Hari Pertama Kaki Menjejak di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta

Para peserta Diklat PPIH 2026 saat menjalani latihan yel-yel kompi untuk membangun jiwa korsa dan kekompakan. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Begitu mobil Grab yang saya naiki masuk pintu gerbang Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 10 Januari 2026, para instruktur bercelana loreng, laki-perempuan, berdiri tegak di pinggir jalan, mengarahkan mobil kami. “Aya pak, bu, calon petugas PPIH, cepat bergeraknya, semangat!” Teriak mereka dengan suara ala tentara. Lalu, bagaimana selanjutnya? Berikut lanjutan catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, calon petugas PPIH Arab Saudi 2026, Saibansah Dardani.

Grab yang saya naiki berhenti di halaman parkir Asrama Haji Pondok Gede Jakarta yang luas. Dari situ, saya berjalan sambil menggeret koper penuh pakaian untuk stok 20 hari. Langkah saya kemudian dihentikan oleh seorang pria bercelana loreng. “Stop, tunggu di sini dulu, pak.” Saya promun berhenti di depan Gedung Utama. 

“Kita tunggu yang lain datang ya pak,” katanya lagi. 

Sementara, satu rombongan telah berbaris meninggalkan saya di belakang. Mereka berjalan beriringan, sambil menyeret koper mereka masing-masing. 

Satu per satu, calon petugas PPIH Arab Saudi, tiba. Mereka diarahkan untuk bergabung dengan saya, di belakang saya. 

“Baris dulu ya, pak.”

Setelah jumlah kami mencapai sekitar 10 orang, kami diperintahkan berbaris, sambil menyeret koper, menuju gedung-gedung tempat registrasi kami. Saya diminta untuk menjadi komandan dadakan. 

“Bapak yang pimpin barisan saya.” Mungkin karena saya yang datang lebih awal dari orang-orang di belakang saya. 

“Oke, siap.” 

“Majuuuuu, jalan!” Saya teriak memberi aba-aba, seperti saat waktu Pramuka dulu.

Masih kacau, pasti. Langkah kami tidak sama, tapi posisi barisan tetap terjaga. Sampai akhirnya saya sampai di gedung tempat saya registrasi ulang. Saya pun meninggalkan barisan. 

BACA JUGA: Kemenhaj RI Beri Laluan Wartawan Indonesia Jadi Petugas Haji

Tidak lama proses registrasi ulangnya. Saya hanya diminta mengisi daftar hadir, lalu menyerahkan berkas-berkas yang telah ditandatangani, lengkap dengan hasil Medical Check Up (MCU) termasuk paspor. Setelah itu, bergeser ke meja tes Bahasa Arab. 

Ada dua tes sebelum mendapatkan kamar barak. Yaitu, tes tulis Bahasa Arab dan tes lisan. Untungnya, sisa-sisa ilmu Bahasa Arab yang saya pelajari selama mondok di Pondok Pesantren TMI Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur masih belum hilang semua. 

Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM Saibansah Dardani bersama Ustadz Asep Ijudin Abdissalam, Pimpinan Pondok Pesantren Al Amien Bengkong Batam. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

“Mumtaz ya ustadz, mumtaz,” ujar penguji Bahasa Arab usai tes wawancara dengan saya. 

Rupanya, begitu setelah tes wawancara penguji bertanya, saya belajar Bahasa Arab di mana. Setelah saya kasih tahu, dia mengatakan. “Oh, iya, banyak teman saya alumni Pesantren Al Amien di Azhar (Mesir).”

“Alhamdulillah,” saya bersyukur menjadi alumni pondok pesantren yang diasuh Kyai Haji Idris Jauhari bersama dengan abang kandungnya, Kyai Haji Tidjani Jauhari dan adiknya Kyai Haji Makhtum Jauhari. Ketiganya alumni Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur. Bahkan, Kyai Haji Tidjani Jauhari dijadikan menantu oleh Pimpinan Pondok Gontor, Kyai Imam Zarkasyi, yang menikahkan dengan putri beliau, Nyai Anisyah Zarkasyi. 

“Ini kamar bapak di Gedung Utama,” ujar seorang petugas perempuan, lagi-lagi, bercelana loreng. Hampir di setiap gedung dan jalanan, yang nampak adalah instruktur dan fasilitator bercelana loreng. Ini benar-benar barak militer, bukan asrama haji. 

BACA JUGA: Diklat PPIH Semi Militer Itu Menyehatkan dan Menyenangkan

Lagi, saya geret koper menuju Gedung Utama, lokasinya dekat parkiran mobil. Tempat saya pertama dibariskan oleh fasilitator dan diminta memimpin barisan. 

Gedungnya bagus, ternyata salah satu gedung terbaru di antara bangunan Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Saya diberi kunci kamar bernomor 212. Maka, sah lah saya menjadi penghuni barak 212 Gedung Utama. Ternyata, barak saya ini adalah markas Kompi A yang kemudian dipanjangkan menjadi Kompi Aligator. Kereeeen. Saya menjadi anggota Kompi Aligator, buaya, semoga bukan buaya darat.

Alhamdulillah, di Kompi Aligator ini saya bertemu dengan sesama peserta Diklat asal Batam. Namanya, Ustadz Asep Ijudin Abdissalam, Pimpinan Pondok Pesantren Al Amien Bengkong Batam. Senang hati rasanya, bertemu dengan sesama petugas asal Batam. 

Di kompi ini, selama 20 hari, kami jalani program Diklat bersama-sama, makan antri bersama, apel tiap pagi, siang dan malam. Olah raga pagi juga bersama-sama, setelah menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid. Kami dididik ala militer, semua diberlakukan setara, tidak membedakan satu sama lain, semua ‘baju kebesaran’ saat di luar barak, dilepas diganti dengan satu identitas yang sama, peserta Diklat.

“Diklat ini dimaksudkan untuk menyiapkan para petugas haji yang tangguh dan siap melayani para jemaah hati dengan sepenuh hati,” ujar Ustadz Asep kepada J5NEWSROOM.COM.

Dari hasil pendidikan dan pelatihan selama 20 hari ini, lanjut Ustadz Asep, saya sangat merasakan sekali manfaatnya, pertama masuk Diklat ini berat badan saya 75 kg, sekarang sudah hampir mendekati 60 kg, luar biasa turunnya. 

“Dari segi kesehatan sangat terasa sekali manfaatnya. Kesehatan saya meningkat. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita semua peserta Diklat siap secara fisik dan mental melayani para dhuyufurrahman di Arab Saudi nanti,” papar ustadz muda Batam itu lagi. *

Editor: Saibansah Dardani