NPI Triwulan IV 2025 Surplus 6,1 Miliar Dollar AS, Ketahanan Eksternal Tetap Terjaga

Ilustrasi neraca. (Foto: BI)

J5NEWSROOM.COM – Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2025 menunjukkan perbaikan dan menopang ketahanan eksternal nasional. Perkembangan tersebut ditandai dengan surplus NPI sebesar 6,1 miliar dollar AS, ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial di tengah defisit transaksi berjalan yang tetap rendah.

Pada periode Oktober–Desember 2025, transaksi berjalan mencatat defisit 2,5 miliar dollar AS atau setara 0,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Capaian ini berbalik dari triwulan III 2025 yang membukukan surplus 4,0 miliar dollar AS (1,1 persen dari PDB).

Surplus neraca perdagangan nonmigas masih berlanjut, meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya seiring perlambatan ekonomi global dan kontraksi harga komoditas. Sebaliknya, defisit neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan penguatan aktivitas ekonomi domestik. Defisit neraca jasa juga melebar akibat menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara. Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat dipicu kenaikan pembayaran dividen pada akhir tahun. Adapun surplus neraca pendapatan sekunder naik, terutama karena peningkatan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial mencatat surplus 8,3 miliar dollar AS, berbalik dari defisit 8,0 miliar dollar AS pada triwulan III 2025. Surplus tersebut ditopang aliran masuk investasi langsung yang mencerminkan terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi Indonesia. Investasi portofolio turut mencatat surplus seiring imbal hasil yang tetap menarik, sementara investasi lainnya terdorong oleh penarikan pinjaman luar negeri.

Secara keseluruhan tahun 2025, NPI menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Transaksi berjalan sepanjang 2025 mencatat defisit terkendali sebesar 1,5 miliar dollar AS atau 0,1 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit 2024 sebesar 8,6 miliar dollar AS (0,6 persen dari PDB).

Perbaikan tersebut dipengaruhi peningkatan surplus neraca perdagangan barang, khususnya dari kinerja ekspor manufaktur, serta kenaikan surplus pendapatan sekunder akibat meningkatnya remitansi PMI. Namun, defisit neraca jasa dan pendapatan primer tercatat meningkat, masing-masing dipengaruhi kenaikan defisit jasa telekomunikasi serta pembayaran dividen.

Sementara itu, transaksi modal dan finansial sepanjang 2025 mencatat defisit 4,2 miliar dollar AS, didorong keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.

Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar 156,5 miliar dollar AS, meningkat dari 155,7 miliar dollar AS pada akhir 2024. Cadangan tersebut setara pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, Bank Indonesia menyatakan akan terus mencermati dinamika ekonomi global yang berpotensi memengaruhi prospek NPI, serta memperkuat bauran kebijakan bersama Pemerintah dan otoritas terkait. Pada 2026, kinerja NPI diprakirakan tetap solid dengan defisit transaksi berjalan dalam kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen dari PDB.