Puisi Puisi Muhammad Tajuddin

Muhammad Tajuddin

Rindu Pecah di Batu-Batu

Jejak siapakah di tengah sawah?
Langkah sudah sampai di entah
Ada gumpalan rindu terantuk batu
Ada sisa harapan menagih untuk ditafsirkan
lewat sesosok bayangan
yang berkelebat di kehijauan labirin
Ada lambai tak sampai
Ada sepi membentur teka-teki
Rindupun pecah di batu-batu

Langkahmu yang sederhana mengalirkan ribuan puisi
sederas hujan januari
Rinduku yang pecah di batu-batu
diam-diam berombak lagi
di lipatan-lipatan sunyi

Seperti tereja kembali tatapan indah si anggun di bawah pohon
lewat deklarasi cinta yang berembun

10012023

Dicari Manusia
 : satir getir untuk penculik

Ada manusia yang tetap manusia
Ada manusia yang tersisa setengah manusia
Ada manusia yang mungkin bosan jadi manusia

Saat uang menjadi ketuhanan yang maha esa
Pasti kemanusiaan tak adil dan biadab

Saat manusia menculik manusia dan memasarkan di pasar-pasar gelap
dengan harga-harga grosir
berhentilah ia sebagai manusia

Organ-organ tubuh mereka diecer dan diobral dengan uang recehan
Aku berpikir dan membenturkan tanya ke tembok kewarasan :
“apakah zaman ini lebih jahiliah daripada zaman jahiliahnya abu jahal?”
“apakah zaman ini lebih kelam dari kekejaman hitler?”
“apakah sumanto beranak pinak?”
Aku dihantui ribuan pertanyaan kemanusian yang cidera.
Aku merindukan si filosof plato yang membawa obor di tengah-tengah pasar di siang bolong :
mencari manusia

Aku berteriak :
“Culiklah aku”
“Tapj jangan imanku”

Dicari, siapakah yang masih bernama manusia ?

28012023

Sebait Do’a Seorang Penyair

Tuhan
jadikan aku penyair yang Kau kecualikan
Amin

30012023