
J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Sabtu, 10 Januari 2026, ba’da sholat ashar, 1.636 orang calon Petugas PPIH Arab Saudi 2026 mulai merapikan koper dan keperluan sehari-hari mereka di kamar masing-masing barak. Belum ada kegiatan resmi. Hanya sholat ashar dan maghrib berjamaah di Masjid Al-Mabrur. Lalu, lanjut makan malam ala militer, anteri mengular, rapi dan bersih. Tidak boleh ada sebutir nasi pun yang tersisa di atas meja makan. Harus bersih. Piring, sendok dan garpu diletakkan di tempat yang telah disediakan.
Bagaimana malam pertama mereka di barak? Berikut lanjutan catatan Pemimpin Redaksi J5NEWSROOM.COM, calon petugas PPIH Arab Saudi 2026, Saibansah Dardani yang telah melalui seluruh proses rangkaian seleksi, Diklat 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, hingga pengukuhan oleh Menhaj RI, Muchammad Irfan Yusuf di Lapangan Galaxi Makodau (Markas Komando Angkatan Udara) I Halim Perdana Kusuma Jakarta, Jumat 30 Januari 2026 lalu.
Usai sholat Isya’ para instruktur di masing-masing kompi memerintahkan semua peserta Diklat Calon Petugas PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026 bergerak ke Gedung SG (Serba Guna) 2 Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Ruangannya luas dan atapnya tinggi, berwarna putih. Cukup menampung 1.636 orang yang baru datang dari seluruh Indonesia.
Tidak ada yang saya kenal. Saya yang berasal dari Batam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), malam itu tidak tahu berapa orang calon Petugas PPIH Arab Saudi 2026 yang berasal dari Provinsi Kepri. Hanya ada satu wartawan dari Semarang yang saya kenal namanya saja, tapi belum pernah jumpa. Agus Toto Widyatmoko, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka. Wartawan senior pengurus PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Provinsi Jawa Tengah. Kami sudah tik-tok an via WA. Saya mendapatkan kontak pria berkacamata yang akrab disapa Mas Totok itu dari Ketua PWI Provinsi Jateng Setiawan HK. Saya memanggilnya Mas Iwan.
BACA JUGA: Hari Pertama Kaki Menjejak di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta
Kebetulan, Iwan juga pernah menjadi Petugas PPIH Arab Saudi tahun 2024 di Daker (Daerah Kerja) Madinah. Jadi, sebagai sesama Ketua PWI Provinsi, Iwan banyak memberi saya informasi seputar kegiatan dan persiapan menjadi Petugas PPIH Arab Saudi. Termasuk, memberi saya kontak Mas Totok.
Malam pertama, kami semua dikumpulkan di Hall Gedung SG-2, pakai baju putih, celana hitam, dasi hitam plus peci hitam. Sedangkan bagi peserta Diklat wanita memakai jilbab hitam. Sejak mulai dari barak, para instruktur sudah membariskan kami semua, tidak boleh jalan sendiri-sendiri kayak di mall. Setiap pergeseran dari satu titik ke titik lain, tidak boleh sendiri-sendiri, minimal 5 orang, dan berbaris. Pokoknya, tiada hari tanpa baris berbaris. Itu dimulai dari hari pertama kami di barak.
“Semua duduk di kursi yang telah di sediakan, sesuai dengan kompi masing-masing,” teriak seorang instruktur, tegas dan lantang. Semua instruktur tone suaranya sama seperti itu, baik laki maupun perempuan. Tegas.

“Yang bergerak kakinya, bukan mulutnya.” Terdengar suara lagi. Saya belum mengenal satu persatu para instruktur malam itu. Jumlah mereka ada 70 orang. Mereka berasal dari berbagai satuan TNI dan Polri.
Mereka pun baru juga selesai menjalani Training of Trainer (ToT) Fasilitator Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M yang ditutup oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, Kamis, 8 Januari 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.
