KH Muhammad Idris Jauhari

Sang Mujahid Tarbiyah

KH Muhammad Idris Jauhari lahir dengan Muhammad Idris hari Selasa, November 1952 sebelum maghrib. Sejak kecil Muhammad Idris hidup di tengah lingkungan keluarga yang kental dengan nuansa religius

Kiai Djauhari dan Nyai Maryam merupakan sosok orang tua yang senantiasa menanamkan nilai-nilai religus kepada putra-putrinya. Perhatian mereka yang besar terhadap pendidikan, turut mengalirkan sifat dan pribadi yang teguh dalam diri Kiai Idris.Buah jatuh tak jauh dari pohon.

Berkat kegigihan Kiai Djauhari dalam mendidik putra-putrinya, Muhammad Idris kecil pun tumbuh dengan spirit pendidikan dan religius yang kental. Selain mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), Muhammad Idris kecil pun belajar ilmu agama di MUD (Mathlabul Ulum Diniyah).

Kecerdasan Muhammad Idris kecil, sangat menonjol, meskipun intensitas belajar beliau biasa-biasa saja. Cukup baca sekali, lalu pergi bermain. Namun keistemewaannya adalah apa yang telah dibacanya mudah melekat kuat dalam ingatannya.

Kecintaan Muhammad Idris kecil terhadap ilmu pengetahuan, serta ketawaduannya, bukan sekadar ketika mengenyam pendidikan di Prenduan. Akan tetapi, berlanjut hingga masa-masa mondok di Gontor. Bidang bahasa Arab adalah salah satu keistimewaan yang menonjol pada dirinya.

Sehingga teman-temannya menjadikan beliau sebagai referensi rujukan bahasa Arab.Muhammad Idris muda yang cerdas dan ulet, terpaksa harus pulang kampung setelah menuntaskan pendidikannya di Gontor, di usia 18 tahun, pada bulan Desember 1970.

Dengan bekal pendidikannya di Gontor, Muhammad Idris muda mendampingi Kiai Djauhari dalam mengelola TMI Majelis, karena harus mendamping sang ayah yang mulai sakit-sakitan. Ya, di usia yang relatif muda itulah, beliau berkiprah.Belum genap setahun, Muhammad Idris muda berjuang di lembaga pendidikan bersama ayahnya, Kiai Djauhari, beliau harus menghadapi kenyataan memilukan.

Pada 11 Juni 1971, malam Sabtu, pukul 20.45, Kiai Djauhari wafat dipangkuan isteri dan Muhammad Idris muda, dengan meninggalkan sejuta harapan dan obsesi.

Pada tanggal 10 syawal 1371 H, bertepatan dengan 03 Desember 1971 M, TMI (Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah) khusus putra secara resmi berdiri. Ya, tidak salah lagi. Muhammad Idris muda lah yang mendirikannya, dengan spirit TMI Majlis yang diperjuangkan oleh Kiai Djauhari.

Di usia 19 tahun, Muhammad Idris muda, sudah menjadi direktur pertama TMI. Sejak itulah, murid-murid Kiai Djauhari dan masyarakat setempat menyebut beliau Kiai Idris.

Pengangkatan Kiai Muhammad Idris Jauhari, sempat menimbulkan silang pendapat dari kalangan masyarakat tua sekitar. Mereka menganggap Kiai Idris masih terlalu muda untuk memimpin lembaga tersebut. Namun berkat dorongan dari para aghniya (pengusaha), langkah Kiai Idris terus mendapat dukungan.

Bahkan, beberapa di antaranya memberikan bantuan untuk pembangunan gedung pendidikan bagi santri-santri TMI, yang waktu itu masih menggunakan bangunan bengkel berbilik bambu, milik Bu Jemmar.

Pendidikan TMI ini, menandai fase baru dalam sejarah perkembangan Al-Amien Prenduan. Kiai Idris muda, dengan kegigihannya, seakan menjawab tantangan zaman, dengan mencari format pendidikan yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Di satu sisi, beliau menemukan wadah baru untuk mengimplementasikan ide-ide pemikirannya di bidang pendidikan, namun di sisi lain implementasi itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Sejarah mencatat Kiai Idris merupakan tokoh sentral dan aktor penting dalam sejarah perkembangan pondok pesantren Al-Amien prenduan, dari masa ke masa. TMIAl-Amien Prenduan, merupakan gambaran yang merepresentasikan pondok pesantren Al-Amien.

Kurikulum Al-Amien, khususnya TMI, memiliki sistem yang cukup unik, sangat praktis. Kiai Idris memadukan sistem klasik dan modern. Meskipun pada batas-batas tertentu, sistem TMI, merupakan replika dari KMI Gontor.

Pada awal pendirian TMI Al-Amien Prenduan, banyak pengalaman yang dilalui oleh Kiai Idris. Keraguan masyarakat sekitar tentang kapasitas Kiai Idris muda dalam mengawal TMI, semakin terjawab dan menemui titik terang. Wajar saja, karena saat itu banyak masyarakat yang tidak mengerti dasar, tujuan, orientasi, dan dasar pendidikan visioner semacam TMI.

Hari kamis, 08 sya’ban 1433 H/ 28 Juni 2012 M, pukul 06.00 WIB, langit Tanah Djauhari dirundung mendung. Kiai Idris, salah satu pejuang pendidikan Al-Amien Prenduan, dipanggil oleh Allah SWT. Beliau menghembuskan napas terakhir di usia 60 tahun, setelah berjuang melawan sakit yang beliau alami selama 17 bulan.

Ribuan santrinya dan ulama dari penjuru nusantara turut hadir mengantar beliau menuju peristirahatan terakhir. Pepohonan di Tanah Djauhari, seakan merunduk mengiringi kepergian Sang Kiai.

Kubah masjid yang hijau, menjadi saksi langkah-langkah ibadah beliau yang selalu menjejakkan keningnya, ketika berjamaah dengan para santrinya.

Dinding-dinding kelas seakan merekam suara lantang beliau dalam membimbing para santrinya belajar. Semua orang yang mengenal beliau, akan menyimpan rasa rindu yang mendalam kepada beliau.*

Sumber: warkat.al-amien.ac