KH Muhammad Tidjani Djauhari, MA

Ulama Lokal yang Mendunia

KH Moh Tidjani Djauhari MA lahir Oktober 1945 di Prenduan Sumenep Madura dengan nama Moh Tidjani Djauhari. Kelahiran beliau menyempurnakan suara genderang kemerdekaan bangsa Indonesia

Sejak kecil, Moh. Tidjani tumbuh berkembang di lingkungan pendidikan Islam yang sangat kental. Tentu ini tak lepas peran ayahnya, Kiai Djauhari, yang berobsesi agar keturunannya kelak memiliki pribadi muslim yang tangguh, serta memiliki mental kuat.

Tahun 1953, Moh. Tidjani menempuh pendidikan Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ulum Al-Washiliyah (MUA). Setelah itu, pada tahun 1958, Kiai Djauhari mengirim Moh. Tidjani, untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo Jawa Timur.

Karena, Kiai Djauhari cukup kagum dengan sistem dan pola pendidikan modern yang diterapkan di pondok yang kala itu dipimpin oleh KH. Imam Zarkasyi.Di Gontor, Moh. Tidjani memulai petualangan ilmu pengetahuannya. Beliau dikenal sebagai santri yang cerdas.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan, selama menempuh pendidikan di Gontor. Setamat dari KMI Gontor, Januari 1964, beliau melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) (sekarang ISID), sekaligus menjadi guru di KMI Gontor. Beliau juga dipercaya sebagai sekretaris pondok dan staf Tata Usaha PTD.

Beliau menjadi sekretaris pertama di pondok modern Gontor.Setelah mengabdi setahun di Gontor, tahun 1965, KH. Moh. Tidjani Djauhari melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah. Kesuksesan studinya di universitas ini, di antaranya, berkat usaha kakeknya, Syeikh Abdullah Mandurah.

Tahun 1969, beliau tamat belajar tingkat License dari Fakultas Syariah Jamiah Islam Madinah, dengan predikat mumtaz.Tak puas, tahun 1970, Kiai Tidjani melanjutkan studi magisternya di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah, hingga akhirnya lulus tahun 1973.

Selain aktivitas kampus, sejak 1967-1986, Kiai Tidjani juga aktif berkiprah dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Saudi Arabia. Pernah menjabat sebagai sekretaris, ketua, dan terakhir tercatat sebagai penasihat PPI.

Atas prestasi yang dicapainya itu, tahun 1974, M. Natsir merekomendasikan Kiai Tidjani KH Moh Tidjani Djauhari MA untuk diterima dan bekerja di Rabithah Alam Islami.

Sejak tahun itulah, beliau resmi berkarir di Rabithah Alam Islami, dengan jabatan pertama sebagai muharrir (editor) yang tugas mengurusi surat-menyurat yang datang dari berbagai penjuru dunia.Karir Kiai Tidjani di Rabithah melesat cepat.

Beberapa jabatan penting pernah direngkuhnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988).

Bulan Januari 1989, KH. Moh Tidjani Djauhari, MA, beserta keluarga tiba di Indonesia, setelah kurang lebih 23 tahun lamanya bermukin di Tanah Suci, Mekkah.

Kepulangannya di Bumi Jauhari, Al-Amien Prenduan, disambut gegap gempita. Beliau memaknainya sebagai babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan.

Misi Kiai Tidjani adalah merealisasikan dan menyempurnakan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, yang telah didirikan oleh ayahnya, Kiai Djauhari Chotib, tahun 1971, dan dikembangkan oleh adiknya, Kiai Idris, menjadi lembaga pendidikan Islam ala Gontor yang berkualitas, kompetitif, dan bertaraf internasional.

Kemudian, Kiai Tidjani bersama adiknya KH. Muhammad Idris Jauhari (almaghfurlah), mulai menjalankan aktivitas pengabdiannya di Al-Amien Prenduan. Beliau ditunjuk sebagai Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Di antara pengembangan dan penyempurnaan yang dilakukan oleh Kiai Tidjani dan kedua adiknya yakni pembangunan Masjid Jami’ Al Amien membuka Mahad Tahdhil Quran (MTA) (1991); mengembangkan status Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), dan mendirikan Pusat Studi Islam (Pusdilam) (2003).

Dalam kurun waktu 18 tahun (1989-2007), Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menjadi pondok yang representatif, disegani, dan berwibawa, sekaligus sebagai pondok tempat menyiapkan kader-kader pemimpin umat yang kompeten dan mumpuni.

Hingga September 2007, setiap tahunnya ribuan santri berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia dan negera-negara tetangga, belajar dan menempa diri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Di usia 62 tahun, pada hari Kamis dini hari 27 September 2007, sekitar pukul 02.00 WIB, KH. Moh. Tidjani Djauhari wafat, setelah berjuang melawan penyakit jantungnya.

Namun, perjuangannya tidak akan selesai sampai di sini. Beliau telah mempersiapkan kader-kader terbaiknya, untuk meneruskan perjuangan beliau, membangun Al-Amien Prenduan, untuk mencetak kader pemimpin umat.*

Sumber: warkat.al-amien.ac