Menhan Austin Tegaskan Hamas Tak Berniat Serang Pasukan AS yang Bangun Dermaga di Gaza

Personel Angkatan Laut AS membangun JLOTS, yang merupakan singkatan dari dermaga sementara “Joint Logistics Over-the Shore” yang akan menyediakan sistem distribusi kapal-ke-pantai untuk membantu mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. (Foto: via Reuters)

J5NEWSROOM.COM – Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada Kamis (2/5) larut malam mengatakan ia tidak melihat tanda-tanda bahwa Hamas akan menyerang pasukan AS yang sedang membangun dermaga di lepas pantai Gaza. Dermaga itu akan digunakan dalam mengirim bantuan melalui laut ke wilayah yang dilanda perang itu.

“Saya tidak melihat ada indikasi sekarang ini bahwa di sana ada niat aktif untuk melakukan itu,” kata Austin kepada wartawan dalam konferensi pers di Hawaii.

Austin menekankan komandan tertinggi pasukan AS di Timur Tengah, Kepala CENTCOM Jenderal Erik Kurilla, telah memberlakukan beberapa langkah keamanan untuk membuat tentara yang membangun dermaga dan membantu distribusi bantuan tetap aman.

“Sekutu-sekutu kita juga memberikan keamanan di area itu, jadi kami terus berkoordinasi sangat erat dengan mereka untuk memastikan bahwa jika sesuatu terjadi, pasukan kita terlindungi,” kata Austin.

Pelabuhan baru itu berada di barat daya Kota Gaza. Pekan lalu, serangan mortir menargetkan pelabuhan itu tetapi para pejabat mengatakan tidak ada seorang pun yang terluka.

“Ini adalah kecelakaan, kecelakaan sangat serius yang menunggu untuk terjadi,” kata Bradley Bowman, direktur senior Center on Military and Political Power di Foundation for Defense of Democracies kepada VOA.

Bowman, yang juga seorang veteran Angkatan Darat AS, Kamis mengatakan bahwa berbagai upaya untuk memberi makan mereka yang sangat membutuhkannya “patut dipuji.” Tetapi, lanjutnya, kekhawatiran keamanan sejak misi AS dimulai tampaknya masih belum teratasi sementara beberapa rencana sedang dikembangkan.

“Jenis teroris, jenis orang – saya enggan menggunakan istilah itu – yang akan … melakukan serangan teror 7 Oktober, menggunakan perisai manusia dan menahan lelaki, perempuan dan anak-anak tak bersalah sebagai sandera, adalah orang-orang yang sama yang tidak akan ragu-ragu menyerang mereka yang berupaya mengirimkan makanan dan air untuk orang-orang yang kelaparan dan keharusan,” kata Bowman.

Para awak kapal USNS Roy P. Benavidez dan beberapa kapal Angkatan Darat AS mulai membangun dermaga terapung untuk operasi bantuan kemanusiaan pekan lalu, kata seorang pejabat militer senior. Tahap berikutnya adalah pembangunan lintasan, yang akan ditambatkan ke pantai oleh Pasukan Pertahanan Israel.

Para pejabat AS dan Israel mengatakan mereka berharap akan menyelesaikan pembangunan tersebut dan memulai pengoperasiannya pada bulan ini.

Pejabat militer senior itu memberitahu wartawan bahwa Pentagon memperkirakan pengiriman bantuan “akan dimulai dengan sekitar 90 truk per hari … dan kemudian meningkat cepat menjadi 150 truk per hari.”

Pengiriman bantuan ke Gaza melambat karena antrean panjang kendaraan di pos-pos pemeriksaan Israel.

AS dan negara-negara lain telah mengirim bantuan ke Gaza melalui udara, tetapi setiap pesawat militer hanya dapat membawa muatan sekitar 1-3 truk bahan makanan, kata seorang pejabat AS kepada VOA.

Berbagai organisasi bantuan mengatakan Gaza membutuhkan ratusan truk berisi bahan makanan setiap hari.

Israel menyerang Hamas di Gaza setelah serangan teror kelompok itu pada 7 Oktober lalu di Israel. Serangan tersebut menyebabkan 1.200 tewas dan ratusan lainnya disandera. Hampir tujuh bulan setelah serangan itu, lebih dari 34 ribu orang Palestina tewas di Gaza dalam serangkaian serangan balasan Israel lewat darat dan udara, menurut para pejabat kesehatan Gaza.

Sumber: voaindonesia.com
Editor: Agung