Penjahit di Bahrain Capai Puncak Kesibukan Menjelang Lebaran

Penjahit menjahit pakaian tradisional perempuan Arab “Jalabia” untuk memenuhi tingginya permintaan pelanggan menjelang Idulfitri, di toko The Blueberry Abayat, di Manama, Bahrain, 11 April 2023. (Foto: REUTERS/Hamad I Mohammed)

J5NEWSROOM.COM, Bahrain – Permintaan busana laki-laki yang disebut thobe, serta busana perempuan jalabia dan abaya membubung menjelang berakhirnya Ramadan, sementara orang-orang bersiap untuk mengenakan busana terbaik mereka sewaktu merayakan Lebaran.

Pada hari-hari menjelang Lebaran, banyak orang yang masih berusaha memillki baju baru. Di Ibu Kota Bahrain, Manama, misalnya, ramai sekali orang yang mencari kain untuk dijahit menjadi aneka busana tradisional: thobe untuk kaum lelaki dan jalabia serta abaya untuk perempuan.

Thobe atau tsaub adalah baju semacam gamis, biasanya berwarna putih jika dikenakan pada musim panas dan berwarna lebih gelap pada musim dingin. Baju ini biasanya memiliki tiga saku, yakni satu di depan, dan masing-masing satu di sisi kiri dan kanan. Abaya adalah busana yang biasanya berwarna hitam dengan potongan longgar. Jalabia mirip dengan abaya, tetapi bentuknya tak selebar abaya.

Para pengunjung berharap mereka dapat mengenakan baju-baju baru itu sewaktu merayakan Lebaran. “Sekarang bulan Ramadan dan pada waktu ini bisnis sangat bagus, bisnis melonjak seiring tingginya permintaan masyarakat untuk baju Lebaran,” ujar Mohammed Aseeb, seorang penjahit baju lelaki.

Permintaan yang tinggi ini biasa terjadi menjelang perayaan Lebaran. Tentu saja permintaan yang tinggi berarti para karyawan harus bekerja ekstra keras.

“Kami harus kerja lembur juga. Orang-orang bekerja keras menjelang Idul Fitri. Kami menyelesaikan pekerjaan pada tengah malam, dan kadang-kadang menjelang Idul Fitri, kami harus terjaga hingga matahari terbit pada hari raya itu untuk mengirimkan baju ke para pelanggan dan menyelesaikan pesanan,” tutur seorang pemilik pabrik garmen, Imtiaz Ghulam Mohammed.

Pengalaman lain diungkapkan oleh Anand Parkis, juga pemilik pabrik garmen di Manama.

“Sekarang bisnis sangat baik pada bulan Ramadan. Kami menerima banyak pesanan. Kami bekerja mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 2 dini hari berikutnya. Tahun ini bisnis luar biasa bagus karena dua tahun terakhir, Corona benar-benar menghancurkan bisnis kami. Sekarang kami punya begitu banyak pekerjaan dan kami tidak henti-hentinya menghadapi pelanggan dan permintaan mereka,” paparnya.

Sudah menjadi tradisi setempat di negara-negara Teluk Arab, orang-orang biasanya mendapatkan thobe baru mereka selama bulan Ramadan.

Mohammed menambahkan bahwa jumlah pesanan thobe bisa mencapai ribuan untuk satu pabrik saja. “Khusus selama hari-hari Lebaran dan Ramadan, permintaan thobe meningkat dan kami bisa membuat antara 1.000 dan 2.000 pada akhir bulan Ramadan,” kata dia.

Seusai berpuasa Ramadan sebulan penuh, Muslim di seluruh dunia biasanya merayakan Lebaran dengan makan besar komplet dengan hidangan penutup khusus, pertemuan dengan keluarga dan acara-acara khusus lainnya. Pada saat bersilaturahmi inilah orang-orang biasanya ingin mengenakan baju terbaik mereka.

Sumber: voaindonesia.com
Editor: Saibansah