Menyiapkan Anak-anak Menjadi Generasi Terbaik

Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam, L. Nur Salamah, S.Pd. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh L. Nur Salamah, S.Pd.

J5NEWSROOM.COM – Menikah dan memiliki keturunan merupakan bagian dari siklus kehidupan. Setiap pasangan yang telah menikah tentu menginginkan keturunan yaitu anak-anak sebagai pengikat cinta keduanya.

Akan tetapi, sebagai orang yang beriman, anak bukan sebatas pengikat cinta dan pelipur lara semata. Namun lebih dari pada itu, anak adalah investasi akhirat
yang tidak ternilai oleh dunia beserta isinya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, anak tidak sekadar dilahirkan dan dibesarkan tanpa tujuan. Namun, harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan diperjuangkan.

Mau dijadikan apa dan seperti apa generasi yang dilahirkan kelak?
Apakah mau seperti Muhammad Al-Fatih kah, Khalid bin Walid kah, Ali bin Abi Thalib kah? Atau yang lainnya.

Karena, target tujuan dan cita-cita akan berbanding lurus dengan upaya yang dilakukan. Jika tidak ada target yang hendak dicapai maka tidak akan ada effort untuk mewujudkan.

Oleh karena itu, cita-cita dan tujuan yang mulia sudah barang tentu harus dibarengi dengan usaha yang luar biasa.  

Adapun hal-hal yang mungkin bisa dilakukan oleh orang tua (berdasarkan pengalaman & pengkajian) untuk menyiapkan  anak-anak kita menjadi generasi terbaik, antara lain:

Pertama, saat anak memasuki usia pra TK, hendaknya mengenalkan dan membiasakan mereka dengan hal-hal baik (berdasarkan syariat Islam). Hal ini dimaksudkan untuk membentuk muyul (kecenderungan) pada ketaatan, sehingga anak tidak kaget saat baligh dan terbebani hukum. Contoh: Memakaikan pakaian yang menutup aurat dengan gamis dan kerudung bagi anak perempuan disertasi penjelasan sederhana.  

Kedua, saat anak memasuki usia 5-7 tahun, mengenalkan dan membiasakan mereka dengan majelis ilmu. Membuat suasana halqoh, meskipun sifatnya belum formal. Dimulai dengan salat Maghrib berjamaah,  Ayah sebagai imam, kemudian Ibu dan anak-anak sebagai makmum. Setelah itu duduk bersama, belajar Iqra’ atau semacamnya sebagai ilmu dasar membaca Al-Qur’an, kemudian bisa dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek dan membacakan kisah nabi atau kisah para sahabat/ shahabiah, dengan durasi waktu 10-15 menit saja. Kemudian salat Isya’ berjamaah.

Hal tersebut bisa dilakukan di akhir pekan/ sepekan sekali. Karena anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, namun selalu hadir saat anak membutuhkannya. Sehingga akan menjadi save moment yang tidak pernah mereka lupakan.

Ketiga, saat anak memasuki usia 7-8 tahun. Pada usia ini, anak sudah berada di taraf mumayiz (mampu membedakan baik atau buruk, sudah bisa diajak komunikasi). Pada usia ini pembiasaan halqoh (bermajelis ilmu) ba’da Maghrib tetap dilakukan. Akan tetapi, untuk materi lebih ditingkatkan, yaitu: mengenalkan adab dalam belajar, adab berbicara dengan orang tua, adab meminjam, adab makan dan lain sebagainya. Kemudian mengenalkan tentang Fiqih salat, tentu dengan bahasa yang mudah dan sederhana. Untuk selanjutnya mengajarkan, mengajak dan membiasakan anak laki-laki untuk salat berjamaah di masjid dengan pendampingan sang ayah.

Keempat, pada usia 9-10 tahun, materi kajian harus lebih terstruktur (target hafalan, pemahaman sederhana dan diskusi ringan berkaitan dengan syariat Islam).

Kelima, saat usia 10-12 tahun. Membiasakan untuk duduk bermajelis paling lama 1 jam dengan materi tauhid.

Terakhir, di usia 12 tahun ke atas. Anak dikondisikan dengan majelis ilmu yang bersifat formal. Artinya halqoh dengan mengkaji kitab-kitab para ulama secara berkelanjutan.

Jadi, mengenalkan anak terhadap majelis ilmu (halqoh) harus dimulai sejak usia dini, namun bentuk dan konsepnya bertahap, disesuaikan dengan perkembangan usia, kesiapan dan kematangan anak.

Mengapa kita harus membiasakan anak untuk belajar sejak kecil dan memilih waktu Ba’da Maghrib?

Mengutip dari Kitab Ta’limu al-Muta’alim karya Imam Az-Zarnuji Rahimahullah, bab 8, paragraf ke-2: tentang waktu yang paling utama untuk belajar atau menuntut ilmu adalah saat muda (usia 4-5 tahun), waktu sahur (fajar) dan waktu diantara Maghrib & Isya’ (Ba’da Maghrib).

Dengan berusaha mengikuti jejak dan nasihat para ulama, kita berharap bisa menjadi orang tua yang mencetak sebaik-baik generasi seperti Sultan Muhammad Al-Fatih, Khalid bin Walid, Ali bin Abi Thalib dan lain sebagainya.

Apakah dalam perjalanan akan semudah yang kita harapkan? Tentu tidak. Mendidik anak adalah perkara yang tidak mudah. Karena Allah SWT. menjanjikan pahala yang luar biasa.

Bukankah jalan menuju surga itu adalah jalan yang sulit dan terjal. Hanya orang-orang yang sabar dan ikhlaslah yang akan mampu menggapainya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 153:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Yâ ayyuhalladzîna âmanusta’înû bish-shabri wash-shalâh, innallâha ma’ash-shâbirîn

yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Semoga kita dimampukan Allah SWT. dan senantiasa dalam petunjuk-Nya untuk mendidik putra-putri kita menjadi generasi terbaik.

Wallahu a’lam.

Penulis adalah Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam