singapura K Shanmugam mengatakan kepolisian tengah menyelidiki komentar daring yang dinilai “memalukan”, bernuansa rasis dan xenofobia. Komentar tersebut berkaitan dengan investasi Singapore Airlines (SIA) di Air India serta bencana Nepal-Tibet.

Kepolisian Singapura telah mengidentifikasi dan meminta keterangan dari lima orang terkait komentar daring mengenai kedua isu tersebut. Investigasi masih berlangsung.

Wong mengatakan Singapura secara umum tetap menjadi negara yang harmonis dan stabil. Namun, menurutnya, masyarakat tetap dapat menarik garis pemisah antara warga asing dan warga Singapura.

Perbedaan juga dapat muncul antara warga yang lahir di Singapura dan warga yang memperoleh kewarganegaraan melalui naturalisasi, serta berdasarkan latar belakang ras dan agama. “Berbagai tantangan ini nyata,” ujar Wong.

Ia menambahkan bahwa masyarakat di berbagai negara saat ini semakin terfragmentasi, terpecah, dan terpolarisasi.

Menurut Wong, salah satu faktor yang mendorong kondisi tersebut adalah tantangan ekonomi.

Tidak semua orang memperoleh hasil atau kesempatan yang sama dari perkembangan ekonomi. Mereka yang merasa tertinggal dapat mengalami kekecewaan dan frustasi.

Namun, persoalan tersebut tidak berhenti pada aspek ekonomi. Ketika tekanan ekonomi mulai berkaitan dengan identitas, rasa memiliki, dan persepsi mengenai ketidakadilan, potensi perpecahan di masyarakat dapat semakin besar.

“Di situlah perpecahan mulai semakin mengakar, dan orang-orang mulai membangun tembok antara ‘kita’ dan ‘mereka’,” kata Wong.

Peringatan tersebut menegaskan pentingnya menjaga kohesi sosial di tengah perubahan ekonomi dan meningkatnya tekanan terhadap masyarakat.

Menurut Wong, persoalan ekonomi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi berkembang menjadi persoalan sosial dan identitas yang lebih luas.

Sumber: IDNFinancials
Editor: Alia Safira