Muchid Sang Penjaga Hati

Muchid Albintani dengan buku sastra terbarunya. (Foto: J5foto)

Dalam Bagian Keempat, Muchid masih setia untuk berbicara atau berdialog dengan dirinya, lihatlah ketika sajaknya yang berjudul Antara Kaca Mata dan Kerudung:

Di antara kacamata dan kerudung/ingin ku tafsir senyum mu/jujur tak sanggup ku memandang/sejuta makna dan misteri selalu mengiringi/ sebab/ terkadang kusangka mawar/kau berubah menjadi melati/walau keduanya berbau harum/kenanga tetap yang lebih mewangi/

Ketika saya mengambil secara acak untuk Bagian Kelima  (Sajak di Penghujung Waktu) ada sebuah sajak yang berjudul Ada Apa dengan Kita, seolah-olah Muchid ingin menutup pengembaraannya di dunia dirinya dengan menulis sebagai berikut:

Dua minggu di musim penghujan/di kota berkuah/kalau benar itu, tak kan ku lepas/walau sedikit/ tentang seikat harap yang telah/kubeli dalam senyum pada kacamata mu/mesti ku tahu senyum itu bukan untuk ku/ tapi, biarlah senyumnya menjadi pertanda/tentang misteri antara kita/ketika kau menggantinya dengan kembang sepatu/kalau benar itu kembang/mengapa kau julurkan kuntumnya/

Pembicaraan mengenai tema-tema puisi yang ditulis oleh Muchid, begitulah. Dia mencoba terus menerus menggali, dan fokus pada satu masalah, walaupun dia mencoba untuk membaginya dalam bagian-bagian, yang ternyata tidaklah secara  hitam putih dapat dibedakan tema-tema puisinya itu.

Saya melihat tarikan nafas yang sama dalam keseluruhan puisinya itu. Membaca Muchid, ternyata membaca begitu hematnya sang penyair menggunakan metafora-metafora. Boleh jadi keadaan yang demikian ini, sengaja ia simpan dalam-dalam, agar setiap pembaca tidak lagi terbebani dengan bagaimana menafsirkan kata-kata itu.

Artinya sang penyair ingin agar pembacanya dapat dengan mudah mencerna apa yang ingin disampaikan oleh sang penyairnya. Walaupun demikian, boleh saja pembaca ingat pada puisi-puisi yang ditulis oleh WS Rendra pada masa tahun 1950-an, seperti yang terkumpul dalam buku Empat Kumpulan Sajak (Kakawin Kawin, Malam Stanza, Nyanyian Dari Jalanan, Sajak-sajak Dua Belas Perak).  

Sajak-sajak Rendra berbicara secara sederhana namun penggunaan metafora dapat ia manfaatkan sedemikian rupa, sehingga mampu menopang keanggunan sebuah puisi. Saya kutipkan beberapa bait dari Serenada Biru:

1/Alang-alang dan rerumputan/bulan mabuk di atasnya/alang-alang dan rumputan/angin membawa bau rambutnya/ 2/ mega putih/selalu berubah rupa/membayangkan rupa/yang datang derita/ 3/ketika hujan datang/malamnya sudah tua:/angin sangat garang/dinginnya tak terkira/aku bangkit dari tidurku/dan menatap langit kelabu/wahai janganlah angin itu/menyingkap selimut kekasihku/  

Dalam Serenada Violet, Rendra  juga cukup hemat dalam  menggunakan metafora. Ia  menulis sebagai berikut:

Lalu terdengarlah suara/di balik semak itu/sedang bulan merah mabuk/dan angin dari selatan/lalu terbawa bauan sedap/bersama desahan lembut/sedang serangga bersuiran/di dalam bayangan gelap/………/lalu terdengarlah suara/di balik semak itu/pucuk rumput bergetaran/kali mengalir tanpa sadar/sebuah pasangan/telah dikawinkan bulan/

Sebuah puisi, begitu dia diciptakan dan khalayak boleh membacanya, maka puisi itu telah menjadi milik publik. Hal ini berarti puisi itu merdeka untuk ditafsirkan oleh pembacanya. Apakah dialog-dialog melalui 50 puisinya yang disodorkan oleh Muchid itu, mempunyai hanya satu makna atau justru ia mempunyai banyak makna?  

Dari seorang Muchid, terutama yang ia tawarkan dalam kumpulan puisinya ini, tentu saja belum mencerminkan pribadi pengarang seutuhnya. Kalau kepada sang penyairnya, ditanyakan, mana puisi-puisi yang melawan, yang menggugat, yang memprotes, hanya karena dia adalah seorang dosen ilmu sosial politik, maka tentu saja kita perlu bersabar. Ia belum menyuarakannya di Rindu Dini. Mengapa?

Boleh jadi di tahun 2015 ini sang penulis sudah menyiapkan gaungnya yang lain, puisi-puisi yang mencoba keluar dari dialog di dalam dan mencoba ke luar …
Selamat menikmati  dan merindukan Rindu Dini.*

Kampus UIR Pekanbaru, 8 Desember 2014

Penulis adalah ‘penyair tiga lautan’ yang  menulis tiga antologi puisi:  Lautan Kabut, Lautan Melaka dan Lautan Zikir. Kini sebagai pensyarah pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau. Puisi-puisinya tersebar dalam sekitar 19 buku puisi bersama penyair lainnya.

Kumpulan esei sastranya diterbitkan dalam buku Ketika Riau Aku Tak Mungkin Melupakan-MU (UIR Press, 2004), dan Leksikon Sastra Riau (UIR PRESS- BKKI RIAU, 2010).

2