Setelah semua peserta Diklat sudah duduk rapi. Barulah kami diberi tahu, agenda malam pertama ini adalah gladi kotor dan gladi bersih Pembukaan Diklat Petugas PPIH Arab Saudi 2026.
BACA JUGA: Diklat PPIH Semi Militer Itu Menyehatkan dan Menyenangkan
Sebelum itu, kami diajarkan tepuk tangan ala militer.
“Ini ada seribu enam ratus orang, tapi suaranya kok masih seperti hanya tepuk tangan tiga ratus orang.”
Tangan sampai terasa kebas. Tapi dengan motivasi para instruktur yang terus menerus, suara tepuk tangan malam itu terasa ‘menggetarkan’ aula Gedung SG-2.
Ini baru soal tepuk tangan. Lalu, cara duduk, juga dilatih ala militer. Punggung tegak, pandangan ke muka. Ada hormat dalam posisi duduk. Yaitu, kaki dihentakkan sekali ke lantai, serentak.
“Sebelum kita mulai gladi, mari kita belajar lagu ‘Gembira’ ya,” ujar seorang pegawai Kemenhaj (Kementerian Haji dan Umrah) RI bertubuh subur, namanya Aruji Maswatu.
Lalu, dia pun memberi contoh lagu ‘Gembira’ itu.
Gembiiiira
Gembiiiiira
Tugas itu gembira.
Gembiiiira
Gembiiiiira
PPIH itu gembiiiiira
Siaaaapa
Siaaaapa
Siapa yang mau bersusaaah
Susah itu adalah
Bagi jiwa yang lemah
Gembiraa
Gembiralaaah
Tidak pakai lama, lagu yang mudah dihafal dan enak dinyanyikan beramai-ramai itu pun menjadi lagu yang setiap hari kami nyanyikan. Dan Aruji Maswatu pun melekat di benak kami sebagai ‘Bapak Gembira’. Apalagi, Aruji memang orangnya ramah dan murah senyum. Jadi, paslah kalau kami gelari, ‘Bapak Gembira’.
Lagu gembira sudah kami hafal, tepuk tangan ala militer sudah, hormat dalam posisi duduk pun sudah kami rasa nyaris sempurna. Kini, masuklah sesi gladi kotor dan gladi bersih Pembukaan Diklat Petugas PPIH Arab Saudi 2026.
Semua proses kegiatan malam itu dipantau langsung Irjen Kemenhaj RI Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, S.H., M.H. Hadir juga Komandan Diklat Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah RI, Puji Raharjo yang didampingi Wakil Komandan Diklat PPIH Arab Saudi 2026, Kolonel (Purn) Muftiono.
BACA JUGA: Kemenhaj RI Berbagi Berkah untuk Warga Indonesia
Kolonel (Purn) Muftiono kemudian menyampaikan rangkaian proses gladi. Mulai dari awal hingga akhir. Semuanya sama seperti acara resminya. Ada pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al Quran, sambutan, pembukaan resmi, hingga penutupan. Semuanya runut.
Malam itu, kami melakukan gladi hingga tiga kali. Lengkap, dari awal hingga akhir.
Irjen Kemenhaj RI Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi memaparkan satu persatu kekurangan dari setiap gladi. Detil. Pokoknya, tidak boleh ada yang kurang dari dalam gladi malam itu. Sayangnya, yang selalu menjadi ‘gangguan’ adalah operator layar monitor yang kurang sinkron dan suara mike yang agak menggema.
“Saya kasih pilihan, kita istirahat sekarang, lalu nanti jam 1 malam kami bangunkan, terus gladi lagi, atau kita teruskan sekarang?” kata Dendi Suryadi memberi kami pilihan. Jam digital di tangan saya sudah memunculkan angka 11 malam.
“Lanjuuuuuuuttttt.” Teriak 1.636 orang di aula Gedung SG-2.*
Editor: Agung
