Letkol Surnadi Latih Peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Kesiapan Taktis dan Responsif

Letkol (Inf) Dr. Sunardi, saat memaparkan Tactical Floor Game kepada para peserta Diklat PPIH 2026, Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, (23/1/2026). (Foto: MCH PPIH 2026)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Kompleksitas penyelenggaraan ibadah haji menuntut kesiapan petugas yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga taktis, sigap, dan responsif dalam menghadapi dinamika di lapangan. Hal tersebut menjadi penekanan utama dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026.

Penegasan itu disampaikan perwira menengah Kopassus, Letkol (TNI) Dr. Surnadi, S.Sos., M.A. saat memberikan materi kepada peserta Diklat (Pendidikan dan Latihan) PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Surnadi menjelaskan, petugas haji kerap dihadapkan pada situasi yang cepat berubah sehingga memerlukan kemampuan membaca kondisi secara akurat dan mengambil keputusan secara tepat waktu. Untuk itu, setiap potensi persoalan perlu dipetakan sejak awal melalui mekanisme Tactical Floor Game (TFG).

Menurut dia, TFG tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi berfungsi sebagai instrumen pengendalian operasional dalam membaca situasi serta merumuskan langkah-langkah cepat di lapangan.

“TFG menjadi alat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dan menentukan tindakan yang bisa segera dilaksanakan,” ujarnya.

Ia memaparkan, pendekatan TFG diawali dengan pengumpulan data faktual, dilanjutkan dengan identifikasi risiko, serta penyusunan sejumlah alternatif solusi yang siap dieksekusi. Dalam penyelenggaraan haji, potensi risiko dapat muncul dari berbagai sektor, mulai dari pergerakan jemaah, transportasi, akomodasi, hingga layanan kesehatan.

“Tanpa mitigasi sejak dini, petugas akan selalu tertinggal dari perkembangan masalah,” kata Surnadi.

Selain mitigasi risiko, Surnadi menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan tugas PPIH Arab Saudi. Seluruh unsur petugas, kata dia, harus mampu bekerja dalam satu sistem komando yang terpadu.

“Di lapangan tidak ada ruang bagi ego sektoral. Fokus utama hanya satu, yaitu keselamatan dan kenyamanan jemaah,” ujarnya.

Dalam situasi darurat, petugas dituntut berani mengambil keputusan secara cepat, namun tetap berlandaskan pada data, aturan, dan kepentingan jemaah. Sikap ragu-ragu justru berpotensi memperburuk kondisi di lapangan.

“Keputusan harus cepat, tetapi tetap terukur dan bertanggung jawab,” katanya.

Lebih lanjut, Surnadi mengingatkan bahwa tugas sebagai petugas haji merupakan amanah negara yang menuntut disiplin tinggi, kesiapsiagaan penuh, serta profesionalisme. Menurutnya, peran PPIH tidak dapat dipandang sebagai aktivitas rutin maupun sarana ibadah personal semata.

“Petugas haji harus siap bekerja selama 24 jam. Ini adalah tugas negara yang memerlukan komitmen penuh,” tegasnya.

Ia menutup materinya dengan menegaskan bahwa lemahnya mitigasi risiko dan buruknya koordinasi akan berdampak langsung terhadap pelayanan jemaah. Oleh karena itu, pemahaman kondisi lapangan, kepatuhan terhadap sistem, serta kemampuan bekerja di bawah tekanan menjadi bekal utama bagi seluruh PPIH sebelum menjalankan tugas di Tanah Suci.

Editor: Saibansah Dardani