Busana Sholat Subuh
Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (5)

Wina Armada Sukardi

Oleh Wina Armada Sukardi

“Pakian sholat subuh kok kayak mau ke pesta,” kata isteri saya, suatu ketika saat beberapa tahun silam saya mau sholat subuh di mesjid. Saya cuma tersenyum saja.

Memang setiap saya sholat subuh ke mesjid, saya upayakan mengenakan busana yang serasi. Apapun macam dan corak pakian yang saya kenakan, sedapat mungkin saya upayakan tetap serasi. Mau memakai gamis, sarung, celana sarung, pakian “Pakistan,” baju koko, sampai jas, saya upayakan selalu serasi.

Kombinasi warna dipadu sedemikian rupa, sehingga relatif cocok. Mungkin hitam-hitam. Sarung atau celana sarung hitam dan pakian atas dengan atau tanpa kerah berwarna hitam. Peci hitam. Waktu era sisa covid-19 masih ada, masker pun hitam. Itu kalau serba hitam. Tapi bisa juga dikombinasikan dengan warna-warna lain yang matching.

Mungkin saja sebaliknya warna serba putih, termasuk kopiah atau tutup kembali putih. Dapat juga  atasan  putih yang dapat dikombinasikan dengar warna apapun.

Terkadang saya memakai selendang dengan berbagai ukuran panjang lebar serta pilihan aneka warna. Dalam
hal ini termasuk yang “tradisional” dari berbagai daerah di Indonesia.

Ingat, serasi tak berarti mewah, walaupun dapat pula memang ada yang mewah.

Kenapa sholat subuh perlu memakai busana yang serasi? Bukankah Allah tidak membutuhkan pakaian yang serasi seperti itu? Cukuplah bagi Allah keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya.

Ya, memang Allah tidak membutuhkan busana yang serasi seperti yang saya pilih. Allah tidak memerlukan apapun dari kita, apalagi sekedar memakai busana yang serasi. Betul itu, tapi perlu diingat justeru kitalah yang memerlukannya. Kita yang membutuhkannya.

Memakai busana yang rapi dan terutama serasi, merupakan salah satu wujud pribadi ikut menghormati Allah. Menjujung tinggi Allah. Busana serasi adalah cermin diri ingin memberikan yang terbaik buat Allah. Kita mau
mempersembahkan keserasian sebagai wujud simbol kita menempatkan Allah benar-benar di tempat yang paling tinggi. Paling terhormat. Ketemu tokoh penting  di dunia saja, kita memilih busana yang pantas, apalagi menghadapi kepada Allah di subuh hari.

Bila sepanjang kita telah melaksanakan kewajibannya dan menghindari dari larangan Allah, barangkali sudah cukup. Allah tidak pernah menuntut lebih dari kita. Namun sebaliknya kita sebagai umat-Nya, sebagai hamba-Nya, secara psikologis membutuhkan  rasa ingin mengabdi. Rasa ingin memberikan. The best best, yang terbaik. Bukan yang asal-asalan. Membutuhkan bukti nyata.

Berpakian yang serasi ketika sholat subuh di mesjid menjadi bagian dari itu. Setidaknya buat saya pribadi. Sebagai hamba-Nya yang penuh kekurangan dan kelemahan, kita senantiasa ingin memperlihatkan dan memberikan yang terbaik kepada Alllah, dalam segala hal, termasuk dalam busana. Kitalah yang membutuhkan itu. Bukan Allah, sebab Allah sudah Maha Sempurna. Sedangkan kita hanyalah mahkluk yang papa yang memerluka wujud pembuktian ikhwal kecintaan kepada Allah.

Kendati tidak ada larangan, kita tidak ingin menghadap Allah Sesembahan Segala Manusia dengan pakaian ala kadarnya, apalagi yang lusuh dan compang camping. Betapa tidak tahu diri dan tidak tahu malunya kita, saat menghadap tokoh manusia, kita memakai pakaian yang baik, bahkan mungkin juga  terbaik, sementara sebaliknya menghadap Allah kita berpenampilan sesuka kita.

Penampilan diri dengan busana yang serasi ketika sholat subuh juga menambah rasa percaya diri kita. Dengan penampilan seperti itu kita yakin dan percaya sudah berupaya memberikan lahir batin yang terbaik dari diri kita kepada Allah.

Tabik.*

(Bersambung)

Penulis adalah wartawan dan advokat senior, juga anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase pribadi yang tidak mewakili organisasi.