Setelah Saling Gertak, Israel Duluan Serang Iran

Ilustrasi tentara Israel serang Iran. (Foto: AI)

Oleh Rosadi Jamani

Akhirnya meledak juga drama yang dari kemarin cuma bunyi “nunggu tanggal main”. Setelah saling gertak macam budak TK rebutan ayunan, Israel tak tahan lagi dan langsung nyentak duluan Iran pagi Sabtu, 28 Februari 2026. Bahasa kerennya, preemptive strike. Bahasa warung kopinya, “kami hantam dulu sebelum kau sempat angkat sendok.”

“Baru juga pecah perang Pakistan vs Afghanistan, eh pecah lagi perang Israel vs Iran. Gimana tu, Bang.”

“Mungkin mereka memang hobi perang, wak. Di balik perang ada bisnis.” Ups

Kita lanjutkan kisahnya. Perang dimulai Israel. Menteri Pertahananya, Israel Katz, dengan nada heroik ala trailer film kiamat, bilang, “The State of Israel has launched a preemptive strike against Iran to remove threats to the State of Israel.” Kedengarannya macam lagi selamatkan bumi dari meteor, padahal intinya satu, bereskan ancaman yang dituduh datang dari program nuklir dan rudal balistik Iran.

Ledakan pun berdentum di pusat Tehran. Kawasan downtown, Jomhouri Street, University Street, bahkan dekat kantor Ali Khamenei ikut disebut-sebut kena getahnya. Asap naik tebal, saksi mata bilang bunyinya macam petir disambar dua kali di kuping. Biar dramanya lengkap, pejabat Amerika konfirmasi, mereka ikut nimbrung. Katanya ada Northrop B-2 Spirit, Lockheed Martin F-35 Lightning II, plus rudal jarak jauh turun gelanggang. Lengkap paket premium, stealth tech, electronic warfare, cyber attack, decoy, ibarat pesta kembang api, cuma isinya racun.

Yang bikin orang geleng kepala, pertahanan udara Iran yang selama ini dielu-elukan, S-300, S-400, dan Bavar-373, hari itu seperti ambil cuti bersama. Lolos mulus! Kenapa? Karena sejak perang besar Juni 2025 yang disebut “12-day war”, banyak radar dan baterai rudal mereka sudah jadi puing akibat serangan sebelumnya dan dugaan sabotase Mossad yang kerjaannya macam hantu, masuk tak ketahuan, keluar tinggal reruntuhan. Iran memang lagi rebuild, tapi celahnya masih selebar pintu garasi. Israel masuk tanpa banyak hambatan.

Kata sumber lokal, Khamenei langsung dievakuasi ke lokasi aman. Maklumlah, kalau kantor sendiri sudah bergetar, tak mungkin duduk santai minum teh.

Tapi Israel pun bukan santai-santai amat. Sirine meraung di seluruh negeri, wilayah udara ditutup, warga disuruh merapat ke shelter. State of emergency diumumkan. Mereka bersiap kalau-kalau Iran balas dengan ratusan drone dan rudal balistik. Sistem pertahanan seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow disiagakan full power—macam satpam komplek yang tahu maling bakal datang bawa golok.

Iran? Sampai laporan ini beredar, belum ada respons militer konkret. Media negara mereka cuma bilang “ada ledakan di pusat kota”, tanpa rincian korban atau kerusakan. Belum ada rudal beterbangan ke arah Tel Aviv, belum ada drone yang bikin langit berisik. Mungkin lagi hitung-hitungan, balas bagaimana biar tetap terlihat garang tapi tak bunuh diri politik.

Soal korban? Nihil informasi resmi. Dua-duanya kompak irit bicara. Belum ada angka korban jiwa yang terverifikasi. Bisa jadi karena targetnya instalasi militer dan strategis, bukan pasar atau mal. Atau bisa juga karena masing-masing masih menata narasi, jangan sampai lawan kebagian panggung propaganda duluan.

Intinya, dunia lagi nonton film action-thriller tanpa tiket. Israel mulai duluan, Iran mikir balas, Amerika ikut di belakang layar, dan kita di sini cuma bisa scroll berita sambil berharap harga minyak tak melonjak setinggi roket. Setelah berminggu-minggu cuma gertak sambal, eh benar-benar pecah juga.

Ini baru bab pembuka. Kalau balas-balasan jadi, bisa panjang ceritanya. Dunia menahan napas, Timur Tengah kembali jadi panggung drama paling mahal di muka bumi. Semoga cepat reda sebelum api kecil berubah jadi kobaran yang tak bisa dipadamkan.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM