One Piece di HUT RI: Kritik Kemerdekaan Semu

Komunitas Muslimah Perindu Syurga, Widdiya Permata Sari. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Widdiya Permata Sari

BELAKANGAN ini, media sosial diramaikan dengan beredarnya video warga yang mengibarkan bendera One Piece menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.

Di berbagai platform seperti Instagram, X, hingga TikTok, banyak unggahan memperlihatkan bendera bajak laut dari anime ternama itu berkibar di sejumlah daerah di tanah air.

Dalam beberapa rekaman, bendera One Piece terlihat dipasang di truk, mobil pribadi, bahkan di halaman rumah warga. Menariknya, sebagian masyarakat juga memasangnya berdampingan dengan bendera Merah Putih. (detik.com, 1 Agustus 2025)

Sebagian pihak mengecam aksi ini sebagai pelecehan terhadap bendera Merah Putih. Namun, di sisi lain, banyak yang melihatnya sebagai jeritan hati rakyat yang kecewa pada kondisi negeri. Sebuah tanda bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pejuang belum benar-benar dirasakan rakyat banyak.

Kemerdekaan yang Belum Hakiki

Secara formal, bangsa ini merdeka. Namun, realitasnya masih jauh dari cita-cita. Rakyat hidup dalam cengkeraman kesulitan ekonomi, ketidakadilan hukum, serta dominasi asing dalam berbagai sektor.

Para pemimpin tampak sibuk berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan investasi. Namun rakyat di akar rumput tetap menghadapi harga kebutuhan pokok yang melambung, lapangan kerja yang sempit, dan beban hidup yang makin berat.

Bukankah ini bukti bahwa kemerdekaan yang diperingati setiap tahun hanyalah simbol, sementara substansinya belum pernah benar-benar kita rasakan?

Kapitalisme, Akar Masalah Negeri

Kegelisahan yang dilambangkan dengan bendera bajak laut itu sesungguhnya bersumber dari satu akar: sistem kapitalisme. Sistem ini menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya segelintir elit, bukan untuk menyejahterakan rakyat.

Kapitalisme melahirkan kesenjangan sosial yang makin tajam:

1. Sumber daya alam dikuasai korporasi, rakyat hanya menjadi penonton.
2. Pendidikan dan kesehatan semakin mahal, padahal seharusnya menjadi hak dasar.
3. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Sementara itu, para pejabat terus menikmati fasilitas dan kemewahan, seolah lupa bahwa amanah kepemimpinan adalah tanggung jawab besar di hadapan Allah.

Islam sebagai Solusi Nyata

Islam menawarkan sistem hidup yang paripurna, bukan sekadar aturan ibadah. Dalam Islam, kekuasaan bukan alat untuk menindas, melainkan amanah untuk melayani rakyat.

Ekonomi Islam menegakkan distribusi kekayaan melalui zakat, larangan riba, dan kepemilikan umum atas sumber daya alam.

Politik Islam memastikan pemimpin bertanggung jawab di hadapan Allah dan rakyat, bukan tunduk pada kepentingan oligarki atau asing.

Hukum Islam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, karena hukum Allah berlaku untuk semua, kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat biasa.

Dengan sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh, kemerdekaan sejati akan terwujud: rakyat merdeka dari kemiskinan, penindasan, dan dominasi asing.

Dari Simbol ke Perubahan Hakiki

Pengibaran bendera One Piece adalah sinyal: rakyat, khususnya generasi muda, mulai sadar bahwa ada yang salah dengan negeri ini. Namun, kesadaran saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan langkah perubahan yang mendasar.

Perubahan itu tidak akan datang dari perbaikan tambal sulam dalam sistem kapitalisme. Ia hanya akan lahir jika kita berani mengambil jalan yang ditunjukkan Allah dan Rasul-Nya: menjadikan Islam sebagai dasar dalam mengatur negeri ini.

Kemerdekaan sejati bukanlah sekadar merayakan upacara setiap 17 Agustus. Kemerdekaan sejati adalah saat seluruh rakyat hidup dalam keadilan, kesejahteraan, dan ketenteraman di bawah naungan hukum Allah.

Maka, bendera One Piece seharusnya bukan hanya dipandang sebagai simbol pemberontakan, tetapi alarm keras bahwa negeri ini membutuhkan perubahan mendasar. Dan perubahan itu hanya akan terwujud dengan kembali kepada Islam.

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).*

Penulis adalah Komunitas Muslimah Perindu Syurga Kota Batam