Pelukis Batam Haryanto Angkat Isu Kerusakan Hutan dalam Pameran Tunggal

Pelukis Batam, Haryanto, SSR di depan salah satu karyanya. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Batam – Pelukis Batam, Haryanto, SSR, kembali menghadirkan karya-karya yang menggugah kesadaran publik. Setelah kerap tampil dalam berbagai pameran bersama seniman dari Singapura, Malaysia, dan Indonesia, kali ini ia menggelar pameran tunggal yang mengangkat tema kerusakan hutan dan dampak bencana alam.

Haryanto mengaku tergerak setelah mencermati berbagai pemberitaan media mengenai bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, seperti banjir dan longsor. Menurutnya, bencana tersebut tak lepas dari persoalan penebangan hutan liar dan eksploitasi alam yang dilakukan secara serakah demi keuntungan sesaat.

“Sebagai pelukis, saya mencoba menerjemahkan kegelisahan itu ke dalam ide-ide visual lewat lukisan. Saya ingin menghadirkan refleksi, baik tentang dampak bencana maupun pertanyaan siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini,” ujarnya.

Dalam pameran tunggal tersebut, Haryanto mengusung perpaduan teknik realis dan naif dekoratif. Teknik realis dipilih untuk menghadirkan visual yang mendekati kenyataan, sehingga pesan yang disampaikan terasa kuat dan nyata. Sementara pendekatan naif dekoratif digunakan sebagai simbol kejujuran, ketulusan, serta kepolosan dalam memandang alam.

“Naif dekoratif itu lebih berbicara apa adanya, seperti cara pandang anak-anak yang tulus terhadap alam. Sedangkan realis memberi kekuatan pada visual yang sesungguhnya,” katanya.

Pesan utama yang ingin disampaikan melalui karya-karyanya adalah pentingnya kesadaran kolektif untuk melindungi hutan dari keserakahan manusia. Ia menilai, eksploitasi alam tanpa pertimbangan keberlanjutan hanya akan mewariskan kerusakan bagi generasi mendatang.

Menariknya, pameran ini tidak sekadar menjadi ruang apresiasi seni. Sebagian transaksi penjualan lukisan didedikasikan untuk penggalangan dana bagi korban bencana alam di Sumatra. Haryanto membuka peluang bagi pihak-pihak yang ingin berkolaborasi dalam kegiatan serupa ke depan.

Bila pada umumnya pameran lukisan menggunakan latar polos, Haryanto justru menghadirkan latar visual berupa gambaran hutan yang tenteram, damai, dan teduh. Latar tersebut menjadi simbol harmoni alam yang seharusnya dijaga serta menyatukan konsep besar pameran yang diusungnya.

Melalui goresan kuasnya, Haryanto berharap seni tak hanya menjadi medium estetika, tetapi juga ruang kontemplasi dan pengingat akan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan.

Editor: Agung